Thursday, September 17, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Suku Bunga The Fed Naik, Rupiah Tertekan: Apa Dampaknya ke Pasar Indonesia?

Mistar.idKamis, 17 September 2026 pukul 15.11 WIB
suku_bunga_the_fed_naik_rupiah_tertekan_apa_dampaknya_ke_pasar_indonesia

Konferensi pers Federal Open Market Committee (FOMC), The Fed menaikkan target federal funds rate ke kisaran 3,75%-4,00% dari sebelumnya 3,50%-3,75%. (foto: tangkapan layar video FOMC/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (17/9/2026) — Suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian pasar global setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat sebesar 25 basis poin (bps) pada Rabu (16/9/2026) waktu setempat.

Dalam keputusan Federal Open Market Committee (FOMC), The Fed menaikkan target federal funds rate ke kisaran 3,75%-4,00% dari sebelumnya 3,50%-3,75%. Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak 2023. Keputusan tersebut diambil secara bulat dengan suara 12-0.

Langkah tersebut sekaligus mempertegas perubahan arah kebijakan moneter AS di tengah inflasi yang masih berada di level tinggi.

The Fed menyatakan aktivitas ekonomi AS masih berkembang dengan laju solid, sementara belanja domestik tetap tangguh. Di sisi lain, bank sentral AS menegaskan bahwa inflasi masih tinggi dan kebijakan terbaru diarahkan untuk mempercepat kembalinya inflasi menuju target 2%.

Suku Bunga The Fed Masih Berpotensi Naik

Pasar tidak hanya mencermati kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps, tetapi juga sinyal kebijakan setelahnya.

Median proyeksi terbaru pejabat The Fed mengindikasikan masih ada ruang untuk satu kali kenaikan suku bunga lagi pada 2026, meski keputusan tersebut belum ditetapkan. Reuters melaporkan, para pejabat The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi AS, dengan inflasi PCE diperkirakan mencapai 3,7% pada 2026 sebelum secara bertahap bergerak menuju target 2%.

Sinyal tersebut membuat pasar menghadapi prospek suku bunga AS yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama.

Dolar AS pun menguat setelah keputusan tersebut. Pada Kamis (17/9), indeks dolar AS mencapai level tertinggi dalam sekitar tujuh pekan, sementara imbal hasil Treasury AS ikut meningkat.

Kondisi ini menjadi perhatian bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Rupiah Langsung Mendapat Tekanan

Kenaikan suku bunga The Fed dapat memengaruhi nilai tukar negara berkembang melalui jalur arus modal.

Ketika tingkat imbal hasil aset berdenominasi dolar AS meningkat, sebagian investor global dapat mengalihkan dana dari aset berisiko di negara berkembang menuju aset AS. Perubahan tersebut dapat meningkatkan permintaan dolar dan pada saat bersamaan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Dampaknya sudah terlihat pada perdagangan rupiah.

Pada pembukaan perdagangan Kamis (17/9), rupiah tercatat melemah 0,38% atau 67 poin ke Rp17.763 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB, menurut data Doo Financial Futures yang dikutip Bisnis.com. Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia.

Sejumlah mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi, termasuk ringgit Malaysia, won Korea Selatan, dan dolar Taiwan.

Mengapa Rupiah Bisa Tertekan?

Mekanismenya relatif sederhana.

Kenaikan suku bunga AS meningkatkan daya tarik relatif aset berbasis dolar. Jika imbal hasil Treasury AS naik, investor internasional dapat menjadi lebih selektif terhadap aset di pasar negara berkembang.

Dalam kondisi tersebut, potensi arus keluar modal dapat meningkat. Ketika investor menjual aset dalam rupiah dan mengonversinya kembali ke dolar, permintaan terhadap dolar bertambah sehingga rupiah berpotensi mengalami tekanan.

Tekanan tersebut tidak otomatis berarti terjadi capital outflow besar-besaran. Besarnya dampak bergantung pada ekspektasi pasar, seberapa jauh kenaikan suku bunga telah diperhitungkan sebelumnya, kondisi fundamental domestik, serta respons kebijakan bank sentral masing-masing negara.

Pasar Saham Indonesia Ikut Mencermati

Dampak kenaikan suku bunga The Fed juga merembet ke pasar saham Indonesia.

IHSG pada Rabu (16/9) ditutup melemah 0,38% ke level 6.436,85. Pada perdagangan Kamis pagi, IHSG sempat dibuka menguat 0,28% ke 6.455,03, menunjukkan respons pasar domestik tidak serta-merta mengikuti tekanan bursa Amerika Serikat.

Namun, tekanan terhadap aset berisiko tetap menjadi perhatian.

Kenaikan imbal hasil aset AS dapat meningkatkan opportunity cost bagi investor ketika memegang saham atau obligasi negara berkembang. Pada saat yang sama, penguatan dolar dapat meningkatkan tekanan terhadap perusahaan atau sektor yang memiliki kewajiban dalam valuta asing.

Pasar obligasi juga menjadi perhatian karena kenaikan imbal hasil US Treasury dapat memengaruhi penetapan imbal hasil surat utang di negara berkembang.

Posisi Bank Indonesia

Indonesia memasuki periode tersebut dengan BI-Rate di level 5,75%.

Bank Indonesia pada rapat 18-19 Agustus 2026 mempertahankan BI-Rate di 5,75%. BI menyatakan kebijakan tersebut antara lain ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah volatilitas global, menjaga inflasi dalam sasaran 2,5% plus-minus 1%, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Sebelumnya, BI juga telah menaikkan suku bunga pada Juni 2026 sebesar 25 bps menjadi 5,75% sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.

Dengan demikian, keputusan The Fed menambah tantangan bagi kebijakan moneter Indonesia. BI perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, inflasi, arus modal, dan kebutuhan untuk tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

Tidak Otomatis Berarti Pasar Indonesia Akan Jatuh

Meski kenaikan suku bunga The Fed berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah dan aset Indonesia, respons pasar tidak selalu linear.

Salah satu faktor penting adalah apakah keputusan tersebut sudah diperhitungkan (priced in) oleh investor.

Sejumlah analis pasar yang dikutip Bisnis.com menilai dampak kenaikan kali ini terhadap pasar modal Indonesia berpotensi terbatas karena sebagian ekspektasi kenaikan sudah tercermin dalam harga. Fokus investor kemudian bergeser pada arah kebijakan The Fed berikutnya dan dampaknya terhadap rupiah.

Artinya, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada angka 3,75%-4,00%, tetapi juga pada kemungkinan kenaikan lanjutan, perkembangan inflasi AS, pergerakan imbal hasil Treasury, dolar AS, serta respons bank sentral negara berkembang.

Bagi Indonesia, kombinasi faktor tersebut akan menentukan seberapa besar tekanan yang akhirnya dirasakan rupiah, obligasi, dan IHSG.

Untuk sementara, sinyal dari The Fed cukup jelas: inflasi AS masih menjadi persoalan dan suku bunga tinggi belum sepenuhnya ditinggalkan. Kondisi tersebut membuat arah dolar AS dan arus modal global menjadi dua faktor yang akan terus diperhatikan investor Indonesia.

(thefed/reuters/barrons/tradingeconomics/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN