Saturday, August 22, 2026
home_banner_first
MEDAN

Rumah Lansia di Medan Roboh Ditimpa Tiang Listrik, Nurbaiti Lolos dari Maut

Mistar.idSabtu, 22 Agustus 2026 pukul 17.03 WIB
rumah_lansia_di_medan_roboh_ditimpa_tiang_listrik_nurbaiti_lolos_dari_maut

Penampakan rumah Nurbaiti yang hancur diterjang angin dan tertimpa tiang listrik. (Foto: Matius/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Rasa trauma dan ketakutan masih terlihat di mata Nurbaiti (73), seorang perempuan lanjut usia (lansia) yang selamat dari bencana angin puting beliung. Peristiwa yang terjadi pada malam 18 Agustus 2026 itu menjadi malam yang tak akan pernah dilupakannya.

Di tengah amukan angin puting beliung yang menerjang kawasan Desa Suka Maju, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara, rumah yang telah ditempatinya selama puluhan tahun tiba-tiba porak-poranda.

Di samping reruntuhan rumahnya, Nurbaiti yang didampingi sang suami menceritakan kejadian tersebut kepada Mistar. Ia mengatakan, sore menjelang malam sebelum kejadian, cuaca terlihat gelap dan berawan. Namun, saat itu ia mengira kondisi tersebut hanya pertanda hujan biasa.

“Sore itu memang agak gelap, ada juga kilat sesekali terlihat. Ya, kami rasa itu cuaca biasa aja, mau hujan. Maka habis itu kami masuk ke dalam rumah,” ujar Nurbaiti.

Setelah beberapa lama berada di dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Tiang listrik berukuran besar yang berada persis di samping rumah mereka kemudian tumbang.

Akibatnya, rumah tempat Nurbaiti dan suaminya beristirahat seketika ambruk. Beberapa bagian bangunan, termasuk kayu dan broti, menimpa tubuh Nurbaiti.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 19.30 WIB. Saat itu, Nurbaiti berada di dalam rumah bersama suaminya. Ketika angin semakin kencang, listrik padam dan bagian rumah mulai runtuh.

Dalam kondisi gelap dan panik, Nurbaiti berusaha menyelamatkan diri. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, perempuan berusia 73 tahun itu harus merangkak melewati reruntuhan bangunan hingga akhirnya mencapai kanal di sekitar rumah.

“Keluar enggak bisa. Ini Nenek tertimpa balok, broti jatuh. Seng-seng di sini. Nenek merangkak keluar,” tuturnya.

Kepanikan semakin menjadi ketika potongan seng beterbangan diterpa angin.

“Nenek keluar ke kanal itu. Sampai di kanal, sengnya beterbangan. Sudah sunyi, orang-orang sudah enggak ada. Nenek sendirian di situ. Ya Allah, Ya Allah. Terbang-terbang seng, takut Nenek kena leher,” katanya mengenang malam mencekam tersebut.

Dalam situasi tersebut, Nurbaiti mengaku tidak lagi memikirkan harta benda. Keselamatan diri menjadi satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya.

“Enggak ada mikir-mikirkan harta. Enggak ada lah. Memang harta Nenek enggak ada, cuma mikirkan keselamatan saja Nenek,” ujarnya.

Melihat kondisi semakin mencekam, Nurbaiti kemudian berlari menuju rumah seorang warga yang pintunya dalam keadaan terbuka. Di rumah tersebut, ia berlindung dari amukan angin.

Sementara itu, sang suami berada di tempat lain dan berupaya menyelamatkan sejumlah barang yang masih memungkinkan diamankan. Beberapa barang, termasuk televisi dan sepeda motor, disebut berhasil diselamatkan.

Akibat kejadian tersebut, Nurbaiti mengalami benturan setelah tertimpa bagian bangunan. Namun, ia bersyukur tidak mengalami luka serius.

“Kemarin kena tertimpa broti di kepala, tapi enggak berdarah,” katanya.

Rumah Hancur Setelah Ditinggali Puluhan Tahun

Keesokan harinya, setelah kondisi mulai memungkinkan, Nurbaiti baru melihat kondisi rumahnya. Pemandangan tersebut membuat hatinya terpukul.

Rumah yang telah ditempatinya sejak sekitar 1993 itu hancur. Atap, seng, balok, dan bagian bangunan lainnya berserakan.

Bagi Nurbaiti, rumah tersebut bukan sekadar bangunan. Di tempat itulah ia menjalani kehidupan bersama suaminya selama puluhan tahun.

Sekitar dua tahun terakhir, Nurbaiti masih berjualan di sejumlah pasar. Namun, kondisi fisiknya yang semakin terbatas akibat rematik membuat aktivitas tersebut tidak lagi dapat dilakukan.

Sementara sang suami sebelumnya mencari nafkah dengan menarik becak. Kini, ia juga tidak lagi mampu bekerja seperti dahulu.

Dengan mata berkaca-kaca, Nurbaiti mengatakan kehidupan mereka kini banyak bergantung kepada anaknya yang bekerja sebagai pekerja bangunan atau kuli bangunan.

Namun, sang anak sedang merantau dan hingga kini belum mengetahui secara langsung kondisi rumah orang tuanya.

Ironisnya, Nurbaiti tidak memiliki telepon seluler sehingga sulit menghubungi sang anak. Kondisi pendengarannya yang sudah berkurang juga membuat komunikasi semakin sulit.

Ia mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir, sang anak juga tidak lagi memberikan kabar. Bahkan, bantuan uang yang sebelumnya diterima Nurbaiti dan suaminya kini tidak lagi ada.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nurbaiti hanya berharap kepada bantuan orang-orang dermawan dan pemerintah.

Berharap Rumah Kembali Berdiri

Meski rumahnya telah rata dengan tanah, Nurbaiti tidak ingin meninggalkan tempat tersebut.

Ia hanya berharap mendapatkan bantuan agar rumahnya kembali memiliki atap dan dinding sehingga dirinya bersama sang suami masih memiliki tempat untuk berteduh.

“Harapan Nenek, ya Nenek masih ada nyawa, dikasih Allah. Nenek mau tinggal lagi di sinilah, Nak. Berapa lagi umur, Allah yang tahu,” ucapnya.

Nurbaiti menyadari bahwa dengan mengandalkan tenaga dirinya dan sang suami, rumah tersebut tidak mungkin dibangun kembali.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan untuk membangun kembali tempat tinggal mereka.

“Minta bantuan dari pemerintah lah, Nak, mendirikan kami supaya bisa tempat berteduh. Ada beratap, berdinding. Bisa berteduh Nenek selagi masih ada nyawa di badan,” katanya.

120 Rumah Terdampak

Bencana angin puting beliung tersebut tidak hanya menghancurkan rumah Nurbaiti.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, sedikitnya 120 unit rumah mengalami kerusakan di dua kelurahan akibat terjangan angin puting beliung di kawasan tersebut.

Sebanyak 90 unit rumah berada di Jalan Suka Tirta, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor. Sementara 30 unit rumah lainnya terdampak di Kelurahan Titi Kuning, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan.

Di tengah kerusakan dan kehilangan yang dialaminya, Nurbaiti masih menyisakan satu hal yang paling ia syukuri, yakni masih diberi kesempatan untuk hidup.

“Yang penting selamat lah, itu aja Nenek,” katanya lirih.

Selama masih diberi napas, Nurbaiti ingin tetap bertahan di rumah yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari tiga dekade.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN