Warga Soroti Kualitas Pekerjaan Irigasi Optimasi Lahan di Dairi, Diduga Dikerjakan Asal-asalan

Pekerjaan D.I Ganda Sumurung, Pegagan Julu III. (Foto: Heppy Julius Manurung/Mistar)
Dairi, MISTAR.ID - Warga menyoroti pekerjaan irigasi proyek optimasi lahan nonrawa di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, yang diduga dikerjakan secara asal-asalan.
Seperti dikatakan salah seorang warga Kecamatan Sumbul, saat ditelepon Mistar, Jumat (11/9/2026), ia meminta media meninjau lokasi pembangunan irigasi di Daerah Irigasi (D.I) Ganda Sumurung, Desa Pegagan Julu III. Menurutnya, pelaksanaan pekerjaan tersebut diduga tidak sesuai dengan spesifikasi.
Warga tersebut mengatakan, kualitas irigasi itu diragukan karena konstruksinya diduga tidak sesuai spesifikasi. Di antaranya terkait campuran semen serta penyusunan batu pada lining irigasi yang disebut tidak menggunakan perekat semen, melainkan hanya ditindih kemudian diplester menggunakan campuran pasir dan semen.
Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat lining irigasi cepat rusak dan roboh. Selain itu, menurut sumber, pondasi bangunan irigasi disebut tidak ada. Ketebalan lantai bangunan juga dicurigai tidak sesuai.
Pantauan sejumlah media di lokasi, terdapat papan proyek Pemerintah Kabupaten Dairi melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) tahun 2026.
Pada papan proyek disebutkan kegiatan optimasi lahan nonrawa sepanjang 294,9 meter dengan biaya Rp253 juta, bersumber dari APBN 2026. Pekerjaan tersebut dilaksanakan secara swakelola oleh Kelompok Tani Satahi Saoloan.
Terpisah, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana DPKPP Dairi, Swandi Tumanggor, ketika dihubungi Mistar, mengatakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut berada di Kementerian Pertanian. Sementara pihaknya hanya melakukan monitoring.
Terkait dugaan pekerjaan irigasi yang dikerjakan asal-asalan, Swandi mengatakan pihaknya segera turun ke masing-masing titik kegiatan untuk melakukan pengecekan.
Diakui Swandi, terdapat 23 paket kegiatan optimasi lahan nonrawa dengan pagu bervariasi, mulai dari Rp250 juta ke atas. Seluruh kegiatan tersebut dikerjakan secara swakelola oleh kelompok tani.
"Jika dalam monitoring ditemukan kekurangan dalam kualitas pekerjaan, pihak kelompok tani akan diminta membongkar dan memperbaikinya kembali agar hasil pekerjaan benar-benar baik," tuturnya. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
24 Siswa Korban Keracunan MBG di Berastagi Masih DirawatBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER




































