Studi Ungkap Nyeri Pinggang Kronis Picu Respons Otak Berbeda

Ilustrasi nyeri pinggang (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta,MISTAR.ID - Nyeri pinggang kronis ternyata melibatkan respons otak yang berbeda dari rasa sakit akut. Penelitian terbaru menemukan bahwa lonjakan nyeri setelah gerakan tertentu berkaitan dengan peningkatan aktivitas default mode network (DMN), jaringan otak yang berperan dalam refleksi diri, ingatan pribadi, dan pikiran yang mengembara.
Studi yang diterbitkan dalam British Journal of Anaesthesia pada 5 Oktober ini memberikan wawasan baru tentang cara otak memproses nyeri yang berlangsung lama.
Gerakan Sederhana Bisa Memicu Lonjakan Nyeri
Penelitian ini melibatkan 114 orang dewasa yang mengalami nyeri punggung bawah kronis selama sedikitnya tiga bulan. Peneliti menggunakan teknologi functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk mengamati perubahan aktivitas otak peserta.
Dalam eksperimen, kaki peserta diangkat hingga rasa sakit di bagian pinggang meningkat. Posisi tersebut dipertahankan selama 10 detik sebelum aktivitas otak kembali diperiksa. Prosedur ini meningkatkan intensitas nyeri yang dilaporkan peserta rata-rata sebesar 23 persen.
Selain mengaktifkan wilayah otak yang memproses rasa sakit dan gerakan, kondisi tersebut juga meningkatkan aktivitas DMN. Temuan ini mengejutkan para peneliti karena jaringan tersebut umumnya menunjukkan penurunan aktivitas ketika seseorang mengalami nyeri akut.
Fadel Zeidan, ahli saraf dari University of California, San Diego, mengatakan keterlibatan DMN dalam respons nyeri yang dipicu gerakan tidak diperkirakan sebelumnya.
Nyeri Kronis Berbeda dari Nyeri Akut
Untuk membandingkan respons otak, peneliti juga memberikan rangsangan panas yang menyakitkan pada betis peserta. Berbeda dengan nyeri pinggang yang kambuh akibat gerakan, rangsangan panas berkaitan dengan penurunan aktivitas pada sebagian jaringan DMN.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa nyeri kronis mungkin melibatkan mekanisme otak yang lebih kompleks daripada sekadar pemrosesan sensasi fisik.
Peneliti juga menemukan bahwa peserta dengan nyeri punggung lebih berat memiliki hubungan konektivitas yang lebih kuat antara DMN dan wilayah otak yang memproses sensasi dari punggung.
Meski demikian, hasil ini tidak berarti nyeri kronis hanya berasal dari pikiran. Rasa sakit yang dialami pasien tetap nyata, sementara aktivitas otak yang terlibat menunjukkan betapa kompleksnya pengalaman nyeri berkepanjangan.
Peluang Baru untuk Penanganan Nyeri Kronis
Temuan ini membuka peluang penelitian mengenai pendekatan penanganan nyeri kronis, termasuk meditasi kesadaran penuh (mindfulness) dan terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT).
Tim peneliti tengah mengkaji apakah pendekatan tersebut dapat memengaruhi jaringan otak yang berkaitan dengan pengalaman nyeri. Namun, penelitian ini belum membuktikan bahwa kedua metode itu mampu meredakan nyeri melalui perubahan aktivitas DMN.
Para ahli juga mengingatkan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan apakah perubahan aktivitas otak menyebabkan nyeri kronis atau justru merupakan respons terhadap rasa sakit yang berlangsung lama.
Untuk saat ini, hasil studi tersebut memperluas pemahaman tentang bagaimana otak merespons nyeri pinggang kronis dan dapat menjadi landasan bagi penelitian terapi yang lebih terarah di masa depan.
PREVIOUS ARTICLE
Asap Karhutla Selimuti Sumut, Dinkes Imbau Warga Terapkan PHBS





















































