Friday, August 7, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Akademisi USU Soroti Kenaikan Harga Semen di Sumut, Distribusi Dinilai Jadi Biang Masalah

Mistar.idJumat, 7 Agustus 2026 pukul 19.28 WIB
akademisi_usu_soroti_kenaikan_harga_semen_di_sumut_distribusi_dinilai_jadi_biang_masalah

Ilustrasi semen. (foto: dokumentasi mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Kenaikan harga semen yang menyentuh Rp100.000 per sak di tingkat eceran wilayah Sumatera Utara (Sumut) memunculkan sorotan dari kalangan akademisi. Pasalnya, secara nasional industri semen mengalami oversupply (kelebihan pasokan) dengan tingkat utilisasi pabrik sekitar 53 hingga 55 persen.

Kepala Program Studi Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. Tuti Sarma Sinaga, S.T., M.T, mengatakan dari kacamata Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management/SCM), fenomena kelebihan produksi di hulu yang berujung kelangkaan di hilir terjadi karena hambatan di tingkat intermediaris, yaitu distributor, agen, dan pengecer.

"Lokasi pabrik semen di Indonesia berpusat di beberapa kawasan saja, tapi konsumennya justru tersebar di seluruh Indonesia. Meski pasokan di tingkat produsen memadai, gangguan di sektor transportasi seperti kelangkaan BBM, jalan yang rusak, serta pembengkakan biaya operasional pergudangan di level intermediaris, merupakan faktor utama dari kenaikan harga tersebut," ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Secara geografis, Sumut diapit dua produsen semen besar, yakni di Semen Padang di Sumatera Barat dan pabrik semen di Aceh. Namun, kestabilan pasokan terganggu karena infrastruktur jalan darat rusak pascabencana banjir serta lamanya antrean Solar di SPBU.

Hambatan waktu distribusi (lead time) akhirnya memicu kepanikan pasar (panic buying) dan menimbulkan bullwhip effect atau distorsi informasi permintaan dari hilir ke hulu.

"Kontraktor khawatir proyek pembangunan mereka terbengkalai jika semen langka. Akibatnya, mereka bersedia membeli dengan harga tinggi dan menumpuk stok dalam jumlah besar. Situasi ini membuat kelangkaan di pasar semakin besar, serta memberi celah bagi spekulan untuk bermain mencari keuntungan lebih besar," ucap Tuti.

Terkait porsi biaya, Tuti menyebutkan dalam struktur Harga Pokok Penjualan (HPP) semen, biaya transportasi dan logistik menyumbang sekitar 50 persen.

Karena Harga Eceran Tertinggi (HET) semen normalnya sekitar Rp60.000 hingga Rp70.000 per sak, lonjakan harga hingga Rp100.000 dianggap tidak hanya karena kelangkaan BBM.

Berdasarkan ilmu Teknik Industri, untuk membedakan apakah kenaikan harga memang terjadi karena inefisiensi distribusi atau adanya penahanan stok (kartel), dapat dilihat melalui hubungan antara persediaan, lead time, dan pergerakan harga.

Pemicu kenaikan harga yang benar dapat dilakukan dengan analisis hubungan jumlah persediaan, lead time, dan kenaikan harga.

"Analisis dimulai dari perbandingan jumlah produksi semen pada level pabrik dengan jumlah persediaan pada setiap entitas (distributor) yang terlibat di sepanjang rantai pasok semen," ucapnya.

Besaran persediaan dipengaruhi lead time (waktu tunggu) distribusi. Kenaikan harga terjadi karena inefisiensi sistem distribusi, terlihat dari besaran lead time yang meningkat, jumlah persediaan di setiap entitas rendah, dan terjadi peningkatan biaya transportasi serta logistik.

"Tapi, apabila lead time stabil, persediaan di pabrik menurun namun harga jual mengalami kenaikan yang lebih cepat dibanding biaya transportasi dan logistik, maka terdapat dugaan bahwa semen disimpan pada gudang entitas di bawahnya. Dalam kondisi ini semen di tingkat pengecer akan muncul jika harga meningkat," ujarnya.

Guna meredam gejolak harga semen di Sumatera Utara, Tuti memberikan beberapa rekomendasi langkah strategis jangka pendek dan jangka panjang.

"Pabrik semen harus bekerja sama dengan pemerintah Sumut untuk memetakan wilayah yang paling terdampak dari kenaikan harga semen ini, sehingga pabrik dapat mengirimkan langsung produk semen ke unit-unit pengecer di wilayah tersebut," tuturnya.

Kemudian, pabrik juga membatasi pembelian untuk agen-agen tertentu agar dapat mencegah penumpukan semen yang membuat harga semen semakin tinggi.

"Khusus Pemerintah Sumut, harus menjamin tidak ada gangguan pasokan BBM yang dapat membuat delivery time semakin panjang. Karena, secara tidak langsung dapat memberi kesempatan spekulan untuk mempermainkan stok dan harga," katanya.

Ia juga menyarankan untuk melakukan pengiriman jalur laut dengan membangun fasilitas pengantongan semen (packing plant) berkapasitas tinggi di dermaga pelabuhan. Untuk jangka panjang, Tuti menyarankan agar pemerintah bersama Holding Semen Indonesia agar dapat membangun Sistem Informasi Terintegrasi berbasis Real-Time.

Sistem ini akan menghubungkan data produksi, tingkat persediaan gudang, dinamika harga, hingga proyeksi permintaan konsumen secara nasional. "Dengan sistem ini, sebaran pasokan dan potensi ketimpangan regional bisa dipantau dan diintervensi secara akurat," ucap Tuti.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN