Kenaikan Harga Semen Hambat Pembangunan Rumah Subsidi

Direktur Bungsuland Property, Abdul Muhsin Hamzah. (Foto: Dokumentasi Pribadi Husen HZ/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Kenaikan harga semen yang disertai kelangkaan pasokan mulai berdampak pada bisnis properti rumah subsidi di Sumatera Utara. Pengembang mengaku terpaksa mengurangi jumlah pekerja dan memperlambat pembangunan proyek karena tingginya harga material.
Direktur Bungsuland Property sekaligus Sekretaris DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Sumatera Utara, Abdul Muhsin Hamzah, mengatakan kondisi tersebut membuat pengembang kesulitan mengejar target pembangunan rumah subsidi.
"Kalau tanggapan saya selaku pengusaha properti yang fokusnya rumah subsidi, ini memberatkan kami selaku pengembang," ujarnya kepada Mistar, Jumat (7/8/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Husen HZ itu, keterbatasan material membuat jumlah tenaga kerja di proyek harus dikurangi. Jika sebelumnya satu proyek mempekerjakan sekitar 50 pekerja, kini hanya sekitar 20 orang.
"Kalau tukangnya banyak yang kerja dan semennya enggak ada, jadi enggak bisa kerja juga. Ini mengakibatkan tukang dan kernet itu tidak bekerja," katanya.
Ia menyebut perlambatan pembangunan proyek saat ini mencapai sekitar 50 persen. Selain semen, sejumlah material bangunan lain seperti seng spandek, gipsum, dan keramik juga mengalami kenaikan harga serta mulai sulit diperoleh.
"Semua ini berawal dari harga material yang tinggi dan sulit didapat, yang akhirnya saya sendiri selaku developer percepatannya berkurang saat ini," ucapnya.
Husen mengatakan harga semen yang sebelumnya sekitar Rp50 ribu per sak kini telah mencapai Rp85 ribu hingga Rp90 ribu. Kondisi tersebut dinilai turut menghambat realisasi Program 3 Juta Rumah, termasuk di Sumatera Utara.
Menurutnya, target pembangunan rumah subsidi di Sumatera Utara sekitar 15 ribu unit per tahun berpotensi sulit tercapai. Hingga memasuki semester kedua tahun ini, realisasi pembangunan baru sekitar 5 ribu unit.
Ia berharap pemerintah dapat menyesuaikan harga rumah subsidi apabila harga material tidak kembali normal dalam waktu dekat.
"Kalau kami, harapannya kalau harga materialnya tidak bisa normal kembali, ya kami pengembang mengharapkan harga rumah itu supaya dinaikkan," ujarnya.
Meski demikian, Husen menegaskan pengembang tidak akan menurunkan kualitas bangunan untuk menekan biaya. Menurutnya, spesifikasi rumah subsidi telah ditetapkan pemerintah sehingga tidak memungkinkan dilakukan pengurangan kualitas material.
"Kalau harganya bisa normal kembali, tidak usah naik pun enggak apa-apa harga rumahnya," katanya. (hm25)



















