Studi Ungkap Sel Ibu Bisa Bertahan di Otak Anak hingga Puluhan Tahun

Ilustrasi. (foto: Pixabay/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Ikatan biologis antara ibu dan anak ternyata dapat meninggalkan jejak hingga tingkat sel. Sebuah penelitian menemukan bahwa sel yang berasal dari tubuh ibu dapat ditemukan di jaringan otak anak, dengan indikasi bahwa sel semacam ini mungkin bertahan hingga usia lanjut.
Temuan tersebut berkaitan dengan fenomena yang dikenal sebagai microchimerism, yakni kondisi ketika sejumlah kecil sel dari individu lain menetap di dalam tubuh seseorang.
Fenomena ini berbeda dari pewarisan DNA orang tua kepada anak. Dalam pewarisan genetik, materi DNA ibu diturunkan melalui sel telur. Sementara itu, pada microchimerism, sel dari tubuh ibu berpindah secara langsung ke tubuh anak.
Perpindahan sel tersebut dapat terjadi selama kehamilan melalui plasenta. Proses ini berlangsung dua arah: sel ibu dapat masuk ke tubuh janin, sedangkan sel janin juga dapat berpindah ke tubuh ibu. Sebagian sel yang berpindah diketahui bisa bertahan setelah kehamilan berakhir.
Dikutip dari Live Science, penelitian yang melibatkan ilmuwan dari Amerika Serikat dan Prancis ini mengidentifikasi keberadaan sel yang berasal dari ibu pada sejumlah jaringan otak anak.
Untuk menyelidiki fenomena tersebut, peneliti menganalisis jaringan otak dari pasien anak yang menjalani operasi akibat epilepsi berat. Sampel yang diperiksa berasal dari anak berusia 28 hari hingga 19 tahun.
Sel dengan karakteristik microchimerism ditemukan di beberapa bagian otak, termasuk lobus frontal, lobus temporal, lobus parietal, dan hipokampus.
Bagian-bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam aktivitas otak. Lobus frontal berperan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Lobus temporal berkaitan dengan pemrosesan suara dan memori, sedangkan lobus parietal membantu mengolah informasi sensorik.
Sementara itu, hipokampus berperan penting dalam pembentukan dan pengolahan memori.
Peneliti juga mengamati karakteristik sel yang ditemukan untuk mengetahui kemiripannya dengan sejumlah jenis sel otak. Meski demikian, keberadaan sel ibu di jaringan tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa sel-sel itu menjalankan fungsi tertentu atau memberikan manfaat langsung bagi otak anak.
Untuk menyelidiki kemungkinan keberadaan sel tersebut dalam jangka panjang, para peneliti turut menganalisis data aktivitas gen dari jaringan otak manusia pada berbagai tahap kehidupan, mulai dari masa perkembangan dalam kandungan hingga usia lanjut.
Analisis tersebut menunjukkan adanya petunjuk yang konsisten dengan keberadaan sel microchimerism pada kelompok usia yang beragam, termasuk orang lanjut usia.
Temuan ini membuka kemungkinan bahwa sel yang berasal dari individu lain dapat bertahan dalam tubuh manusia untuk waktu yang sangat lama, termasuk di jaringan otak.
Namun, terdapat batasan yang perlu diperhatikan. Analisis jaringan otak anak dan data aktivitas gen dari berbagai kelompok usia tidak serta-merta membuktikan bahwa sel dari ibu yang sama bertahan tanpa henti di otak seseorang selama puluhan tahun.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan lamanya sel tersebut bertahan, bagaimana sel-sel itu berperilaku di dalam jaringan otak, serta apakah keberadaannya memengaruhi fungsi otak atau kesehatan manusia.
Meski masih menyisakan sejumlah pertanyaan, penelitian mengenai microchimerism memberikan wawasan baru tentang hubungan biologis antara ibu dan anak. Hubungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pewarisan genetik, tetapi juga berpotensi melibatkan perpindahan dan keberadaan sejumlah kecil sel di dalam tubuh selama bertahun-tahun.










































