Friday, September 18, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Suku Bunga The Fed Naik, Cicilan Kredit Ikut Naik?

Mistar.idKamis, 17 September 2026 pukul 16.26 WIB
suku_bunga_the_fed_naik_cicilan_kredit_ikut_naik

Suku Bunga The Fed Naik, Cicilan Kredit Ikut Naik? (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (17/9/2026) — Kenaikan suku bunga The Fed mulai membawa konsekuensi langsung bagi biaya pinjaman. Bank sentral Amerika Serikat pada 16 September 2026 menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak 2023, karena inflasi dinilai masih terlalu tinggi.

Keputusan tersebut langsung diikuti kenaikan prime lending rate sejumlah bank besar AS dari 6,75% menjadi 7%. JPMorgan, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo termasuk bank yang menaikkan suku bunga acuannya.

Lantas, apakah kenaikan suku bunga The Fed tersebut berarti cicilan KPR, kartu kredit, dan kredit usaha di Indonesia juga akan ikut naik?

Suku Bunga The Fed Naik, Biaya Kredit Meningkat

Kenaikan suku bunga membuat biaya meminjam uang menjadi lebih mahal. Di AS, dampaknya relatif cepat terasa pada produk kredit dengan bunga mengambang atau yang mengacu pada prime rate.

Kartu kredit dan sejumlah pinjaman pribadi, misalnya, dapat mengalami kenaikan biaya bunga. KPR juga dapat terdampak, terutama untuk pinjaman dengan suku bunga variabel.

Bagi rumah tangga, bunga kredit yang lebih tinggi dapat membuat cicilan meningkat dan ruang belanja menyempit. Bagi perusahaan, biaya pendanaan yang lebih mahal dapat mendorong penundaan ekspansi atau investasi.

Efek tersebut menjadi salah satu jalur kebijakan moneter bekerja: suku bunga naik, biaya kredit meningkat, konsumsi dan investasi berpotensi melambat.

Apakah Cicilan di Indonesia Otomatis Naik?

Tidak otomatis.

Kenaikan 25 bps oleh The Fed tidak berarti seluruh bunga kredit di Indonesia langsung naik 25 bps. Perbankan Indonesia memiliki struktur biaya dana dan kebijakan penetapan bunga sendiri.

Transmisi kebijakan The Fed ke Indonesia lebih banyak berlangsung melalui pasar keuangan global, nilai tukar, arus modal, imbal hasil obligasi, serta kondisi likuiditas.

Karena itu, debitur dengan bunga tetap tidak serta-merta mengalami perubahan cicilan hanya karena The Fed menaikkan suku bunga. Sementara kredit dengan bunga mengambang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi suku bunga.

Mengapa Indonesia Perlu Mencermati The Fed?

Kebijakan The Fed menjadi perhatian karena perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan modal global.

Ketika suku bunga dan imbal hasil aset AS meningkat, investor global dapat menyesuaikan portofolionya. Dampaknya dapat merambat ke pasar negara berkembang melalui nilai tukar dan pasar obligasi.

Bagi Indonesia, tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu saluran yang perlu diperhatikan. Jika tekanan tersebut meningkatkan biaya pendanaan domestik, dampaknya pada bunga kredit dapat muncul secara bertahap.

Dengan kata lain, kenaikan suku bunga The Fed tidak langsung menaikkan cicilan masyarakat Indonesia, tetapi dapat menciptakan tekanan yang pada akhirnya memengaruhi biaya pembiayaan domestik.

The Fed Masih Fokus pada Inflasi

The Fed menyatakan inflasi masih berada pada level tinggi dan kebijakan kenaikan suku bunga diperlukan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju target 2%. Keputusan tersebut disetujui dengan suara 12-0.

Pasar juga mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Reuters melaporkan The Fed memberi sinyal bahwa biaya pinjaman dapat kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Artinya, perhatian pelaku pasar tidak berhenti pada kenaikan 25 bps September. Arah inflasi dan kebijakan The Fed selanjutnya akan menjadi penentu penting bagi biaya pinjaman, pasar obligasi, nilai tukar, dan aset berisiko.

Jadi, Siapa yang Paling Perlu Waspada?

Bagi konsumen, pemilik kredit berbunga mengambang menjadi kelompok yang perlu mencermati perubahan suku bunga. Begitu pula calon debitur yang berencana mengambil KPR atau pinjaman baru.

Pelaku usaha juga perlu memperhitungkan potensi kenaikan biaya pendanaan apabila kondisi suku bunga global dan domestik bergerak lebih tinggi.

Namun, bagi pemegang kredit dengan bunga tetap, kenaikan suku bunga The Fed tidak otomatis mengubah besaran cicilan.

Kuncinya adalah melihat jenis bunga kredit, kebijakan bank, dan bagaimana perubahan kondisi global diteruskan ke pasar keuangan Indonesia.

Penutup: Kenaikan suku bunga The Fed tidak otomatis membuat cicilan kredit di Indonesia naik. Dampaknya bergantung pada transmisi ke pasar keuangan domestik dan, pada tingkat nasabah, pada jenis bunga serta mekanisme penyesuaian yang tercantum dalam perjanjian kredit.

(reuters/bappenas/marketwatch/voi/ap/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN