Climate Impact Lab: El Nino Ancam 451 Ribu Nyawa, Indonesia 19 Ribu Korban?

Ilustrasi, dampak El Nino yang sangat mengancam karena dampak alamnya di lapangan. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (24/9/2026) - Laporan Climate Impact Lab memproyeksikan 451 ribu orang di dunia berisiko meninggal akibat panas ekstrem yang dipicu El Nino hingga Februari 2027. Dari jumlah itu, sekitar 19 ribu kematian diperkirakan terjadi di Indonesia.
Proyeksi dimuat Climate Impact Lab di Universitas Chicago. Perhitungan berdasarkan hubungan antara suhu ekstrem dan peningkatan kematian di berbagai wilayah.
Melansir New Scientist dan CNN Indonesia, hubungan suhu dan kematian membentuk kurva huruf U. Angka kematian melonjak saat suhu sangat dingin maupun sangat panas.
Bentuk kurva berbeda di setiap wilayah, tergantung kemampuan adaptasi masyarakat dan infrastruktur, termasuk akses terhadap pendingin ruangan.
Dalam studi 2022, peneliti membagi dunia menjadi 24 ribu wilayah dan memperkirakan hubungan suhu dan kematian di masing-masing wilayah.
Perhitungan menggunakan data historis selama puluhan tahun dan pembanding wilayah dengan kondisi serupa.
Pada laporan terbaru, tim menggabungkan pendekatan itu dengan prakiraan musiman European Centre for Medium-Range Weather Forecasts untuk menghitung kematian tambahan akibat El Nino.
Hasilnya, sekitar 240 ribu kematian tambahan akibat panas diperkirakan terjadi pada periode September 2026 hingga Februari 2027.
Jika ditambah kematian sejak El Nino dimulai pada Juni 2026, totalnya mencapai 451 ribu.
"Ada sekitar 451 ribu orang yang berisiko meninggal dalam beberapa bulan ke depan akibat El Nino," kata pendiri Climate Impact Lab Michael Greenstone, Rabu (23/9/2026).
Afrika menjadi wilayah paling terdampak. Lebih dari 30 ribu kematian tambahan diperkirakan terjadi di Nigeria dalam enam bulan ke depan.
Pada periode sama, Indonesia 19 ribu, India 16 ribu, dan Brasil 13 ribu.
Peneliti membagi penduduk ke dalam tiga kelompok usia, yakni balita 0-4 tahun, lansia 65 tahun ke atas, dan kelompok usia lainnya.
"Ada dampak pada ketiga kelompok usia. Yang paling rentan adalah lansia, kemudian bayi," kata Direktur Energy & Climate Rhodium Group Emily Grover-Kopec.
Diprediksi Pecahkan RekorStudi lain menyebut El Nino tahun ini berpotensi menjadi yang terbesar dalam 1.000 tahun terakhir. Tambahan panas dari El Nino di tengah pemanasan global akibat aktivitas manusia diperkirakan mendorong 2027 menjadi tahun terpanas.
Anomali suhu di Samudra Pasifik telah melampaui rekor, beberapa bulan sebelum puncak El Nino. Anomali mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata 1991-2020, melewati rekor 3,02 derajat Celsius pada November 2015.
Angka itu merupakan selisih suhu di wilayah pemantauan El Nino terhadap rata-rata acuan, bukan kenaikan suhu rata-rata global.
Sementara indikator ONI di wilayah Nino 3.4 hanya terpaut 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015. Indikator ini menggunakan rata-rata 30 tahun yang diperbarui untuk memperhitungkan pemanasan global.
Kedua pengukuran bersumber dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA).
Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model yang rata-rata memproyeksikan anomali suhu sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember. Sebagai pembanding, El Nino dengan anomali di atas 2 derajat Celsius sudah masuk kategori sangat kuat atau Super El Nino.(CNN/hm02)










































