Harga Avtur Tembus US$206 per Barel, Maskapai Dunia Tertekan hingga 2027

PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Soekarno-Hatta memasok 92.901 liter avtur ke pesawat Airbus A380 Emirates yang mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. (foto: dok PPN via Liputan 6)
Medan, MISTAR.ID - Harga bahan bakar pesawat atau avtur melonjak hingga US$206 per barel, mencapai level tertinggi sejak konflik Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Kenaikan tersebut menambah tekanan terhadap biaya operasional maskapai dan memunculkan kekhawatiran terhadap harga tiket pesawat hingga 2027.
Laporan Forbes yang ditulis Suzanne Rowan Kelleher pada 23 Oktober 2026 menyebutkan harga avtur di Amerika Serikat mencapai US$4,90 per galon pada Kamis (22/10/2026), setara dengan sekitar US$206 per barel, mengacu pada Argus US Jet Fuel Index.
Menurut laporan tersebut, harga avtur telah meningkat 96 persen dibandingkan tingkat sebelum konflik Iran dimulai. Kenaikan biaya bahan bakar ini menjadi tantangan bagi maskapai yang harus menjaga profitabilitas di tengah perubahan kondisi pasar.
Dalam wawancara dengan Forbes, pakar manajemen risiko penerbangan dari McGill University, John Gradek, juga menyebutkan, ketika harga avtur melampaui US$200 per barel, maskapai menghadapi tekanan biaya yang sulit diimbangi melalui kenaikan tarif tiket.
Gradek memperkirakan harga avtur berpotensi mencapai US$225 per barel pada akhir Desember 2026.
Sementara itu, Henry Harteveldt, Presiden Atmosphere Research Group, menilai harga avtur dapat mencapai US$250 per barel apabila konflik Iran tidak mereda dan distribusi minyak melalui Selat Hormuz belum kembali normal.
Maskapai Mulai Menyesuaikan Strategi
Forbes juga melaporkan bahwa empat maskapai besar Amerika Serikat telah menurunkan proyeksi kinerja keuangan tahunan dengan alasan kenaikan biaya avtur.
Dalam situasi tersebut, maskapai dapat mempertimbangkan berbagai langkah, mulai dari menyesuaikan kapasitas penerbangan dan jadwal rute hingga mengupayakan kenaikan pendapatan untuk mengimbangi biaya operasional.
Tekanan biaya juga berpotensi memengaruhi konsumen. Forbes mengutip analisis industri yang menunjukkan bahwa harga tiket pesawat telah berada sekitar 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun permintaan perjalanan masih relatif bertahan, khususnya pada segmen penumpang premium.
Namun, sejumlah analis mulai melihat tanda-tanda pelemahan permintaan dari konsumen yang semakin terbebani biaya hidup. Kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan maskapai untuk terus menaikkan harga tiket tanpa memengaruhi jumlah penumpang.
Meski begitu, data menunjukkan bahwa kenaikan harga avtur tidak selalu berlangsung pada tingkat yang sama di setiap kawasan.
Dalam pemantauan harga bahan bakar pesawat yang dikutip Economic Times Middle East dari IATA Jet Fuel Price Monitor, rata-rata harga avtur dunia mencapai US$190,18 per barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober 2026. Pada periode yang sama, rata-rata harga di Eropa dan negara-negara CIS mencapai US$202,61 per barel, sedangkan kawasan Asia Pasifik tercatat US$175,44 per barel. (*)











































