Monday, September 28, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

El Nino 2026 Pecahkan Rekor, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Mistar.idSenin, 28 September 2026 pukul 19.19 WIB
el_nino_2026_pecahkan_rekor_apa_dampaknya_bagi_indonesia

Peta prakiraan kondisi El Niño pada Oktober-Desember 2026 berdasarkan model CFSv2. (foto: CFSv2/NOAA)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Fenomena El Nino 2026 terus menguat dan mulai memberikan dampak terhadap pola cuaca di Indonesia. Suhu laut di kawasan Pasifik tropis yang menjadi indikator utama El Nino telah mencapai tingkat sangat tinggi, sementara Indonesia menghadapi risiko kekeringan dan keterlambatan musim hujan.

Dalam laporan 10 September 2026, Climate Prediction Center (CPC) dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut El Nino terus menguat. Anomali suhu permukaan laut di Pasifik ekuator bagian timur telah menembus +3°C, sementara indeks Nino-3.4 mencapai +1,8°C pada Agustus. Indeks Nino-3 dan Nino-1+2 bahkan masing-masing mencapai +2,5°C dan +3,4°C.

NOAA juga mencatat pemanasan yang sangat kuat tidak hanya terjadi di permukaan laut. Suhu di bawah permukaan laut di kawasan Pasifik ekuator masih jauh di atas normal, dengan sejumlah wilayah mencatat anomali lebih dari +10°C pada kedalaman tertentu. Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa pemanasan di Pasifik masih memiliki energi untuk mempertahankan dan memperkuat El Nino.

Pada saat yang sama, pola atmosfer mulai menunjukkan ciri khas El Nino. Hujan meningkat di kawasan Pasifik bagian tengah hingga timur, sementara aktivitas hujan di sekitar Indonesia cenderung menurun, menurut NOAA.

NOAA memperkirakan terdapat peluang lebih dari 90 persen bahwa El Nino berada pada kategori sangat kuat selama musim gugur dan musim dingin 2026-2027. Untuk periode Oktober-Desember 2026, NOAA juga memperkirakan peluang 75 persen terjadinya peristiwa historis, yang berarti kekuatan El Nino berpotensi melampaui peristiwa-peristiwa sebelumnya sejak 1950 berdasarkan ukuran RONI tiga bulanan.

Jika skenario tersebut terjadi, NOAA menyatakan kemungkinan munculnya dampak yang berkaitan dengan El Nino akan semakin besar, meskipun dampaknya tidak otomatis sama di setiap wilayah. Perkembangan El Nino juga diperkirakan masih menguat hingga akhir 2026.

Sebelumnya, World Meteorological Organization (WMO) dalam pembaruan yang dirilis 3 September 2026 menyebut El Nino diperkirakan terus menguat menuju kategori sangat kuat dan memiliki kemungkinan hampir 100 persen untuk bertahan hingga Februari 2027. WMO juga mencatat suhu permukaan laut Nino-3.4 telah meningkat dari rata-rata +1,5°C pada Mei-Juli menjadi sekitar +2,0°C pada Juli, dengan nilai mingguan berikutnya mencapai sekitar +2,2°C hingga +2,6°C pada akhir Juli hingga pertengahan Agustus.

Indonesia Mulai Rasakan Dampak

Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Nino saat ini berada pada kategori sangat kuat.

Dalam siaran pers yang dirilis 22 September 2026, BMKG menyebut anomali suhu muka laut wilayah Nino-3.4 pada akhir Agustus mencapai +2,83°C, sedangkan indeks ENSO periode Juli-Agustus-September mencapai +2,63.

Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan perkembangan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Menurut BMKG, kombinasi kedua fenomena itu dapat memperpanjang periode kering di Indonesia.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers Prediksi Musim Hujan di Jakarta, 22 September 2026.

BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia, akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologis.

Meski musim hujan diperkirakan datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat, BMKG memperkirakan sifat hujan secara umum masih berada pada kategori normal di sebagian besar wilayah. Sebanyak 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan dengan sifat normal.

El Nino juga tidak berarti membuat seluruh Indonesia akan mengalami kekeringan setiap hari. Hujan tetap dapat terjadi di sejumlah daerah karena dipengaruhi sistem atmosfer lainnya. Namun, periode kering yang lebih panjang dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air, pertanian, dan risiko kebakaran hutan dan lahan. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN