Monday, October 19, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Studi Ungkap Golongan Darah B Berisiko Lebih Tinggi Terkena Diabetes Tipe 2

Mistar.idSenin, 19 Oktober 2026 pukul 15.42 WIB
studi_ungkap_golongan_darah_b_berisiko_lebih_tinggi_terkena_diabetes_tipe_2

Ilustrasi: (foto: Getty Images/Mistar)

Jakarta, MISTAR.ID - Risiko diabetes tipe 2 umumnya dikaitkan dengan pola makan, aktivitas fisik, dan berat badan. Namun, sejumlah penelitian juga menemukan kemungkinan adanya hubungan antara golongan darah dan risiko seseorang mengalami penyakit tersebut.

Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal BMC Medicine menemukan bahwa orang dengan golongan darah B memiliki risiko diabetes tipe 2 lebih tinggi dibandingkan pemilik golongan darah non-B, baik dengan rhesus positif maupun negatif.

Dalam analisis tersebut, peningkatan risiko tercatat sekitar 28 persen. Meski demikian, temuan ini tidak berarti setiap orang bergolongan darah B akan mengalami diabetes. Risiko penyakit tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk kondisi kesehatan dan kebiasaan sehari-hari.

Penelitian yang dipimpin epidemiolog Fang-Hua Liu dari Shengjing Hospital of China Medical University itu mengevaluasi bukti ilmiah mengenai hubungan golongan darah ABO dan rhesus dengan berbagai kondisi kesehatan.

Tim peneliti menjelaskan bahwa hubungan antara golongan darah dan penyakit tertentu masih menjadi bahan perdebatan ilmiah. Untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh, mereka menelaah 51 tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mencakup 270 hubungan antarvariabel kesehatan.

Setelah melakukan penilaian ulang terhadap bukti yang tersedia menggunakan pengujian statistik yang ketat, para peneliti menemukan hubungan antara golongan darah B dan diabetes tipe 2 sebagai salah satu temuan yang menunjukkan bukti paling kuat dan konsisten dalam analisis tersebut.

Meski demikian, hasil penelitian ini perlu dipahami secara proporsional. Adanya hubungan statistik tidak serta-merta membuktikan bahwa golongan darah B menjadi penyebab langsung diabetes tipe 2.

Para ahli mengingatkan bahwa faktor gaya hidup tetap perlu mendapat perhatian dalam upaya mencegah diabetes tipe 2. Pola makan yang seimbang, aktivitas fisik teratur, dan pengelolaan berat badan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan metabolisme.

Sebagai perbandingan, sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan konsumsi daging olahan sebanyak 50 gram per hari dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 sekitar 37 persen. Sementara itu, gaya hidup sedentari atau kebiasaan terlalu lama duduk dan minim bergerak juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit tersebut.

Kelebihan berat badan dan obesitas turut menjadi faktor risiko penting yang perlu dikendalikan. Karena itu, golongan darah sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya acuan untuk menilai kemungkinan seseorang terkena diabetes.

Hingga kini, mekanisme biologis yang mungkin menjelaskan hubungan antara golongan darah B dan diabetes tipe 2 belum sepenuhnya dipahami.

Sejumlah penelitian lanjutan mulai mengeksplorasi kemungkinan keterlibatan faktor biologis lain, termasuk mikrobioma usus atau kumpulan mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan. Namun, dugaan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan perannya.

Dengan demikian, memiliki golongan darah B bukan berarti seseorang pasti akan mengalami diabetes tipe 2. Risiko penyakit ini terbentuk dari berbagai faktor yang saling berkaitan.

Menjaga pola makan, rutin berolahraga, mempertahankan berat badan sehat, serta melakukan pemeriksaan gula darah sesuai kebutuhan tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko diabetes.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN