Wednesday, August 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

Pengamat: Cable Car di Danau Toba Jadi Terobosan Strategis Dongkrak Pariwisata Internasional

Mistar.idRabu, 5 Agustus 2026 pukul 16.19 WIB
pengamat_cable_car_di_danau_toba_jadi_terobosan_strategis_dongkrak_pariwisata_internasional

Pengamat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno. (Foto: Instagram Djoko Setijowarno/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID – Pengamat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, menilai pembangunan cable car (kereta gantung) di kawasan Danau Toba merupakan terobosan strategis untuk memperkuat ekosistem pariwisata bertaraf internasional di Sumatera Utara.

Menurutnya, Indonesia saat ini memiliki tiga lokasi cable car yang dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertambangan dan pariwisata.

"Di Indonesia cable car itu ada tiga lokasi. Yang paling besar berada di Timika untuk operasional Freeport, mampu mengangkut hingga 100 orang beserta kendaraan. Sementara dua lainnya untuk wisata di Taman Mini Indonesia Indah dan Ancol," ujar Djoko kepada Mistar, Rabu (5/8/2026).

Akademisi Program Studi Unika Soegijapranata itu mengatakan, keunggulan utama cable car adalah menyajikan panorama dari ketinggian yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

"Jadi kelebihan cable car ini, orang yang naik akan disuguhkan pemandangan yang menarik. Saya kira jika Danau Toba sebagai kawasan wisata dibangun cable car, ini akan sangat menarik, apalagi jika dibangun di beberapa kabupaten," katanya.

Djoko menjelaskan, apabila cable car dibangun di daratan Sumatera maupun Pulau Samosir, tentu akan dilakukan kajian mendalam untuk menentukan jalur dengan panorama terbaik sehingga mampu memaksimalkan keindahan alam Danau Toba.

Ia juga menekankan pentingnya kemudahan perizinan bagi investor swasta. Menurutnya, investasi tidak seharusnya dipersulit karena akan menghambat pembangunan daerah.

"Saya kira jika ada investasi, harus dipermudah dan jangan dipersulit. Dengan begitu daerah bisa berkembang. Selama ini sering dipersulit karena ujung-ujungnya soal uang. Seharusnya dipermudah demi perkembangan Sumatera Utara," tegasnya.

Djoko menambahkan, cable car pada umumnya memang diperuntukkan bagi sektor pariwisata. Sebagai gambaran, tarif cable car di Ancol sekitar Rp75.000 dan tetap diminati pengunjung karena sebanding dengan pengalaman yang ditawarkan.

"Jadi masyarakat masih mau dan berminat karena setimpal dengan pemandangan yang disajikan dengan harga Rp75.000. Saya pikir ini sangat positif jika direalisasikan," ucap Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia tersebut.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pembangunan cable car harus disertai kajian teknis yang matang, termasuk mitigasi risiko jika terjadi gangguan operasional.

"Tentunya nanti akan ada mitigasi, misalnya jika terjadi gangguan dan berhenti di tengah perjalanan, tentu sudah ada solusinya. Semua itu akan dikaji secara mendalam. Nanti juga ada AMDAL, dan penggunaan listrik sebagai penggeraknya membuatnya lebih efisien," tuturnya.

Di sisi lain, Djoko menilai pembangunan cable car sebaiknya melibatkan investasi swasta karena akan lebih efisien dibandingkan jika seluruh pembiayaan ditanggung pemerintah.

"Pokoknya izinnya harus dipermudah. Siapa pun yang ingin berinvestasi jangan dipersulit. Kita sangat mendukung itu. Jangan hanya Pulau Jawa yang maju, Sumatera juga harus bisa berkembang, karena saya juga putra kelahiran Sumatera, khususnya Bangka Belitung," katanya.

Sebelumnya, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumatera Utara, Mangapul Purba, mendesak Pemerintah Kabupaten Simalungun memfasilitasi kemudahan perizinan lahan proyek cable car di kawasan Danau Toba.

Desakan itu disampaikan menyusul kendala pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) untuk lahan proyek seluas 14 hektare di Kecamatan Dolok Panribuan yang berada di luar kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN).



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN