Sunday, October 11, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Kisah Tengku Zahlia, Penyintas Kanker Payudara Stadium 4 yang Menolak Menyerah

Mistar.idMinggu, 11 Oktober 2026 pukul 18.56 WIB
kisah_tengku_zahlia_penyintas_kanker_payudara_stadium_4_yang_menolak_menyerah

Tengku Zahlia. (Foto:dokumen/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (11/10/2026) – “Habislah saya.”

Pikiran-pikiran itu sesekali muncul di benak Tengku Zahlia saat ia berbagi cerita tentang kanker payudara yang dideritanya. Pikiran itu muncul ketika hasil pemeriksaan membuktikan bahwa kanker payudara yang didiagnosis pada dirinya sejak 2021 mulai menyebar ke paru-parunya pada 2023.

Pada 2021, saat pandemi, perempuan asal Medan ini mendapat kabar bahwa dirinya didiagnosis menderita kanker payudara stadium 1. Zahlia tidak percaya bahwa pengobatan penyakitnya akan semakin rumit karena kanker tersebut berkembang hingga stadium 4.

Namun, Zahlia menghadapinya dengan kepala tegak.

Pengalaman Tengku Zahlia bukan hanya tentang bagaimana ia bertahan hidup dari sel-sel abnormal itu, tetapi juga sebuah kisah inspiratif tentang penerimaan, dukungan keluarga, arti deteksi dini kanker, dan upaya mengatasi mitos yang menyesatkan masyarakat mengenai kanker.

Kisah inspiratif ini bermula pada suatu hari Minggu pada 2021. Saat itu, pembatasan sosial diberlakukan karena pandemi Covid-19. Seperti biasa, Zahlia melakukan aktivitas fisik. Namun, suatu pagi, saat melakukan peregangan seperti biasanya, ia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa pada tubuhnya.

“Waktu itu saya lagi stretching, tarik tangan ke atas. Di situ saya merasa seperti ada otot yang ketarik di bagian payudara,” kata Zahlia mengenang momen tersebut, Minggu (11/10/2026).

Dari tarikan kecil yang dirasakannya, ia menyadari adanya benjolan yang tidak biasa. Benjolan itu tidak terlalu besar sehingga pada awalnya ia tidak terlalu memikirkannya. Namun, keluarganya memiliki riwayat kanker. Ibunya merupakan seorang penyintas kanker. Dari pengalaman ibunya, Zahlia tahu bahwa kesehatan payudara bukanlah hal yang asing baginya dan adiknya. Ia dan adiknya telah dibekali kewaspadaan terhadap kondisi tersebut karena faktor genetik.

Zahlia tidak ingin membuang waktu. Keesokan harinya, ia meminta suaminya mengantarnya ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan. Bahkan sebelum memasuki ruang pemeriksaan, Zahlia sudah merasa tidak nyaman dan khawatir. Kekhawatiran itu muncul karena riwayat penyakit ibunya masih menghantui pikirannya dan adik-adiknya.

Pemeriksaan oleh dokter umum dilakukan dengan sangat serius. Setelah itu, ia segera dirujuk ke dokter spesialis onkologi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Di klinik onkologi, Zahlia menjalani sejumlah pemeriksaan, termasuk ultrasonografi (USG), rontgen dada, dan biopsi, yakni prosedur pengambilan sampel jaringan untuk diuji di laboratorium.

Menunggu hasil pemeriksaan medis di tengah aturan pandemi yang ketat pada 2021 bukanlah hal yang mudah. Prosesnya pun tidak singkat. Ada masa ketika jantungnya berdebar-debar, mulai dari pengambilan sampel hingga dokter mengumumkan hasil pemeriksaannya.

“Dokter mengonfirmasi itu kanker,” ucap Zahlia lirih saat mengingat momen ketika dokter mengumumkan hasil pemeriksaannya.

Zahlia bercerita, saat itu bukan tangisan histeris yang keluar, melainkan kehampaan. Ia merasa seolah-olah jiwanya terlempar dari ruangan tempat ia duduk dan tidak lagi menyatu dengan raganya.

“Sempat bengong, seperti tidak percaya,” ujarnya. “Dokter menjelaskan, kanker katanya, saya masih bengong. Rasanya seperti nggak ada di ruangan itu, pulang pun masih mencerna saking syoknya.”

Meskipun telah menyadari risiko tersebut sejak dini karena pengalaman ibunya di masa lalu, kenyataan ini tetap pahit untuk dihadapi. Kenyataan itu berdampak besar pada kondisi psikologisnya. Zahlia tidak pernah membayangkan bahwa meskipun ada penyintas di sekelilingnya, hidupnya sendiri bisa begitu terpengaruh oleh diagnosis tersebut.

Menghadapi diagnosis bukan hanya soal obat-obatan, tetapi juga seperti melawan tantangan psikologis yang menguras hampir seluruh energi. Zahlia tidak menyangkal bahwa tahap awal setelah didiagnosis menjadi perjalanan emosi yang naik turun baginya. Ada kemarahan, keputusasaan, pertanyaan filosofis “Kenapa saya?”, hingga keinginan untuk melawan situasi tersebut.

Tahap penerimaan menjadi masa yang sangat sulit baginya. Namun, ia tidak memiliki pilihan selain melewatinya. Ia menyadari bahwa setiap orang yang didiagnosis menderita kanker bisa melewati tahap kemarahan dan keputusasaan. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang dapat terus melangkah setelah badai emosi itu mereda.

Di tengah gejolak psikologis yang besar, keluarganya menjadi sumber kekuatan terbesar. Suami Zahlia, yang berpengalaman mendampingi ibu mertuanya saat menjalani pengobatan kanker hingga meninggal dunia, memberikan pemahaman yang mendalam tentang kondisi tersebut. Suami dan anggota keluarga lainnya selalu berada di sisinya, memberikan dukungan tanpa henti saat ia menghadapi gejolak psikologis.

Ketika ditanya apa yang paling ia butuhkan saat pertama kali didiagnosis mengidap kanker payudara, jawaban Zahlia sangat manusiawi, yakni “dipahami”.

“Karena emosi itu bergejolak, marah dan sedih. Dipahami kalau kita mau diam, diam saja,” tuturnya. Ia menyadari bahwa memendam kesedihan terlalu lama bisa merusak kesehatan mental. Namun, ia bersyukur dapat melewati masa-masa kelam karena ditemani orang-orang tercinta.

“Sekarang bagaimana kita maju, tidak mungkin terus-menerus marah dan sedih, mau jadi apa hidup kita, kan? Sudah ada keluarga yang menyemangati, masa disia-siakan,” katanya dengan nada penuh keteguhan.

Dengan mengungkapkan kisah tentang kanker, Zahlia menunjukkan bahwa pengobatan kanker bersifat individual dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Bahkan, pasien yang didiagnosis dengan jenis dan stadium kanker yang sama dapat menjalani pengobatan yang berbeda.

Zahlia didiagnosis menderita kanker payudara dengan karakteristik HER2. Langkah pertama yang diambil dokter adalah operasi pengangkatan payudara melalui prosedur yang disebut mastektomi untuk mengangkat jaringan yang mengandung sel kanker.

Setelah pulih dari operasi, Zahlia menjalani delapan siklus kemoterapi. Bagi banyak pasien, kemoterapi merupakan proses yang menakutkan. Namun, Zahlia menjalaninya sesuai dengan jadwal dan arahan medis, meskipun efek sampingnya sangat berat bagi tubuhnya.

Kelelahan, penurunan kadar hemoglobin yang membuatnya harus menjalani transfusi darah, kulit kering, hingga kerontokan rambut merupakan beberapa efek yang dialaminya selama menjalani kemoterapi. Zahlia mengingat masa ketika rambutnya mulai banyak rontok menjelang siklus kemoterapi kedua, yang dijadwalkan dengan jarak 21 hari.

“Selesai kemo pertama menjelang kemo kedua, itu udah rontok. Saya gini, oh langsung rontok ya. Di situ hati hancur,” kenangnya lirih.

Melihat dirinya sendiri di cermin dengan kepala tanpa rambut dan alis yang mulai rontok membuat Zahlia menangis. Ia bertanya-tanya berapa lama lagi tubuhnya mampu bertahan secara fisik menghadapi situasi tersebut. Namun, canda ringan dokter untuk mencairkan suasana kembali memberinya keberanian sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan pengobatan.

Setelah menjalani delapan siklus kemoterapi dan pulih, Zahlia mulai membangun kembali kehidupannya. Ia menyesuaikan diri, melakukan olahraga ringan, dan berpartisipasi dalam kegiatan yang membuatnya lebih bahagia. Zahlia juga mengingat masa sebelum menikah, ketika ia bekerja di lingkungan dengan paparan bahan kimia tinggi hingga akhirnya memilih mengundurkan diri demi merencanakan kehidupan berkeluarga.

Namun, kehidupan kembali menguji Zahlia pada 2023. Saat menjalani pemeriksaan rutin setiap enam bulan melalui CT scan, ia merasakan adanya perubahan pada tubuhnya. Zahlia menyatakan bahwa kewaspadaan seorang penyintas kanker terhadap perubahan kondisi tubuh biasanya meningkat, sekecil apa pun perubahan tersebut.

“Sebenarnya, istilahnya radar bagi penyintas kanker sudah tinggi untuk menangkap sinyal-sinyal dalam tubuh,” ucapnya.

Menjelang pemeriksaan CT scan keenamnya pada 2023, ia mulai merasakan sesak napas. Napasnya terasa cepat dan pendek, terutama pada malam hari sebelum tidur. Saat melihat hasil CT scan, ia menyadari kenyataan yang menyakitkan, yakni sel kanker telah menyebar ke paru-parunya.

Dalam kondisi tersebut, dokter yang merawat Zahlia sempat meragukan hasil CT scan karena sebelumnya ia didiagnosis menderita kanker stadium 1. Selain itu, Zahlia dikenal aktif dan memahami kondisinya sendiri. Karena itu, dokter meminta dua dokter spesialis radiologi lainnya untuk meninjau kembali hasil CT scan tersebut.

Setelah menunggu selama seminggu, Zahlia kembali menghadapi ujian mental yang luar biasa berat.

“Habislah saya kali ini,” ujarnya dengan napas berat saat mengenang situasi tersebut.

Namun, Tuhan punya rencana lain. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, sel kanker telah menyebar ke paru-parunya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyakitnya telah mencapai stadium 4. Ia tidak lagi menjalani kemoterapi konvensional, melainkan terapi yang ditargetkan sesuai dengan karakteristik HER2 positif pada kankernya. Ia mengungkapkan bahwa terapi tersebut tidak terlalu memengaruhi kondisi tubuhnya secara signifikan.

Perjalanan medisnya berlanjut hingga 2025, ketika kanker kembali menyebar ke tulang. Hingga kini, Zahlia masih harus pergi ke rumah sakit setiap bulan untuk menjalani pengobatan khusus. Namun, pengobatan ini kerap disalahartikan masyarakat sebagai kemoterapi tulang, padahal terapi penguat tulang dapat diberikan sesuai kebutuhan dan kondisi medis pasien.

Bagi Zahlia, istilah “sembuh total” jarang digunakan secara mutlak dalam penanganan kanker yang telah menyebar. Istilah yang lebih tepat dalam kondisi tertentu adalah remisi, yakni keadaan ketika tanda-tanda kanker berkurang atau tidak terdeteksi melalui pemeriksaan, meskipun pemantauan medis tetap diperlukan.

Tujuan utama Zahlia dalam komunitas penyintas adalah membantu menghilangkan sejumlah mitos yang telah lama tertanam di masyarakat. Ketidaktahuan merupakan salah satu hambatan besar yang dapat membuat pasien kanker terlambat mendapatkan penanganan.

Masyarakat cenderung percaya bahwa kemoterapi adalah racun yang membunuh orang. Namun, Zahlia menjelaskan bahwa efek samping prosedur ini bervariasi pada setiap orang, bergantung pada kondisi tubuh pasien, jenis obat yang digunakan, dan stadium kanker saat pengobatan dimulai.

“Kalau dia menerima kemoterapi saat masih stadium awal, kesempatan sembuhnya bisa lebih besar daripada stadium akhir,” ujar Zahlia menjelaskan.

Ia menyadari bahwa banyak pasien menghindari terapi apa pun karena ketakutan hingga akhirnya datang ke rumah sakit ketika kondisi penyakit sudah semakin parah. Pada tahap yang sangat terlambat, pilihan pengobatan bisa semakin terbatas dan peluang keberhasilannya dapat menurun. Situasi ini membuat kemoterapi kerap menjadi kambing hitam.

Mitos lain yang paling umum adalah anggapan bahwa biopsi atau operasi pada benjolan kanker sama seperti “membangunkan singa yang sedang tidur”. Sebagian masyarakat awam beranggapan bahwa jika tidak diganggu, kanker tidak akan menyebar. Padahal, tindakan medis yang dilakukan dengan prosedur yang tepat tidak serta-merta menyebabkan kanker menyebar.

Melalui pengalamannya di unit onkologi, Zahlia menggunakan pemahaman medis untuk membantah mitos tersebut. Ada pasien yang menolak pengobatan medis dan membiarkan penyakitnya berkembang karena terpengaruh mitos ini. Akibatnya, tumor dapat terus tumbuh dan menyebar hingga mengancam nyawa ketika pilihan pengobatan semakin terbatas. Biopsi dan operasi merupakan bagian penting dalam diagnosis dan penanganan kanker sesuai indikasi medis.

Selain itu, Zahlia tidak sepenuhnya menolak pengobatan alternatif, termasuk penggunaan obat herbal. Ia terkadang mengonsumsi minuman sederhana dalam jumlah kecil, seperti teh kunyit buatan sendiri. Namun, ia tetap memegang prinsip utama, yakni selalu memberi tahu dokter tentang penggunaan pengobatan alternatif apa pun.

Hidup dengan kanker sudah sangat sulit jika harus ditanggung sendiri. Itulah sebabnya Zahlia dan para penyintas lainnya membangun komunitas bernama Medan Breast Cancer Community (MBCC) pada 2022.

Komunitas MBCC merupakan hasil inisiatif para penyintas tanpa pengaruh dari pihak luar. Di dalam komunitas ini, para perempuan yang berjuang melawan kanker payudara berkumpul untuk berbagi pengalaman dan perasaan, saling mendukung, serta memberikan informasi praktis tentang rumah sakit dan BPJS Kesehatan.

Bagi Zahlia, komunitas ini bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan juga pelukan yang menyampaikan pesan kepada setiap penyintas baru, “Kamu tidak sendiri.”

Sebagian penyintas masih mengalami depresi yang membuat mereka mengisolasi diri dari dunia luar. Komunitas MBCC tidak hanya memberikan dukungan emosional, tetapi juga berupaya mengedukasi masyarakat dengan meluruskan mitos tentang kanker.

Zahlia juga mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat sebagaimana dianjurkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui akronim CERDIK.

C – Cek kesehatan secara berkala. Deteksi dini membantu menemukan penyakit lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

E – Enyahkan asap rokok.

R – Rajin beraktivitas fisik dan berolahraga secara teratur sesuai kemampuan tubuh.

D – Diet sehat dengan gizi seimbang.

I – Istirahat yang cukup. Zahlia menekankan pentingnya tidur malam yang berkualitas untuk menjaga kesehatan tubuh.

K – Kelola stres dengan baik, menjaga ketenangan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Baginya, pada usia yang kini menginjak 50 tahun, perjalanan hidup sebagai ibu rumah tangga yang pernah didiagnosis menderita kanker stadium 4 bukanlah akhir dari produktivitas. Sebaliknya, ia menganggapnya sebagai anugerah kehidupan gelombang kedua yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Ia tidak lagi menyia-nyiakan waktu. Dengan disiplin menjalani terapi bulanan, menjaga pola makan, serta membentengi mental melalui keimanan dan dukungan keluarga, Zahlia berdiri bagai mercusuar harapan.

Kisah Zahlia menjadi pengingat bahwa di balik diagnosis yang sangat menakutkan sekalipun, selalu ada ruang untuk keberanian, ketulusan, dan tekad untuk tidak menyerah serta terus melangkah maju. Sebab, hidup dengan segala misterinya selalu layak untuk diperjuangkan. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN