IHSG Rontok dari 9.134 ke 4.904, Lo Kheng Hong: Pasar Turun Itu Peluang, Bukan Alasan Panik

ilustrasi, hujan emas saham bank dan grafik IHSG yang rontok. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (6/11/2026) — Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menegaskan prinsip lamanya saat pasar saham berguguran: pasar yang turun bukan alasan untuk panik, melainkan momentum untuk membeli perusahaan bagus dengan harga murah dan menyimpannya dalam jangka panjang.
Prinsip itu kembali relevan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot dalam. IHSG yang sempat menyentuh rekor tertinggi 9.134,7 pada 20 Januari 2026, ditutup di level 4.904,29 pada Selasa (3/11/2026), turun 192,54 poin atau 3,78% dalam sehari. Pada Kamis (5/11/2026), IHSG sempat rebound dan kembali ke atas level psikologis 5.000.
Bagi sebagian investor, kondisi itu menakutkan. Bagi Lo Kheng Hong, kondisi seperti inilah yang selama puluhan tahun ia sebut sebagai momentum akumulasi.
Dalam berbagai kesempatan, termasuk saat aksi borong saham Bank Danamon (BDMN) pada awal 2026 dan saat pasar bergejolak pada April 2025, Lo Kheng Hong mengibaratkan pasar yang jatuh sebagai “hujan emas”. Filosofinya sederhana: ketika banyak investor menjual karena takut, investor jangka panjang justru menyiapkan dana untuk menampung saham berkualitas yang harganya terdiskon.
“Siapkanlah ember yang besar untuk menampung hujan emas itu,” kata Lo Kheng Hong dalam salah satu pernyataannya yang kembali dikutip pelaku pasar belakangan ini.
Tekanan terhadap IHSG belakangan ini tidak lepas dari sentimen global dan domestik. Salah satu pemicu utama adalah konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Kekhawatiran itu memicu aksi jual investor asing. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net sell Rp575,01 miliar pada perdagangan 3 November 2026. Dengan demikian, akumulasi net sell asing sejak awal tahun mencapai Rp98,61 triliun, mendekati Rp100 triliun.
Angka tersebut merupakan selisih antara nilai jual dan nilai beli asing, bukan total penjualan bruto. Artinya, asing tetap melakukan pembelian, tetapi nilai penjualannya jauh lebih besar.
Tekanan jual meluas ke hampir seluruh saham. Pada perdagangan 3 November 2026, sebanyak 717 saham atau 75% dari total saham di BEI terkoreksi, sedangkan hanya 7% saham yang menguat.
Di antara berbagai saham yang terkoreksi, saham perbankan besar menjadi sorotan. Pelemahan harga membuat valuasi menjadi lebih murah dan imbal hasil dividen (dividend yield) menjadi lebih tinggi.
Berdasarkan riset Pluang Maju Sekuritas, imbal hasil dividen bank-bank BUMN mencapai 10-14%, jauh melampaui yield obligasi pemerintah. Bank Mandiri (BMRI) mencatatkan yield sekitar 14,1% berdasarkan dividen 12 bulan terakhir, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sekitar 11,9%, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) sekitar 10,2%.
Riset Ajaib per 21 Oktober 2026 menunjukkan angka yang sejalan: BMRI 14,3%, BBRI 13,4%, BBNI 11,2%. Sementara Bank Central Asia (BBCA) yang fundamentalnya juga kuat, yield-nya jauh lebih rendah, yakni sekitar 6,4%, karena harga sahamnya tidak turun sedalam bank Himbara.
Artinya, angka 14% tidak berlaku untuk semua saham bank. Angka itu berlaku untuk bank Himbara tertentu, terutama BMRI dan BBRI, berdasarkan dividen yang sudah dibagikan sebelumnya. Dividen masa lalu bukan jaminan dividen masa depan, karena besarnya dividen ditentukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan kinerja perusahaan.
Jika dibandingkan dengan instrumen konservatif, dividen bank Himbara saat ini terlihat lebih menarik secara hitungan kasar.
Bunga deposito sekitar 6% per tahun menjadi 4,8% setelah dipotong pajak 20%. Surat utang negara dengan imbal hasil sekitar 7,8% menjadi sekitar 7% setelah pajak 10%.
Sementara yield dividen BMRI dan BBRI yang mencapai 13-14% dihitung berdasarkan harga saham yang sudah terkoreksi dan dividen per saham tahun sebelumnya.
Namun, perbandingan ini tidak bisa dibaca mentah-mentah. Deposito dan SUN memiliki risiko yang jauh lebih rendah dan pokoknya relatif aman. Saham, meskipun dividennya tinggi, harga pokoknya bisa turun lebih dalam dan dividennya bisa dipangkas jika laba perusahaan turun.
Secara matematis, jika sebuah saham turun 50% dan kemudian kembali ke harga semula, maka kenaikannya adalah 100%. Misalnya, saham yang harganya Rp10.000 turun menjadi Rp5.000, maka untuk kembali ke Rp10.000 harus naik Rp5.000 atau 100% dari Rp5.000.
Itulah dasar hitungan yang sering dikutip pelaku pasar. Tetapi, tidak ada jaminan harga akan kembali ke semula. Saham bisa stagnan, turun lebih dalam, atau bahkan tidak pernah kembali ke harga puncaknya. Pengalaman 37 tahun Lo Kheng Hong sebagai investor adalah pengalaman pribadi, bukan hukum pasar.
Lo Kheng Hong menegaskan, keuntungan besar tidak datang dari aktivitas jual-beli jangka pendek. Strategi yang ia pegang adalah membeli saham perusahaan yang bagus dan murah, lalu menyimpannya dalam jangka panjang.
“Uang besar hanya bisa didapat dari menunggu,” ujarnya dalam berbagai kesempatan.
Menurutnya, trading tidak akan membuat investor meraup uang besar. Investor yang membeli lalu menjual kembali dalam waktu singkat, sulit mendapatkan hasil yang signifikan.
“Beli (saham) dan simpan. Karena kalau kita beli, kemudian kita jual lagi, kita trading, kan nggak bisa dapat uang besar. Uang besar didapat bukan dari jual-beli, dari trading,” ungkapnya.
Lo Kheng Hong mengaku memegang saham dalam waktu lama. Ia membeli saham yang bagus dan murah, kemudian menunggu harganya kembali ke harga wajar. Waktu yang dibutuhkan untuk itu, kata dia, tidak bisa ia tentukan sendiri karena sepenuhnya ditentukan oleh pasar. Tugasnya sebagai investor hanya satu, yaitu menunggu dengan sabar.
Menurut Lo Kheng Hong, bursa adalah perangkat untuk memindahkan uang orang yang tidak sabar kepada orang yang sabar. Pesan itu menegaskan pandangannya bahwa disiplin menahan diri lebih menentukan hasil investasi dibanding kemampuan menebak pergerakan harga harian.
“Karena kesabaran itu sangat penting. Karena bursa adalah perangkat untuk memindahkan uang orang tidak sabar kepada orang yang sabar,” ucapnya.
Ia menambahkan, pernah menahan lama saham yang dimilikinya saat harganya sedang jatuh. Harga saham tersebut belum juga kembali ke harga wajarnya. Meski begitu, ia tidak berubah sikap.
Catatan Redaksi: Berita ini bukan ajakan jual-beli saham. Investasi saham mengandung risiko. Pelajari fundamental perusahaan, pahami profil risiko Anda, dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berizin sebelum mengambil keputusan investasi.(hm02)










































