Dari Rumah ke Rumah, Bang Syafri Cegah Sampah Berakhir di Sungai

Syafri Tanjung, 55 tahun, menunjukkan sejumlah produk hasil pengolahan sampah di Bank Sampah Citra Aur, seperti ekoenzim, ecobrick, dan briket dari batok kelapa. Briket tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk membakar ikan dan sate. (foto: Fiqih/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Dari rumah ke rumah, Syafri Tanjung mengumpulkan sampah warga untuk mencegah pencemaran sungai. Melalui Bank Sampah Citra Aur di Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, ia berupaya membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah dari lingkungan rumah tangga.
Pria berusia 55 tahun yang akrab disapa Bang Syafri atau Pak Ichaf itu mendirikan Bank Sampah Citra Aur pada September 2022. Sejak saat itu, ia mengajak masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai yang berada di sekitar permukiman.

Salah satu upaya yang dijalankannya adalah layanan pengangkutan sampah organik dari lebih dari 80 rumah warga. Setiap hari, sekitar 300 kilogram sampah organik dikumpulkan untuk mengurangi sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.
Selain sampah organik, warga juga diajak memilah sampah anorganik, seperti plastik, kardus, dan kaca. Sampah tersebut kemudian dijual kepada pengepul agar memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang.
Dalam sebulan, Bank Sampah Citra Aur mampu mengumpulkan sekitar 1,5 ton sampah anorganik.

Tak hanya mengumpulkan dan memilah, Bank Sampah Citra Aur juga mengolah sampah menjadi sejumlah produk, di antaranya ekoenzim, ecobrick, dan briket dari batok kelapa. Briket tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk membakar ikan dan sate.
Kegiatan pengelolaan sampah ini turut melibatkan mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang menjalani praktik kerja lapangan. Mereka membantu mendata dan menimbang sampah yang diserahkan warga di Bank Sampah Citra Aur, Jalan Syahbandar Nomor 23, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan.

Bagi Syafri, pengelolaan sampah bukan sekadar mengumpulkan barang yang sudah tidak terpakai. Upaya ini juga menjadi cara untuk mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan, sekaligus memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai guna. (*)












































