Gunungan Sampah Bisa Jadi Energi? BRIN Uji Gasifikasi Berbasis AI

Gunungan Sampah Bisa Jadi Energi? BRIN Uji Gasifikasi Berbasis AI. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (8/10/2026) — Sampah rumah tangga yang selama ini berakhir di TPA bisa memiliki nasib berbeda: dipilah dengan bantuan AI, diproses menjadi gas, lalu dimanfaatkan sebagai sumber energi. BRIN tengah mengembangkan teknologi gasifikasi sampah yang dilengkapi sistem pemilahan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan penangkap karbon.
Bayangkan satu truk sampah datang ke fasilitas pengolahan. Isinya bukan lagi sekadar “sampah”, melainkan campuran material yang harus dikenali, dipilah, dikeringkan, dan diproses sesuai karakteristiknya.
Di titik inilah AI masuk.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem pemilahan sampah otomatis berbasis AI untuk mendukung teknologi gasifikasi. Pengembangan sistem tersebut telah menyelesaikan fase pertama dan akan dilanjutkan ke fase berikutnya di Parepare, Sulawesi Selatan.
Pertanyaannya: apakah teknologi ini bisa menjadi jawaban bagi kota-kota Indonesia yang semakin terdesak persoalan sampah?
Bukan Sekadar Membakar Sampah
BRIN mengembangkan gasifikasi terkontrol untuk mengolah biomassa dan sampah padat, termasuk Refuse Derived Fuel (RDF), menjadi syngas yang mengandung hidrogen, karbon monoksida, dan metana.
Berbeda dari pembakaran sampah biasa, gasifikasi berlangsung dalam kondisi oksigen terbatas untuk menghasilkan gas yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
BRIN menyebut, pada skenario fasilitas berkapasitas 150 ton sampah per hari, teknologi tersebut berpotensi mengurangi pelepasan metana dan CO₂ dari timbunan sampah hingga 90 persen. Angka ini merupakan potensi yang disampaikan BRIN untuk skenario teknologinya, bukan hasil pengurangan emisi yang sudah terbukti pada operasi komersial berskala kota.
Di sinilah nilai tambah teknologi tersebut muncul: sampah tidak hanya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi diupayakan menjadi bahan baku energi sekaligus mengurangi emisi dari timbunan.
Masalahnya: Sampah Indonesia Tidak Seragam
Teknologi secanggih apa pun akan kesulitan jika bahan bakunya tidak konsisten.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dari 278 kabupaten/kota yang memasukkan data pada 2025 mencatat timbulan sampah sekitar 29,2 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, baru 32,9 persen yang tercatat terkelola, sedangkan 67,1 persen atau sekitar 19,6 juta ton masih tidak terkelola.
Masalahnya bukan kekurangan sampah.
Justru sebaliknya: Indonesia memiliki terlalu banyak sampah, tetapi belum semuanya memiliki karakter yang cocok untuk langsung dijadikan bahan bakar.
Sampah rumah tangga bercampur antara sisa makanan, plastik, kertas, logam, kaca, hingga material basah. Kadar air yang tinggi dapat menurunkan kualitas bahan bakar dan membuat proses pengolahan termal menjadi lebih rumit.
Karena itu, pemilahan menjadi mata rantai penting sebelum sampah masuk ke fasilitas pengolahan.
Ketika AI Menjadi “Mata” Pengelolaan Sampah
AI dalam sistem BRIN bukanlah teknologi yang secara ajaib mengubah sampah menjadi listrik.
Perannya justru berada di tahap awal: mengenali dan memilah material agar bahan baku yang masuk ke proses pengolahan lebih sesuai.
Gagasan serupa juga mulai berkembang di lingkungan riset Indonesia. Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya, mengembangkan Smart Waste Bin berbasis AI yang dapat mengenali kategori sampah, memperkirakan berat, memetakan lokasi, hingga menghitung jejak karbon. Sistem tersebut saat ini mengenali tiga kategori—organik, anorganik, dan residu—dan sedang dikembangkan untuk klasifikasi yang lebih luas.
Artinya, masa depan pengelolaan sampah mungkin tidak hanya bergantung pada mesin pengolah.
Data juga menjadi bahan bakar penting.
Semakin akurat sistem mengetahui jenis dan volume sampah, semakin mudah menentukan bagaimana sampah tersebut seharusnya diproses.
Sampah, Metana, dan Ancaman yang Tak Terlihat
Ada alasan lain mengapa pengolahan sampah menjadi energi mendapat perhatian: TPA bukan hanya persoalan pemandangan atau kapasitas lahan.
Sampah organik yang menumpuk dan terurai tanpa kondisi yang tepat dapat menghasilkan metana, sementara pembakaran yang tidak terkendali dapat menghasilkan polutan berbahaya.
BRIN menempatkan pengurangan emisi sebagai salah satu alasan pengembangan gasifikasi terkontrol.
Karena itu, keberhasilan teknologi waste-to-energy seharusnya tidak hanya dihitung dari berapa megawatt listrik yang dihasilkan.
Pertanyaan yang sama pentingnya adalah:
Berapa banyak sampah yang berhasil dialihkan dari TPA? Berapa banyak emisi yang dapat dicegah? Dan apakah material yang masih bernilai tetap bisa diselamatkan sebelum masuk proses termal?
Bisa Diterapkan di Semua Kota?
Belum tentu.
Teknologi BRIN masih berada dalam tahap pengembangan dan perlu melewati pembuktian di lapangan sebelum dapat dinilai sebagai solusi yang siap diterapkan secara luas. Tahap lanjutan pemilahan berbasis AI di Parepare akan menjadi salah satu bagian penting dari proses tersebut.
Setiap kota juga memiliki karakter sampah, infrastruktur, biaya pengangkutan, kapasitas TPA, serta sistem pemilahan yang berbeda.
Pemerintah juga mendorong pengolahan sampah menjadi energi terbarukan melalui Perpres Nomor 109 Tahun 2025. Kebijakan ini mencakup pengolahan sampah menjadi listrik, bioenergi, bahan bakar minyak terbarukan, serta produk ikutan lainnya.
Ini berarti teknologi seperti gasifikasi harus ditempatkan dalam ekosistem yang lebih besar: pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, daur ulang, pengolahan organik, pemanfaatan RDF, hingga pengelolaan residu.
Namun, syngas mentah tidak serta-merta siap digunakan; gas tersebut perlu melalui tahap pembersihan dan pengondisian untuk memenuhi kebutuhan penggunaan akhirnya.
Dari “Sampah Jadi Energi” ke “Sampah Jadi Nilai”
Pada akhirnya, gagasan BRIN menarik bukan semata karena sampah bisa menghasilkan energi.
Yang lebih penting adalah perubahan cara melihat sampah.
Sampah dapat menjadi bahan baku energi, material daur ulang, sumber data, sekaligus objek pengurangan emisi—jika dikelola dengan sistem yang tepat.
Namun AI tidak bisa sendirian menyelesaikan krisis sampah.
AI dapat membantu mengenali dan memilah. Gasifikasi dapat mengolah fraksi yang sesuai. Teknologi penangkap karbon dapat menjadi bagian dari pengendalian emisi. Tetapi semuanya membutuhkan infrastruktur, biaya, standar keselamatan, operator, kebijakan, dan masyarakat yang konsisten memilah sampah dari sumbernya.
Jadi, pertanyaan terbesarnya bukan lagi “Bisakah sampah menjadi energi?”
Teknologinya sedang menuju ke sana.
Pertanyaan yang lebih menentukan adalah:
Bisakah Indonesia membangun sistem yang membuat sampah cukup terpilah, cukup konsisten, dan cukup ekonomis untuk benar-benar diubah menjadi energi?
Jawabannya akan ditentukan bukan di ruang laboratorium saja, tetapi ketika teknologi tersebut berhadapan dengan truk-truk sampah kota setiap hari.
(brin/task33/sipsn/ugm/ieabioenergy/jdihbpk/*/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
AI Indonesia Diburu, Listrik Jadi Tantangan Besarnya

















































