Harga Semen Naik 49 Persen, Sektor Properti dan Konstruksi Terancam Tertekan

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Harga bahan bangunan khususnya semen mengalami kenaikan dan menimbulkan kekhawatiran serius untuk sektor konstruksi dan properti enam bulan terakhir.
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dinilai merupakan faktor utama naiknya biaya energi, berujung naiknya harga material di pasaran.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan sejak Februari lalu harga semen naik hingga 49 persen.
"Di Februari, harga salah satu merk semen masih sekitaran Rp57.000 per sak. Mulai naik di minggu terakhir April, pelan-pelan jadi Rp59.000 sampai Rp60.000 per sak di Juni. Saat ini, semen per saknya sekitar Rp80.000 hingga Rp85.000," katanya, Senin (27/7/2026).
Bukan hanya semen, hasil pantauan Gunawan di Sumut, material pabrikan juga naik akibat dari harga batu bara yang menjadi beban biaya produksi manufaktur.
Bahan bangunan lain yang mengalami kenaikan adalah besi ukuran 8mm naik 21 persen, besi ukuran 12mm naik 5,6 persen, serta cat tembok eksterior dan interior naik 13,5 hingga 29,6 persen.
Sedangkan batu bata produksi konvensional, mengalami penurunan menjadi Rp550 per batang sebelumnya Rp555.
"Kondisi kelebihan pasokan harga membuat batu bata turun, pengrajin lokal terdampak lumayan besar. Biaya hidup terus naik, harga batu bata justru turun karena permintaan yang lesu," ucapnya.
Kenaikan ini akan memberikan dampak berantai yang negatif untuk perekonomian, salah satunya proyek perumahan oleh pengembang yang akan tertunda.
Para pengembang lebih memilih menahan ekspansi dibanding membangun rumah batu dengan Harga Pokok Produksi (HPP) yang mahal. Kondisi tersebut akan mengganggu target program penyediaan hunian oleh pemerintah.
Gunawan juga menyampaikan konsekuensi fatal jika harga material bangunan tidak kembali ke harga yang wajar.
"Anggaran berbagai proyek infrastruktur dan swasta akan membengkak, risiko proyek tertunda atau mangkrak karena penyesuaian harga sulit disepakatai, penyerapan tenaga kerja tukang bangunan akan turun, serta pertumbuhan ekonomi nasional akan terganggu," ujarnya.
Gunawan menambahkan keberlangsungan sektor konstruksi, manufaktur, infrastruktur, hingga properti sedang menghadapi tantangan ketidakpastian. Industri properti akan mengalami tekanan besar terhadap tensi geopolitik yang berkemungkinan memburuk.
PREVIOUS ARTICLE
Muhammadiyah Asahan Resmikan Koperasi Syariah Bersinar, Dorong Kemandirian Ekonomi Umat
























