Masakan Jiangxi Makin Dikenal di Bali, Pedasnya Disebut Cocok dengan Lidah Indonesia

Masakan Jiangxi Makin Dikenal di Bali, Pedasnya Disebut Cocok dengan Lidah Indonesia. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (6/10/2026) — Masakan Jiangxi atau Gan Cuisine mulai mendapat tempat di Bali. Lebih dari 50 mahasiswa Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali belajar langsung teknik memasak dari chef asal Jiangxi, China, dalam program pertukaran kuliner Indonesia-China pada Juni 2026.
Menariknya, kuliner Jiangxi dinilai memiliki titik temu dengan selera masyarakat Bali: sama-sama menyukai makanan bercita rasa kuat dan pedas.
Master chef asal Jiangxi, Deng Dan, mengatakan masakan Jiangxi hanya memerlukan sejumlah penyesuaian agar sesuai dengan bahan dan kebutuhan konsumen lokal.
Sebelumnya, Poltekpar Bali sudah memiliki kegiatan terkait masakan Jiangxi/masakan China dari Jiangxi sejak 2025. Misalnya, pada 21 April–16 Mei 2025, Poltekpar Bali mengadakan Chinese Cuisine Training dengan Chef Xiao’an dari Jiangxi. Laporan resmi kampus menyebut Chef Xiao’an memperkenalkan berbagai hidangan Jiangxi serta teknik persiapan bahan, bumbu, pengaturan panas, dan penyajian.
Pertukaran ini menunjukkan bahwa hubungan kuliner Indonesia-China kini tidak sebatas memperkenalkan menu. Kerja sama berkembang ke pendidikan vokasi, pelatihan chef, pertukaran keahlian, pengembangan hidangan, hingga peluang bisnis industri pangan.
Bukan Sekadar Masakan China, Ini Karakter Kuliner Jiangxi
Bagi masyarakat Indonesia, istilah “masakan China” mungkin identik dengan bakmi, dim sum, capcay, atau hidangan yang sudah lama populer di Tanah Air.
Namun, kuliner Jiangxi menawarkan karakter regional yang berbeda.
Gan Cuisine merupakan tradisi kuliner khas Provinsi Jiangxi. Salah satu cirinya adalah penggunaan cabai dan teknik memasak yang menghasilkan cita rasa kuat.
Dalam pelatihan di Bali, chef Jiangxi memperkenalkan sejumlah hidangan, termasuk Xiaochao Rou, olahan daging tumis dengan cabai.
Bagi mahasiswa kuliner, pengalaman ini penting karena yang dipelajari bukan hanya resep, tetapi juga teknik memasak langsung dari chef yang berpengalaman di industri.
Ayam Tiga Cangkir Jadi Hidangan yang Terus Dipraktikkan
Salah satu tanda bahwa masakan Jiangxi mulai diterima adalah keberlanjutan praktiknya setelah program pelatihan berakhir.
Dosen Poltekpar Bali Hardina mengungkapkan, Sanbeiji atau Ayam Tiga Cangkir menjadi salah satu hidangan yang masih sering dimasak mahasiswa.
Alasannya sederhana: rasanya dianggap sesuai dengan selera peserta dan bahan-bahannya relatif mudah diperoleh.
Fakta ini memperlihatkan bahwa pertukaran kuliner tidak berhenti pada demonstrasi chef. Resep dan teknik yang diperkenalkan mulai masuk ke aktivitas pembelajaran di dapur kampus.
Dapur Poltekpar Bali Ikut Beradaptasi
Dampak kerja sama Indonesia-China juga terlihat pada fasilitas pendidikan.
Saat tim Jiangxi berkunjung pada 2025, dapur praktik Poltekpar Bali disebut masih lebih banyak dirancang untuk memasak hidangan Barat. Kondisi tersebut sempat menyulitkan instruktur China saat melakukan praktik.
Setahun kemudian, fasilitas dapur telah mengalami peningkatan dan dinilai lebih sesuai untuk menyiapkan masakan China.
Artinya, pertukaran kuliner mulai menghasilkan perubahan nyata dalam pendidikan kuliner dan kesiapan fasilitas vokasi.
Dari Bali ke Jiangxi, Pertukaran Berjalan Dua Arah
Kerja sama ini bukan hubungan satu arah.
Pada Juli 2025, Poltekpar Bali telah membawa kuliner Bali ke Jiangxi melalui program Collaborative Culinary Arts Exchange. Delegasi Indonesia memperkenalkan masakan tradisional Bali sekaligus mempelajari Gan Cuisine dan budaya kuliner setempat.
Kini, chef dan profesional Jiangxi datang ke Bali untuk berbagi pengetahuan.
Pada Juni 2026, sebanyak 13 profesional industri kuliner Jiangxi berkunjung ke Bali selama 24–29 Juni. Selain mengajar mahasiswa, mereka juga mengunjungi restoran dan usaha kuliner untuk memahami kebiasaan konsumsi serta peluang pasar lokal.
Kuliner Jadi Jembatan Pendidikan hingga Bisnis
Kerja sama kuliner Indonesia-China kini semakin luas.
Pada September 2026, sebanyak 10 perusahaan makanan China ikut dalam Liangzhilong Indonesia Global Food Ingredients Trade Festival di Jakarta. Bidang yang dibawa mencakup bumbu, bahan makanan, mesin pengolahan, makanan kemasan, hingga rantai pasokan katering.
Di Bali, Asosiasi Promosi Pengembangan Industri Kuliner Gan Jiangxi dan Poltekpar Bali juga meresmikan kantor perwakilan serta Basis Inkubasi Luar Negeri Masakan Tumis Jiangxi.
Basis tersebut diarahkan untuk mendukung pelatihan keterampilan, pertukaran profesional, pengembangan hidangan, dan kerja sama industri kuliner.
Masakan Jiangxi Berpotensi Menjadi Rasa China Berikutnya yang Populer?
Masuknya kuliner Jiangxi ke Bali menarik karena menawarkan sesuatu yang berbeda: bukan hanya makanan China yang sudah dikenal, tetapi tradisi kuliner regional yang relatif baru bagi konsumen Indonesia.
Kesamaan selera pedas menjadi modal awal. Namun, peluang sebenarnya berada pada proses pertukaran pengetahuan—ketika teknik memasak Jiangxi bertemu dengan bahan, chef, mahasiswa, dan karakter pasar Indonesia.
Kerja sama ini dijadwalkan berlanjut pada Januari 2027 melalui kunjungan perwakilan Poltekpar Bali ke Jiangxi.
Jika pertukaran tersebut konsisten dilakukan, masakan Jiangxi berpeluang tidak hanya dikenal sebagai kuliner khas China di ruang kelas, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari eksplorasi baru gastronomi Indonesia-China.
(antara/padmappb/bitpglobal/ppb/chinesefoodwiki/*/hm27)















































