Monday, October 19, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Keguguran Berulang Bisa Berkaitan dengan Sindrom Antifosfolipid

Mistar.idSenin, 19 Oktober 2026 pukul 06.00 WIB
keguguran_berulang_bisa_berkaitan_dengan_sindrom_antifosfolipid

Ilustrasi. (Foto: Klik Dokter)

Jakarta, MISTAR.ID – Perempuan yang mengalami keguguran berulang perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan autoimun, salah satunya sindrom antifosfolipid atau anti-phospholipid syndrome (APS).

Kondisi ini dapat mengganggu proses awal kehamilan, termasuk penempelan embrio di dalam rahim. Karena itu, pemeriksaan antibodi menjadi salah satu langkah yang perlu dipertimbangkan dokter ketika menangani kasus keguguran berulang.

Spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Kanadi Sumapradja, Sp.O.G, Subsp.F.E.R., M.Sc., mengatakan penyakit autoimun yang tidak ditangani dengan baik berpotensi meningkatkan risiko keguguran berulang.

"Beberapa kejadian penyakit autoimun yang kemungkinan tidak dilakukan terapi dengan baik bisa saja berpotensi untuk memicu terjadinya keguguran berulang," papar dr. Kanadi secara virtual, dilansir dari Kompas.com, Minggu (18/10/2026).

Salah satu gangguan yang menjadi perhatian dokter adalah sindrom antifosfolipid. Penyakit ini berkaitan dengan keberadaan antibodi yang menyerang komponen tubuh sendiri dan dapat meningkatkan risiko pembekuan darah.

"Salah satu kondisi penyakit autoimun yang banyak dihubungkan dengan kejadian keguguran berulang adalah sindrom anti-fosfolipid," kata dr. Kanadi.

Salah satu pemeriksaan yang dikenal masyarakat untuk mendeteksi antibodi tersebut adalah tes ACA (anti-cardiolipin antibody). Antibodi antifosfolipid dapat mengganggu proses penempelan embrio pada tahap awal kehamilan.

"Kehadiran antibodi anti-fosfolipid ini dapat mengganggu proses penempelan janin di awal kehamilan," terang dr. Kanadi.

Siapa yang Perlu Menjalani Pemeriksaan?

Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis APS mencakup tiga jenis tes darah, yakni anti-cardiolipin antibody, anti-beta 2 glycoprotein 1, dan lupus anticoagulant.

Penapisan perlu dipertimbangkan pada perempuan dengan riwayat tiga kali keguguran berturut-turut sebelum usia kehamilan 10 minggu.

"Ada kriteria klinik yang di mana terjadi keguguran berulang-ulang di bawah usia kehamilan 10 minggu," ucap dr. Kanadi.

Pemeriksaan juga ditujukan bagi perempuan yang pernah mengalami satu kali kematian janin pada usia kehamilan 10 minggu atau lebih, dengan kondisi janin berkembang normal.

Selain itu, skrining dapat dilakukan pada ibu yang mengalami komplikasi kehamilan berat, seperti preeklamsia, lepasnya plasenta dari dinding rahim, gangguan pertumbuhan janin, hingga asfiksia akibat kekurangan pasokan oksigen.

Menurut dr. Kanadi, pemeriksaan APS penting karena gejala atau manifestasi gangguan tersebut sering kali baru terlihat ketika perempuan sedang hamil.

"Biasanya manifestasi dari sindrom anti-fosfolipid ini hanya muncul saat kehamilan. Kalau lagi enggak hamil, enggak ada sesuatu. Makanya ini dianjurkan untuk di-screening," ungkap dr. Kanadi.

Dengan pemeriksaan yang tepat, gangguan tersebut dapat dikenali sehingga dokter bisa menentukan penanganan sesuai kondisi pasien sebelum maupun selama kehamilan. (Kompas)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN