Thursday, October 8, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Riset Sebut Belasan Ribu Kematian Ancam RI Akibat El Nino, Seberapa Valid?

Mistar.idJumat, 9 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB
riset_sebut_belasan_ribu_kematian_ancam_ri_akibat_el_nino_seberapa_valid

Ilustrasi, ancaman El Nino di Indonesia yang memicu kekeringan, suhu ekstrem, dan risiko kesehatan. (Foto Ilustrasi: maris/meta/mistar.id)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID (9/10/2026) — Laporan riset Climate Impact Lab (CIL) di bawah University of Chicago yang dirilis akhir September 2026 menyebut Indonesia sebagai salah satu wilayah paling berisiko pada El Nino 2026.

CIL memproyeksikan 19.300 kematian berlebih terkait suhu panas di Indonesia pada periode September 2026 hingga Februari 2027, dibandingkan rata-rata periode yang sama 1996-2025. Angka tersebut merupakan proyeksi kematian dari berbagai penyebab yang secara statistik berkaitan dengan kenaikan suhu, bukan kematian langsung akibat heatstroke.

Metodologi riset ini masih dalam proses telaah sejawat saat dipublikasikan. Jika dibandingkan 40 negara lain dalam riset tersebut, Indonesia termasuk dengan proyeksi tertinggi.

Mengapa Angka di Eropa Lebih Valid?

Di Eropa, kematian berlebih dapat diketahui hampir real time melalui EuroMOMO, jaringan 29 negara yang memantau kematian mingguan dari catatan sipil nasional sejak 2008. Data aktual dibandingkan dengan baseline historis per kelompok umur.

Di Indonesia, data kematian yang andal belum tersedia. Laporan Statistik Hayati Indonesia 2019-2023 yang dirilis BPS, Bappenas, Kemendagri, dan Kemenkes mencatat registrasi kematian tahun 2023 hanya 56,7 persen. Artinya, hampir setengah kematian tidak tercatat resmi di Dukcapil.

Karena itu, peneliti menggunakan ekstrapolasi, yakni mengambil pola hubungan suhu dan kematian dari 40 negara dengan iklim dan pendapatan mirip Indonesia, lalu diterapkan ke Indonesia.

Tim CIL sendiri mengakui metode ini tidak dapat diuji balik untuk kasus El Nino 1997-1998 atau 2015-2016 di Indonesia, sehingga validitasnya terbatas dibanding data langsung seperti EuroMOMO.

Apakah Kematian Akibat Panas Itu Nyata?

Sejumlah studi global mengonfirmasi kaitan suhu ekstrem dan kematian. Stres panas memengaruhi kerja jantung dan ginjal, serta dapat memperburuk kondisi kesehatan hingga kematian.

Riset Qi Zhao dkk di Lancet Planetary Health (2021) dari 750 lokasi di 43 negara menunjukkan perubahan suhu signifikan menambah angka kematian global. Menariknya, mayoritas terkait suhu dingin, hanya sekitar 10 persen akibat suhu panas.

Peneliti CIL Tamma Carleton menjelaskan, sebagian besar kematian akibat panas tidak dicatat sebagai kematian akibat panas, melainkan sebagai kematian jantung, pernapasan, atau ginjal. Karena itu hanya dapat dideteksi secara statistik sebagai kematian berlebih.

Jumlah 19.300 kematian dalam enam bulan setara sekitar 2 persen dari total kematian yang diperkirakan terjadi di Indonesia pada periode September-Februari.

Pola serupa pernah terjadi pada kabut asap 2015. Pemerintah mencatat 19 kematian, sementara studi Shannon Koplitz dkk (2016) memperkirakan 91.600 kematian berlebih akibat asap.

Peringatan WHO dan Pelajaran dari India

WMO memperkirakan El Nino menguat Agustus-Oktober dan memuncak akhir 2026. Potensi Indian Ocean Dipole positif dapat memperparah kekeringan di Indonesia pada Agustus-Desember.

WHO pada akhir Juli 2026 memperingatkan risiko kesehatan di Indonesia akibat asap kebakaran hutan, polusi udara, penyakit pernapasan, demam berdarah, stres panas, malanutrisi, dan perburukan penyakit tidak menular.

Kota Ahmedabad di India menjadi contoh kesiapsiagaan. Saat suhu mencapai 46,8°C pada Mei 2010, terjadi 1.344 kematian berlebih atau naik 43,1 persen.

Pemerintah setempat kemudian membuat Heat Action Plan berbiaya rendah, seperti peringatan dini lewat SMS dan radio dengan kode warna, atap reflektif di permukiman padat, penyesuaian jam kerja luar ruangan, dan penyediaan air minum gratis. Studi di Journal of Environmental and Public Health (2018) menyebut upaya itu mencegah 1.190 kematian per tahun dan menurunkan risiko kematian dari 2,34 kali menjadi 1,25 kali pada suhu 47°C.

Riset CIL dapat dimaknai sebagai peringatan dini agar publik dan layanan kesehatan bersiap, bukan sebagai vonis pasti.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN