Monday, October 26, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Dua Lipa Bikin Kejutan di Festival Sastra London, Gaya dan Sisi Intelektualnya Jadi Sorotan

Mistar.idSenin, 26 Oktober 2026 pukul 15.43 WIB
dua_lipa_bikin_kejutan_di_festival_sastra_london_gaya_dan_sisi_intelektualnya_jadi_sorotan

Dua Lipa tampil dalam London Literature Festival 2026 di Southbank Centre, London, sebagai kurator sekaligus pembawa diskusi sastra. (foto:thatericalper/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (26/10/2026) — Siapa sangka, di balik gemerlap panggung dan deretan lagu hits dunia, Dua Lipa menyimpan kecintaan mendalam terhadap dunia sastra? Bintang pop asal Inggris itu kembali mencuri perhatian publik. Namun kali ini, bukan karena konser spektakuler atau karya musik terbaru, melainkan perannya sebagai kurator London Literature Festival 2026.

Digelar di Southbank Centre, London, pada 21 Oktober hingga 1 November 2026, festival sastra bergengsi tersebut menghadirkan sisi berbeda pelantun Levitating itu. Dua Lipa tidak sekadar datang sebagai selebritas, tetapi ikut merancang program dan memimpin percakapan bersama sejumlah penulis ternama.

Keterlibatannya sekaligus menjadi bagian dari perayaan 75 tahun Southbank Centre dan momentum National Year of Reading di Inggris.

Menariknya, kehadiran Dua Lipa bukan hanya memancing perhatian pencinta buku. Gaya busananya yang berani dan elegan turut menjadi perbincangan, mempertemukan dunia literasi, musik, dan fashion dalam satu panggung budaya.

Bukan Sekadar Bintang Pop, Dua Lipa Ternyata Pencinta Buku

Kecintaan Dua Lipa terhadap sastra sebenarnya bukan hal baru. Di tengah jadwal rekaman, konser, dan perjalanan internasional, penyanyi kelahiran 22 Agustus 1995 itu dikenal gemar menghabiskan waktu dengan membaca.

Ketertarikan tersebut berkembang menjadi gerakan literasi ketika ia meluncurkan Service95 Book Club pada 2023.

Melalui komunitas ini, Dua Lipa secara rutin merekomendasikan buku, mewawancarai penulis, dan mengajak penggemarnya menjelajahi karya sastra dari berbagai negara.

Pilihan bacaannya pun tidak terbatas pada novel populer. Ia tertarik pada cerita tentang identitas, hubungan manusia, sejarah, hingga persoalan sosial.

Dalam wawancara dengan The Independent, Dua Lipa mengungkapkan kebiasaannya membawa buku saat bepergian, termasuk ketika berada di pesawat atau menjalani tur.

Ia bahkan berusaha membatasi penggunaan media sosial agar memiliki lebih banyak waktu untuk membaca.

Sejumlah karya yang menarik perhatiannya antara lain Nineteen Eighty-Four karya George Orwell, My Brilliant Friend karya Elena Ferrante, serta Never Let Me Go dan Klara and the Sun karya Kazuo Ishiguro.

Pilihan tersebut memperlihatkan ketertarikannya pada kisah yang menggali kompleksitas kehidupan, emosi, dan hubungan antarmanusia.

Duduk Bersama Penulis Dunia, Dua Lipa Bahas Isu yang Lebih Dalam

Peran Dua Lipa sebagai kurator London Literature Festival 2026 semakin menarik karena ia terlibat langsung dalam percakapan bersama tokoh-tokoh sastra internasional.

Pada 24 Oktober, ia berdiskusi dengan novelis Inggris Zadie Smith mengenai White Teeth, novel debut yang mengeksplorasi identitas, keluarga, dan kehidupan masyarakat multikultural London.

Di hari yang sama, Dua Lipa berbincang dengan penyair sekaligus musisi Kanada keturunan Sudan, Mustafa, mengenai kumpulan puisi Nour.

Percakapan tersebut mempertemukan sastra dan musik sebagai dua bentuk ekspresi yang sama-sama mampu menyampaikan cinta, kehilangan, serta pengalaman manusia.

Agenda literasinya berlanjut pada 25 Oktober melalui diskusi bersama musisi dan penulis legendaris Patti Smith, yang membahas memoar Bread of Angels.

Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bahwa Dua Lipa tidak hanya memanfaatkan popularitasnya untuk menghadiri festival. Ia juga berupaya membuka ruang dialog antara penulis dan audiens yang lebih luas.

Efek Dua Lipa: Bisakah Bintang Pop Membuat Anak Muda Gemar Membaca?

Kehadiran Dua Lipa dalam festival sastra membawa pertanyaan menarik: seberapa besar pengaruh selebritas dalam menghidupkan budaya membaca?

Sebagai musisi dengan penggemar lintas negara dan generasi, Dua Lipa memiliki peluang memperkenalkan buku kepada audiens yang sebelumnya lebih akrab dengan musik, fashion, dan media sosial.

Melalui Service95 Book Club, pembahasan sastra dikemas dalam bentuk rekomendasi, wawancara, dan konten digital yang mudah diakses.

Pendekatan ini menjadi relevan ketika minat baca generasi muda menghadapi tantangan.

Menurut penelitian National Literacy Trust yang dikutip The Independent, hanya 32,7 persen anak-anak dan remaja yang disurvei di Inggris pada 2025 mengaku menikmati membaca pada waktu luang.

Angka tersebut menjadi salah satu alasan mengapa keterlibatan figur populer dalam gerakan literasi semakin penting.

Menariknya, laporan Southbank Centre menunjukkan bahwa 45 persen penonton acara peluncuran buku musisi Self Esteem bersama Dolly Alderton pada festival 2025 merupakan pengunjung yang baru pertama kali melakukan pemesanan di lembaga tersebut.

Meski bukan data dampak langsung Dua Lipa, temuan ini menunjukkan potensi kolaborasi antara dunia musik dan sastra untuk menarik audiens baru.

Di sinilah kekuatan seorang selebritas terlihat: popularitas tidak hanya dapat digunakan untuk mempromosikan karya hiburan, tetapi juga membuka akses menuju pengetahuan dan percakapan budaya.

Namun, pengaruh tersebut tetap perlu diikuti akses buku yang memadai dan kegiatan literasi berkelanjutan agar ketertarikan sesaat berkembang menjadi kebiasaan membaca.

Fashion Dua Lipa Tak Kalah Mencuri Perhatian, Chanel hingga Prada Jadi Sorotan

Bukan Dua Lipa namanya jika tampil tanpa sentuhan fashion yang mencuri perhatian.

Meski menghadiri acara sastra, penyanyi yang dikenal dengan gaya eksperimental itu tetap menunjukkan identitasnya sebagai ikon mode.

Saat berbincang bersama Zadie Smith pada 24 Oktober, Dua Lipa tampil mengenakan busana merah dari koleksi Chanel Fall 2026.

Menurut Harper's Bazaar, penampilannya memadukan atasan berlengan panjang dengan detail berbulu, rok midi senada, serta sepatu bot kulit hitam setinggi lutut dari Le Silla.

Warna merah yang mencolok berpadu dengan sepatu bot berhak tinggi, menciptakan kesan elegan sekaligus dramatis.

Untuk sesi diskusi bersama Mustafa, Dua Lipa memilih gaya berbeda melalui busana serba hitam dari koleksi Prada Fall 2026.

Atasan bergaya camisole dan rok pensil dipadukan dengan kaus kaki berdetail bordir bunga putih.

Namun, elemen paling unik justru datang dari sepatu putih berhias bulu yang memberikan kontras mencolok pada keseluruhan penampilannya.

Dua gaya tersebut memperlihatkan kemampuannya memadukan karakter fashion pribadi dengan suasana acara budaya yang lebih formal.

Menariknya, sorotan terhadap busana Dua Lipa juga berpotensi memperkenalkan festival sastra kepada penggemar fashion yang sebelumnya tidak mengikuti perkembangan dunia literasi.

Lebih dari Fashion dan Musik, Dua Lipa Bangun Identitas Baru

Di balik penampilan glamor dan popularitas global, keterlibatan Dua Lipa dalam dunia sastra mencerminkan perubahan menarik dalam kehidupan selebritas modern.

Seorang musisi kini tidak lagi harus membatasi identitasnya pada album, konser, atau penghargaan musik.

Melalui Service95 Book Club, Dua Lipa membangun ruang yang menghubungkan kreativitas, pengetahuan, dan komunitas pembaca.

Aktivitas literasinya juga menyentuh persoalan akses terhadap buku dan kebebasan berekspresi.

London Literature Festival 2026, misalnya, menghadirkan program bersama Koestler Arts yang menyoroti kreativitas individu dalam sistem peradilan pidana.

Keterlibatan dalam ruang budaya semacam ini menunjukkan bahwa literasi dapat menjadi sarana untuk memperluas perspektif sekaligus membuka percakapan mengenai persoalan sosial.

Meski demikian, langkah Dua Lipa tidak serta-merta membuktikan bahwa penggemarnya akan menjadi pembaca aktif.

Pengaruh jangka panjangnya bergantung pada kemampuan komunitas literasi mempertahankan keterlibatan audiens setelah perhatian publik terhadap festival mereda.

Sisi Lain Dua Lipa yang Membuktikan Pesonanya Tak Hanya di Panggung

Kehadiran Dua Lipa di London Literature Festival 2026 memperlihatkan bahwa pesona seorang bintang pop tidak selalu bergantung pada sorotan lampu konser.

Dari diskusi bersama penulis dunia hingga penampilan Chanel dan Prada yang menarik perhatian, ia berhasil mempertemukan sastra, musik, dan fashion dalam satu ruang budaya.

Namun, hal paling menarik bukanlah pilihan busananya atau deretan tokoh terkenal yang ditemuinya.

Melainkan bagaimana ia memanfaatkan popularitas untuk memperkenalkan buku kepada audiens yang lebih luas.

Di tengah dominasi hiburan digital dan konten serba cepat, langkah Dua Lipa menjadi pengingat bahwa membaca tetap relevan, bahkan dalam kehidupan seorang superstar internasional.

Dua Lipa mungkin dikenal dunia lewat musiknya. Namun, melalui sastra, ia menunjukkan bahwa pengaruh seorang bintang bisa melampaui panggung hiburan.

(southbankcetral/martincidmagazine/recordoftheday/elle/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN