Harga Semen Naik, Insinyur Muda Sumut Khawatirkan Proyek Konstruksi dan Properti Terganggu

Ketua Forum Insinyur Muda (FIM) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Sumatera Utara, Muhammad Rizki Fadillah. (Foto: Muhammad Rizki Fadillah/Mistar)
Medan, MISTAR.ID – Kenaikan harga semen dinilai akan berdampak serius terhadap sektor pembangunan, terutama industri properti dan konstruksi. Pasalnya, semen merupakan material utama yang menyumbang sekitar 20-30 persen dari biaya proyek pembangunan.
Ketua Forum Insinyur Muda (FIM) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Sumatera Utara (Sumut), Muhammad Rizki Fadillah, mengatakan kenaikan harga semen menjadi perhatian serius karena material tersebut memiliki peran strategis dalam setiap proyek konstruksi.
"Ketika harga semen naik, efeknya akan langsung dirasakan pada biaya konstruksi secara keseluruhan. Menurut saya, kenaikan ini dipengaruhi meningkatnya biaya produksi, terutama akibat kenaikan harga energi seperti batu bara dan listrik yang menjadi komponen utama dalam proses pembakaran klinker," ujarnya kepada Mistar, Kamis (6/8/2026).
Selain itu, kata Rizki, biaya distribusi yang dipengaruhi harga bahan bakar, ongkos logistik, serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memberikan tekanan terhadap harga jual semen.
"Faktor-faktor tersebut saling berkaitan sehingga berdampak pada harga di tingkat konsumen," katanya.
Menurut Rizki, dampak kenaikan harga semen sangat nyata. Dalam proyek konstruksi, biaya material umumnya mencapai sekitar 50-70 persen dari total nilai proyek. Karena itu, kenaikan harga semen secara otomatis meningkatkan biaya pelaksanaan.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, ia mengkhawatirkan akan terjadi penundaan proyek, berkurangnya investasi di sektor konstruksi, hingga perlambatan pembangunan daerah.
"Bagi kontraktor yang menggunakan kontrak harga tetap (lump sum), kondisi ini akan mengurangi margin keuntungan, bahkan berpotensi menyebabkan kerugian apabila tidak ada mekanisme penyesuaian harga. Sementara bagi masyarakat, kenaikan harga semen akan meningkatkan biaya pembangunan rumah, renovasi, maupun bangunan usaha," tuturnya.
Lulusan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU) itu menjelaskan, hingga kini semen masih menjadi material yang tidak tergantikan dalam sebagian besar pekerjaan konstruksi. Hampir seluruh elemen struktur, mulai dari pondasi, kolom, balok, pelat lantai, hingga pasangan bata menggunakan semen sebagai bahan pengikat utama.
"Memang saat ini telah berkembang teknologi beton ramah lingkungan dengan memanfaatkan material tambahan seperti fly ash, ground granulated blast furnace slag (GGBFS), maupun silica fume untuk mengurangi konsumsi semen sekaligus menekan emisi karbon. Namun, material tersebut hanya berfungsi sebagai bahan substitusi sebagian, bukan pengganti utama. Hingga saat ini, semen tetap menjadi komponen paling penting dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia," ujarnya.
Menurut Rizki, persoalan kenaikan harga semen harus disikapi secara bersama. Pemerintah perlu memastikan iklim persaingan usaha yang sehat, menjaga kelancaran distribusi material konstruksi, serta mendorong efisiensi rantai pasok agar harga tetap stabil.
Di sisi lain, industri semen diharapkan terus melakukan inovasi teknologi dan efisiensi produksi agar biaya dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas produk.
"Pelaku konstruksi juga harus mulai menerapkan value engineering, optimalisasi desain, dan penggunaan material secara lebih efisien agar pemborosan dapat diminimalkan," katanya.
Rizki berharap harga semen dapat kembali stabil sehingga memberikan kepastian bagi pelaku usaha konstruksi maupun masyarakat.
"Sektor konstruksi merupakan salah satu penggerak perekonomian nasional yang memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan infrastruktur. Stabilitas harga material akan menjaga keberlangsungan proyek, meningkatkan kepercayaan investor, membuka lapangan kerja, serta mempercepat pemerataan pembangunan di seluruh daerah," tutupnya.
PREVIOUS ARTICLE
BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen pada Triwulan II-2026, Konsumsi dan Industri Jadi Penggerak Utama




















