Thursday, October 8, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

El Niño 2026 Makin Ekstrem, Indonesia Dibayangi Kekeringan dan Tekanan Pangan

Mistar.idKamis, 8 Oktober 2026 pukul 19.11 WIB
el_nio_2026_makin_ekstrem_indonesia_dibayangi_kekeringan_dan_tekanan_pangan

El Niño 2026 Makin Ekstrem, Indonesia Dibayangi Kekeringan dan Tekanan Pangan. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (8/10/2026) — El Niño 2026–2027 terus menguat dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember. Jika prakiraan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) terealisasi, anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 bisa mencapai +3,7 derajat Celsius, berpotensi menjadi yang tertinggi sejak catatan observasi dimulai.

Bagi Indonesia, ancaman utamanya bukan kenaikan suhu udara hingga 3,7 derajat Celsius. Yang lebih mengkhawatirkan adalah musim hujan yang datang terlambat dan lebih pendek, kekeringan berkepanjangan, tekanan terhadap pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dengan El Niño diperkirakan bertahan hingga Februari 2027, dampaknya berpotensi dirasakan hingga awal tahun depan.

El Niño Diperkirakan Mencapai Puncak Desember 2026

WMO pada 8 Oktober 2026 menyatakan El Niño terus menguat dan diperkirakan bertahan hingga Februari 2027, dengan kondisi terkuat diproyeksikan terjadi sekitar Desember.

Anomali suhu permukaan laut Niño 3.4 diperkirakan mencapai sekitar +3,7°C pada Oktober–Desember 2026. Jika terealisasi, angka tersebut akan melampaui rekor sebelumnya, sekitar +2,6°C pada November 2015–Januari 2016.

Kondisi tersebut membuat El Niño kali ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak setidaknya 1950.

Meski demikian, istilah “Super-El Niño” yang banyak digunakan dalam pemberitaan bukan kategori resmi WMO. Istilah yang lebih tepat adalah El Niño dengan intensitas sangat kuat.

Hal penting lainnya, angka +3,7°C tidak berarti suhu udara Indonesia akan meningkat sebesar itu. Angka tersebut merujuk pada anomali suhu permukaan laut di kawasan Niño 3.4 di Pasifik tropis.

Dampaknya terhadap Indonesia lebih relevan dilihat dari perubahan pola hujan dan musim.

Musim Hujan Terlambat, Durasi Juga Lebih Pendek

BMKG memperingatkan kombinasi El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi mengurangi curah hujan di Indonesia.

Dari 529 Zona Musim (ZOM), yang mencakup sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia, awal musim hujan 2026/2027 diprediksi mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologis.

Sebagian besar wilayah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. Sebanyak 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan diprediksi memasuki musim hujan pada November, sedangkan 266 ZOM atau 17,31 persen diperkirakan baru mengalaminya pada Desember.

Masalahnya, bukan hanya hujan yang datang lebih lambat.

BMKG juga memperkirakan 482 ZOM atau 51,90 persen luas daratan Indonesia mengalami musim hujan yang lebih pendek dari normal.

Kombinasi keterlambatan awal musim hujan dan durasi yang lebih singkat dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah.

Kekeringan Sudah Terasa Sebelum El Niño Mencapai Puncak

Risiko kekeringan menjadi perhatian karena sebagian wilayah Indonesia sudah mengalami periode kering sebelum El Niño diperkirakan mencapai puncaknya.

Pada September 2026, BMKG mencatat 556 ZOM atau 61,91 persen luas daratan Indonesia sedang mengalami musim kemarau. Sejumlah wilayah bahkan mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari.

Kondisi tersebut dapat menekan debit sungai, waduk, embung, dan sumber air masyarakat, sementara kebutuhan air untuk rumah tangga, pertanian, serta kegiatan ekonomi tetap berjalan.

Namun, dampaknya tidak akan seragam di seluruh Indonesia.

Kondisi geografis, pola musim regional, karakteristik laut, ketersediaan irigasi, dan faktor cuaca lokal ikut menentukan tingkat kekeringan. Karena itu, prakiraan BMKG berdasarkan wilayah jauh lebih penting bagi masyarakat dibandingkan hanya melihat satu angka indeks El Niño.

Pertanian dan Pangan Jadi Titik Rawan

Tekanan terhadap ketersediaan air secara langsung meningkatkan kerentanan sektor pertanian.

Data Kementerian Pertanian per 24 Juli 2026 mencatat luas pertanaman padi yang terdampak kekeringan selama Januari–Juli mencapai 44.694 hektare, dengan sekitar 12.304 hektare mengalami gagal panen.

Angka tersebut menunjukkan dampak kekeringan terhadap pertanian sudah terjadi sebelum El Niño mencapai puncaknya. Namun, tidak tepat mengaitkan seluruh kerusakan tersebut hanya dengan El Niño karena kondisi pertanian juga dipengaruhi irigasi, waktu tanam, kondisi tanah, dan cuaca lokal.

El Niño kuat pun tidak otomatis berarti Indonesia akan mengalami krisis pangan.

Produksi nasional, cadangan air, sistem irigasi, kalender tanam, distribusi pangan, dan kemampuan petani beradaptasi akan menentukan seberapa besar dampaknya.

Kementerian Pertanian menyatakan produksi beras nasional masih berada pada jalur positif dan mengutip proyeksi FAO bahwa produksi beras Indonesia pada musim 2026/2027 dapat mencapai sekitar 38,6 juta ton.

Karena itu, risiko yang perlu diperhatikan bukan hanya gagal panen. Pergeseran kalender tanam, penurunan produktivitas, kenaikan biaya produksi, serta tekanan harga pangan di wilayah tertentu juga patut diantisipasi.

Lahan Makin Kering, Risiko Karhutla Meningkat

Kondisi yang lebih kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah yang secara geografis dan historis rentan.

Ketika vegetasi dan lahan mengering, api lebih mudah berkembang. Jika kebakaran meluas, dampaknya dapat merembet ke kualitas udara, aktivitas masyarakat, transportasi, kesehatan, hingga perekonomian daerah.

Namun, kekeringan bukan satu-satunya penyebab karhutla. Kebakaran juga membutuhkan sumber api dan dipengaruhi kondisi vegetasi, tata guna lahan, serta aktivitas manusia.

Karena itu, El Niño lebih tepat dipandang sebagai faktor yang memperkuat risiko, bukan penyebab tunggal bencana.

Rantai risikonya sederhana:

El Niño → perubahan pola hujan → kekeringan → tekanan terhadap air dan pertanian.

Sementara kondisi lahan yang semakin kering dapat meningkatkan potensi karhutla → gangguan kualitas udara → gangguan aktivitas masyarakat.

Seberapa Besar Dampaknya? Kuncinya Ada pada Kesiapan

Besarnya El Niño di Pasifik memang menjadi perhatian. Namun, kekuatan fenomena tersebut tidak otomatis menentukan seberapa besar dampaknya di setiap wilayah Indonesia.

Indonesia tidak akan mengalami kondisi yang seragam.

Karena itu, angka +3,7°C perlu dibaca bersama prakiraan regional BMKG mengenai awal musim hujan, curah hujan, durasi musim hujan, serta perkembangan kekeringan.

Di sinilah kesiapan mitigasi menjadi faktor penting.

Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah, antara lain optimalisasi sumber air, embung, pompanisasi, jaringan irigasi, penyesuaian waktu tanam, pemetaan wilayah rawan kekeringan, serta sistem peringatan dini.

BMKG juga merekomendasikan langkah antisipatif di sektor pangan, termasuk penyesuaian jadwal tanam dan penggunaan varietas dengan siklus tanam lebih pendek.

Artinya, tantangan Indonesia bukan sekadar menghadapi El Niño yang ekstrem, tetapi mencegah kondisi ekstrem tersebut berubah menjadi krisis di tingkat masyarakat.

Indikator yang Perlu Dipantau Masyarakat

Masyarakat tidak perlu memahami seluruh istilah meteorologi untuk mengikuti perkembangan El Niño. Beberapa indikator yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari justru penting diperhatikan:

- Awal musim hujan: kapan hujan mulai turun secara konsisten di wilayah masing-masing.

- Ketersediaan air: kondisi sungai, waduk, embung, sumur, dan sumber air masyarakat.

- Pertanian: luas lahan terdampak kekeringan, perkembangan musim tanam, dan produktivitas.

- Karhutla dan kualitas udara: terutama di wilayah yang rawan kebakaran.

- Harga pangan: gangguan produksi lokal dapat memengaruhi pasokan dan harga meski produksi nasional masih mencukupi.

El Niño Datang dari Pasifik, Dampaknya Bisa Sampai ke Sawah dan Pasar

El Niño bermula ribuan kilometer dari Indonesia, tetapi konsekuensinya dapat terasa sangat dekat.

Di sawah, perubahan pola hujan dapat menggeser jadwal tanam. Di waduk dan sumber air, periode kering yang panjang dapat menguras cadangan. Di kawasan rawan karhutla, lahan yang semakin kering meningkatkan potensi kebakaran. Sementara di pasar, gangguan produksi di wilayah tertentu dapat memengaruhi pasokan dan harga pangan.

WMO memperkirakan El Niño 2026–2027 mencapai puncaknya sekitar Desember dan bertahan hingga Februari 2027. Jika anomali Niño 3.4 sekitar +3,7°C terealisasi, episode ini berpotensi menjadi salah satu El Niño terkuat dalam catatan observasi.

Di sisi lain, BMKG memperkirakan 61,08 persen luas daratan Indonesia mengalami keterlambatan awal musim hujan, sementara 51,90 persen mengalami musim hujan yang lebih pendek dari normal.

Maka, ancaman terbesar bukan semata angka +3,7°C di Pasifik.

Yang menentukan adalah seberapa baik Indonesia menjaga air, melindungi pertanian, mencegah karhutla, dan memperkuat ketahanan masyarakat ketika El Niño memasuki puncaknya hingga awal 2027.

El Niño yang sangat kuat merupakan ancaman iklim. Namun, besarnya kerugian di Indonesia akan ditentukan oleh kombinasi kondisi cuaca lokal, kerentanan wilayah, dan kecepatan mitigasi.

(wmo/bmkg/tanamanpangan/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN