Monday, October 26, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Dulu Pramugari Singapore Airlines, Kini Lawan Kanker Otak Paling Ganas: Aku Ingin Bertahan Hidup

Mistar.idSenin, 26 Oktober 2026 pukul 06.00 WIB
dulu_pramugari_singapore_airlines_kini_lawan_kanker_otak_paling_ganas_aku_ingin_bertahan_hidup_

Mantan pramugari maskapai Singapore Airlines, Teresa Hon, didiagnosis kanker otak dan menjalani operasi untuk mengangkat sebagian dari tumornya yang berukuran 6cm. (Foto: Bjorn Chua/cna.id)

Jakarta, MISTAR.ID (26/10/2026)– Dalam sebulan, hidup Teresa Hon berubah total. Dari seorang perempuan yang sibuk merancang masa depan, ia harus menghadapi kenyataan pahit menjalani operasi otak akibat glioblastoma, kanker otak paling ganas yang tidak dapat disembuhkan.

Dikutip mistar.id dari cna.id, Minggu (25/10/2026), dua pekan menjelang Natal 2025, Teresa Hon (31) menjalani operasi pengangkatan tumor otak berukuran lebih dari 6 sentimeter.

Letak tumor yang dekat dengan pusat fungsi vital membuat dokter tidak bisa mengangkat seluruhnya. Risikonya terlalu besar, mulai dari kehilangan kemampuan berbicara, gangguan pendengaran, hingga kelumpuhan.

Suaminya, Bjorn Chua, masih mengingat detik-detik istrinya dibawa ke ruang operasi yang diisi 10 hingga 20 tenaga medis. Operasi diperkirakan berlangsung 4 hingga 6 jam, tetapi dokter bedah saraf keluar hanya dalam dua setengah jam. Saat itu, Chua panik dan mengira istrinya meninggal.

Ternyata operasi berjalan sempurna. Ketika Hon berjuang di ruang perawatan intensif (ICU), Chua melakukan hal yang tampak tidak biasa, ia membawa mobil ke bengkel untuk dipasangi kaca film. Bukan tanpa alasan, ia tahu istrinya tidak ingin ada orang yang melihat kondisinya saat itu. Ia ingin mobil menjadi tempat yang aman bagi istrinya selama pemulihan.

Kehidupan Hon runtuh hanya dalam sebulan sejak gejala pertama muncul. Mantan pramugari Singapore Airlines berparas cantik itu mengalami muntah hebat, kejang, dan nyeri kepala tak tertahankan hingga harus menjambak rambutnya sendiri. Ia tidak mampu berjalan sempurna dan harus menggunakan kursi roda. Sebelum operasi, matanya juling karena tumor menekan saraf.

KETIKA HIDUP BERUBAH TOTAL

Glioblastoma merusak hampir seluruh fungsi otak, mulai dari kognitif, ingatan, kemampuan berbahasa, kepribadian, pergerakan, hingga penampilan. Bagi Hon, perubahan itu datang begitu cepat dan tanpa aba-aba.

APA ITU GLIOBLASTOMA?

Dokter yang menangani Hon, Dr. Valerie Yang Shiwen dari OncoCare Cancer Centre, menjelaskan:

1. Langka dan sangat ganas: Hanya tercatat sekitar 100 kasus glioblastoma di Singapura setiap tahun.

2. Penyebab belum diketahui: Diduga ada faktor genetik bawaan yang membuat sebagian orang rentan.

3. Gejala: Sakit kepala berkepanjangan, kejang, penurunan fungsi saraf seperti lemas, sulit berbicara, gangguan penglihatan, penurunan daya ingat, dan perubahan kepribadian.

4. Pengobatan: Operasi untuk mengangkat tumor sebanyak mungkin secara aman, dilanjutkan radiasi dan kemoterapi. Pengangkatan total sering kali tidak mungkin karena berisiko merusak struktur otak vital yang dapat menyebabkan kelumpuhan, kehilangan kemampuan berbicara, hingga koma.

5. Harapan hidup: Rata-rata penderita bertahan 12 hingga 18 bulan.

Pasangan ini menikah pada 2023. "Kami menjalani hidup, mimpi, dan membuat rencana masa depan bersama, pergi ke gym, bermain golf, dan sering bepergian," ungkap Hon kepada CNA Women.

Pada 2025, ia resign dari Singapore Airlines dan bekerja sebagai staf ritel di Marina Bay Sands. Saat itulah sakit kepala hebat menyerang. Obat pereda nyeri tak mempan. Rasanya seperti dipukul palu. Ia muntah terus-menerus hingga cairan lambung keluar.

Hasil pemeriksaan MRI menunjukkan tumor sangat besar, hampir menutupi sepertiga otaknya. Vonisnya: glioblastoma stadium 4. Pada 10 Desember, ia dirawat untuk persiapan operasi.

Kejangnya semakin parah. "Dia menarik rambutnya begitu kencang sampai saya sulit membuka genggamannya. Saya takut kulit kepalanya tercabut," kenang Chua.

Namun, menjelang operasi, Hon justru tampak tenang. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja nanti," katanya.

Dokter berhasil mengangkat lebih dari 40 persen tumor. Saat Chua menjenguk di ICU, Hon sudah sadar dan tersenyum, "Halo, sayang."

MENATA KEMBALI KEHIDUPAN

Hon tidak ingat masa menjelang operasi. Setelah sadar, semua kenangan kembali sekaligus. "Begitu terbangun, hidup saya tidak lagi sama," ujarnya.

Operasi meninggalkan bekas sayatan panjang di kulit kepala dan area tanpa rambut. Wajahnya bengkak dan tubuhnya membesar dari ukuran XS/S menjadi M/L akibat efek steroid untuk mengurangi peradangan otak.

Selama rawat inap, perilakunya berubah seperti anak kecil. Ia pernah meminta perawat menyanyikan lagu Jay Chou favoritnya. Kondisinya membaik sekitar sebulan setelah pulang dari rumah sakit pada 29 Desember 2025.

Ia kemudian menjalani radiasi setiap hari selama enam minggu dan hingga kini masih menjalani kemoterapi. Ia terpaksa resign dan tidak bisa lagi menikmati golf dan gym. Hasil MRI lutut bahkan menunjukkan jaringan tulangnya mati akibat penyumbatan pembuluh darah efek konsumsi steroid jangka panjang.

"Penampilan saya, kaki saya, dan hidup saya, semua berubah. Saya merasa tidak punya masa depan," pikirnya saat itu.

Ia sempat menarik diri dari dunia. "Saya tidak berbicara dengan siapa pun. Saat bertemu teman, saya menghindar. Saya lebih banyak di rumah atau di dalam mobil. Saya tidak mau orang melihat kondisi saya," katanya.

Keluargalah yang menjadi kekuatannya untuk bangkit. Chua mengesampingkan pekerjaannya sebagai direktur senior di agensi properti demi merawat istrinya. Ia bahkan membersihkan bekas luka di kepala Hon dengan pinset demi merangsang pertumbuhan rambut baru.

Biaya pengobatan sangat besar, mencapai S$300.000 hingga S$400.000. Ibu mertuanya, Linda Gan (70), bahkan menawarkan menjual apartemennya untuk membantu, meski ditolak pasangan tersebut. Setiap hari, Linda memasak 4 hingga 5 jenis hidangan untuk Hon. "Jari-jemari ibu mertua sampai mengerut dan berdarah karena mencuci," kata Hon haru.

Kasih sayang itu perlahan menumbuhkan keberanian. Tumor Hon kini menyusut lebih dari separuh ukuran semula. Pergerakannya membaik dan ia sudah bisa kembali bermain golf.

Meski tahu glioblastoma tidak dapat disembuhkan, Hon tidak ingin menyerah. Karena kanker menyebar cepat, ia tidak sempat membekukan sel telur sebelum kemoterapi yang dapat mengganggu kesuburan. Namun, ia dan suami telah berdamai. Mereka memiliki anjing toy poodle kesayangan dan berencana menambah peliharaan serta bermimpi keliling dunia bersama.

Pernah suatu ketika Hon berkata ingin menyerah. "Dia bisa mencari perempuan lain, menikah lagi, dan melupakan saya," ungkap Hon.

Chua menangis dan menolak. "Saya tidak mau menikah lagi. Saya cuma punya satu istri. Saya akan bertahan dengan yang saat ini," tegasnya.

Mendengar itu, air mata Hon tumpah. Setelah jeda, ia berbisik lirih, "Sekarang kalau diingat kembali, saya sadar betapa konyolnya saya berpikir begitu. Saya tidak takut. Saya ingin melawan."(cna.id/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN