Sering Lupa Saat Hamil? Studi Ungkap Penyebab Biologis di Balik Momnesia

Visual, Ibu hamil memegang kunci (contoh paling umum yang dilaporkan pasien UCLA: salah taruh kunci). Overlay otak untuk menggambarkan hipotalamus & hipokampus yang terganggu. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (22/10/2026) — Keluhan mudah lupa saat hamil kerap dialami banyak perempuan. Kondisi yang sering disebut momnesia atau pregnancy brain ini kerap dianggap mitos, padahal studi terbaru menyebutnya sebagai fenomena biologis yang nyata.
Lupa menaruh kunci, hilang konsentrasi, hingga kesulitan mengingat jadwal menjadi keluhan yang paling sering muncul. Hal tersebut umumnya terjadi untuk hal-hal kecil yang tampak sepele.
"Contoh umum yang dilaporkan pasien saya adalah salah menaruh kunci, kehilangan konsentrasi, atau kesulitan mengingat janji temu," kata dokter kandungan sekaligus profesor klinis UCLA, Aparna Sridhar, MD, dikutip dari laman Parents dilansir CNN Indonesia.
Studi dari Baylor College of Medicine yang dipublikasikan di jurnal Science Bulletin pada September 2026 menjelaskan penyebabnya. Peneliti menemukan kaitan antara peningkatan hormon estrogen selama kehamilan dan penurunan daya ingat sementara.
Ada Penjelasan Biologis di Balik Momnesia
Tim peneliti Baylor mengidentifikasi sirkuit otak tertentu yang terganggu ketika kadar estrogen berada pada level tinggi dalam waktu lama, seperti saat hamil.
Dalam eksperimen pada tikus, peningkatan estrogen menyebabkan gangguan ingatan sementara tanpa memengaruhi suasana hati. Dampaknya melibatkan jalur saraf antara hipotalamus sebagai pusat pengatur tubuh dan hipokampus yang berperan penting dalam pembentukan ingatan.
Kadar estrogen yang tinggi meningkatkan aktivitas neuron hipotalamus. Aktivitas tersebut kemudian menekan hipokampus sehingga kemampuan mengingat ikut terganggu.
Momnesia paling terlihat pada akhir kehamilan dan dapat berlanjut setelah persalinan, tetapi umumnya mereda setelah melahirkan. Dampaknya bisa mencakup ingatan jangka pendek maupun panjang, seperti kesulitan mengingat nama, kata, lokasi, atau informasi yang sudah dikenal.
"Kondisi ini tidak serius atau melumpuhkan secara medis, meskipun memengaruhi fungsi sehari-hari dan kepercayaan diri," kata Zheng Sun, profesor kedokteran Baylor College of Medicine sekaligus pemimpin penelitian, dikutip Reuters.
"Keluhan ini tersebar luas. Sekitar 80 persen perempuan hamil menyadari perubahan tersebut, tetapi angka itu sebagian besar berdasarkan laporan pribadi dan pengalaman subjektif, bukan pengujian objektif," ujar Sun.
Meski demikian, mudah lupa saat hamil tidak berarti penurunan kecerdasan secara keseluruhan.
"Poin pentingnya adalah kehamilan tidak begitu saja membuat seseorang kurang cerdas. Efeknya tampak lebih halus dan spesifik pada tugas kognitif tertentu," kata Yanlin He, peneliti lain dari Pennington Biomedical Research Center, Louisiana State University.
Peran Hormon Estrogen Saat Hamil
Estrogen berfungsi mengatur pubertas, siklus menstruasi, hingga perubahan tubuh untuk mendukung perkembangan janin dan persiapan persalinan. Pada masa kehamilan, kadarnya meningkat dan mencapai puncak pada trimester ketiga.
Peneliti menemukan protein bernama reseptor estrogen alfa yang meneruskan sinyal hormon tersebut ke sel hipotalamus. Wilayah ini memiliki neuron GABAergik yang mengirim sinyal penghambatan ke bagian otak lain.
Pada tikus, estrogen tinggi mengaktifkan sinyal penghambatan secara berlebihan dan memengaruhi hipokampus. Tikus yang diberi estrogen tinggi menunjukkan gangguan ingatan dibandingkan tikus yang mendapat estrogen rendah.
"Ketika kami secara genetik menghilangkan reseptor estrogen dari neuron hipotalamus ini, gangguan ingatan akibat estrogen dan kehamilan pada tikus juga pulih. Kami menduga sirkuit serupa mungkin berperan pada manusia, meskipun penelitian invasif seperti ini tidak dapat dilakukan langsung pada manusia," tutur Sun.
Untuk mendukung hipotesis tersebut, peneliti juga menguji ingatan 70 perempuan, baik yang hamil maupun tidak.
Hasil pengujian ingatan jangka panjang, jangka pendek, serta memori kerja menunjukkan adanya gangguan pada akhir kehamilan yang berkorelasi dengan tingginya estrogen.
"Namun, kami perlu menekankan bahwa kami tidak secara langsung memanipulasi atau mengukur sirkuit saraf spesifik ini pada perempuan hamil. Oleh karena itu, temuan pada manusia mendukung hipotesis tersebut, tetapi tidak menetapkan tingkat hubungan sebab-akibat yang sama seperti eksperimen pada tikus," tutur He.
Dengan demikian, momnesia bukan sekadar mitos, melainkan memiliki kemungkinan penjelasan biologis. Meski begitu, mekanisme yang ditemukan pada tikus belum terbukti secara langsung pada manusia.(hm02)






































