Abaikan Masker saat Kabut Asap, Lima Bahaya Kesehatan Ini Mengintai

dr Muhammad Harbi Praditya, M.Ked(Paru), Sp.P. (foto :berry/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa provinsi di Indonesia membuat masyarakat harus mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Namun, tak sedikit masyarakat yang masih mengabaikan penggunaan masker di tengah situasi tersebut.
Dokter Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik Medan, dr Muhammad Harbi Praditya, M.Ked(Paru), Sp.P, mengatakan warga yang menghirup asap tanpa perlindungan seperti masker menanggung bahaya di tiga lapis yaitu saluran napas, paru, dan di luar paru meliputi jantung dan pembuluh darah.
"Bahayanya tidak selalu terasa pada hari yang sama, sehingga banyak masyarakat mengira bahwa dirinya baik-baik saja," ujar Dokter Spesialis Paru itu kepada Mistar, Senin (19/10/2026).
Dijelaskan Harbi, terdapat lima bahaya mengintai masyarakat di tengah buruknya kualitas udara khususnya di wilayah Sumut yang terdampak kabut asap akibat karhutla.
"Pertama iritasi akut pada mata, hidung, dan tenggorokan. Mata perih dan berair, hidung tersumbat, tenggorokan gatal maupun batuk sebagai gejala atau dampak yang paling cepat muncul," ucapnya.
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara itu, menyebutkan bahaya kedua yaitu infeksi saluran napas karena asap merusak pertahanan alami saluran napas di tubuh.
Kondisi itu membuat kuman lebih mudah menetap sehingga risiko penyakit Infeksi Saluran Penasaran Akut (ISPA), bronkitis, dan pneumonia atau paru-paru basah meningkat.
"Ketiga, serangan pada penyakit paru yang sudah ada. Asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dapat kambuh atau memburuk, kadang sampai perlu rawat inap dan beban pada jantung maupun pembuluh darah," kata Harbi.
Dirinya mengatakan, peningkatan kadar partikel udara sangat kecil berukuran 2,5 mikrometer (PM2.5) memicu peradangan yang dapat mempengaruhi organ lain di tubuh masyarakat.
Dampak PM2.5 ini membuat masyarakat penderita penyakit jantung berisiko mengalami nyeri dada atau berdebar. Kemudian pada janin, bayi, dan anak, paru mereka masih berkembang dan lebih sensitif.
Asisten Manajer Perencanaan dan Pelaksanaan Pelayanan Medik RSUP H Adam Malik itu menegaskan paparan asap saat hamil dikaitkan dengan kelahiran prematur dan berat lahir rendah (SK Prevention).
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER








































