Friday, August 7, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Permintaan MBG Dongkrak Harga Ayam di Medan, Naik hingga 39 Persen

Mistar.idJumat, 7 Agustus 2026 pukul 18.22 WIB
permintaan_mbg_dongkrak_harga_ayam_di_medan_naik_hingga_39_persen_

Ilustrasi daging ayam. (foto: dokumentasi mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Harga daging ayam potong di Kota Medan mengalami kenaikan sejak masa libur sekolah usai. Tingginya permintaan (demand) di pasar didorong mulai berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), dinilai menjadi faktor utama di balik kenaikan harga komoditas tersebut.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam di Kota Medan, Jumat (7/8/2026), sekitar Rp39.000 hingga Rp41.500 per kilogram (kg).

"Pada masa libur anak sekolah harga daging ayam sebelumnya Rp28.000 per kg. Artinya, hari ini terjadi kenaikan sekitar 39 persen. Jika dilihat dari data pasokan ayam hidup mingguan, tidak terjadi penurunan suplai. Sehingga disimpulkan bahwa demand tersebut memicu kenaikan harga," kata Gunawan.

Naiknya permintaan tersebut bukan hanya terjadi pada daging ayam. Gunawan juga menyebutkan, ada sejumlah komoditas pangan pokok lainnya yang terserap dalam jumlah masif untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG.

Daging ayam, telur, sayuran, dan beras mengalami lonjakan permintaan yang tinggi karena menjadi menu utama MBG. Sementara itu, ikan segar juga diproyeksikan mengalami kenaikan permintaan meski dalam persentase rendah. Sedangkan permintaan untuk komoditas cabai, tidak mengalami banyak perubahan, bahkan cenderung turun.

Menurutnya, dari sisi fundamental ekonomi, kehadiran MBG memicu geliat ekonomi di sektor pertanian dan peternakan. Namun, timbul masalah lain dalam proses pembentukan harga.

"Idealnya, lonjakan demand harus seimbang dengan supply. Namun lonjakan pasokan masih lebih rendah dibanding permintaan, sehingga harga pun ikut mengalami kenaikan," ucapnya.

Hal ini diperparah dengan adanya kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP) pakan atau logistik yang terjadi akibat imbas dari tensi geopolitik, khususnya setelah eskalasi konflik Iran-AS.

Terkait desas-desus permainan harga oleh pemasok, Gunawan menegaskan hingga kini belum ada indikasi pasokan pangan dikuasai oleh segelintir vendor atau mafia. Kenaikan tersebut murni dampak dari mekanisme pasar atau tarik-menarik pasokan dan permintaan.

Meski demikian, ia menyoroti pengadaan bahan pangan untuk MBG berpeluang besar didominasi oleh ritel modern berskala besar, bukan pedagang pasar tradisional.

"Ritel modern bisa memberikan one-stop solution untuk semua kebutuhan harian dapur umum (SPPG). Ada inefisiensi biaya dan waktu jika SPPG membeli kebutuhan secara eceran langsung ke pasar tradisional dibandingkan bermitra dengan ritel modern," ujar Gunawan.

Meski begitu, kecurigaan adanya vendor besar yang bermain tetap diperlukan penelusuran lebih jauh oleh pihak berwenang.

Gunawan juga mengingatkan pemerintah daerah untuk antisipasi risiko inflasi pangan, karena jika lonjakan permintaan berbenturan dengan cuaca ekstrem seperti El Nino, berakibat merusak hasil panen lokal.

"Dampak inflasi dari program MBG mungkin tidak akan terjadi bersamaan saat momen hari besar keagamaan seperti Ramadan dan Idulfitri. Karena, harapannya ada penurunan konsumsi harian seiring dengan operasional sekolah dan penyaluran MBG yang juga diliburkan pada periode tersebut," tuturnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN