Tuesday, October 20, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Dokter Paru Jelaskan Perbedaan Polusi Udara Perkotaan dan Asap Karhutla

Mistar.idSelasa, 20 Oktober 2026 pukul 15.40 WIB
dokter_paru_jelaskan_perbedaan_polusi_udara_perkotaan_dan_asap_karhutla

Ilustrasi. (Foto: Antara/Mistar)

Jakarta, MISTAR.ID - Polusi udara di perkotaan dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sama-sama mengandung zat pencemar yang dapat berdampak terhadap kesehatan. Meski demikian, keduanya memiliki perbedaan dari segi komposisi zat, sumber pencemaran, hingga tingkat konsentrasinya.

Spesialis paru, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengatakan kedua jenis polusi tersebut secara umum terdiri atas gas dan partikel. Namun, asap karhutla dapat mengandung senyawa tertentu dari material yang terbakar sehingga karakteristik bahayanya tidak sepenuhnya sama dengan polusi udara perkotaan.

Dilansir dari Detik.com, Selasa (20/10/2026), Agus mengatakan komponen gas dalam polusi udara dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan dampaknya, yakni gas asfiksian dan gas iritan.

"Gas yang sama itu dua kelompok, yaitu gas yang sifatnya asfiksia yang dapat menyebabkan oksigen turun, yaitu karbon monoksida. Karbon monoksida itu bisa timbul dari kendaraan motor, mobil, industri, tapi juga bisa timbul dari kebakaran hutan," ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan kelompok gas lainnya yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan ditemukan dalam berbagai sumber pencemaran udara.

"Kedua, gas yang sifatnya iritan. Contohnya sulfur dioksida, nitrit oxide, ataupun beberapa yang lainnya. Itu ada di beberapa produk polusi udara dari kendaraan dan ada dari asap kebakaran hutan," katanya.

Selain gas, kedua sumber pencemaran tersebut juga menghasilkan partikel halus PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat berasal dari aktivitas kendaraan bermotor maupun pembakaran vegetasi dan material lainnya saat terjadi karhutla.

Meski memiliki sejumlah komponen yang sama, Agus menyebut asap karhutla dapat membawa partikel dan gas tambahan yang berasal dari bahan-bahan yang terbakar. Senyawa tertentu tersebut berpotensi memiliki tingkat toksisitas tinggi, bergantung pada jenis material dan kondisi pembakarannya.

Perbedaan lainnya terletak pada konsentrasi polutan. Dalam peristiwa karhutla berskala besar, asap yang dilepaskan dapat menumpuk dan menyebabkan kualitas udara memburuk secara signifikan, terutama di wilayah yang terdampak langsung.

"Perbedaan konsentrasi dari asap pembakaran hutan akan lebih tinggi, karena jumlahnya yang sangat besar," ucap Prof Agus.

Ia mencontohkan kondisi di Palangkaraya ketika langit terlihat berubah menjadi kuning hingga oranye akibat pekatnya asap. Perubahan warna langit tersebut menjadi gambaran visual adanya kabut asap, meskipun tingkat pencemaran yang sebenarnya tetap perlu dipastikan melalui pengukuran kualitas udara.

"Kalau kita lihat dan amati sehari-hari, di Kota Palangkaraya misalnya langitnya sampai kuning oranye. Itu menunjukkan besarnya konsentrasi asap kebakaran hutan itu polutannya jauh lebih besar, dibanding polusi udara. Itu secara garis besar (perbedaannya)," tuturnya.

Perbedaan sumber dan komposisi pencemar tersebut menunjukkan bahwa dampak polusi udara tidak hanya ditentukan oleh asal asap, tetapi juga jenis zat yang terkandung dan konsentrasinya. Karena itu, pemantauan kualitas udara menjadi penting untuk mengetahui tingkat paparan dan membantu masyarakat mengambil langkah perlindungan yang sesuai.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN