Monday, August 10, 2026
home_banner_first
SUMUT

NTP Sumut Naik 0,52 Persen pada Juli 2026, Capai 156,95

Mistar.idSenin, 10 Agustus 2026 pukul 16.50 WIB
ntp_sumut_naik_052_persen_pada_juli_2026_capai_15695

Ilustrasi, NTP Sumut Naik 0,52 Persen pada Juli 2026, Capai 156,95. (foto:gemini/antara/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (10/8/2026) — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencatat kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026. Statistik Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin, mengatakan NTP Sumut pada Juli 2026 sebesar 156,95. Angka tersebut mengalami kenaikan 0,52 persen dibandingkan NTP Juni 2026 sekitar 156,14.

Kemudian, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Sumut Juli 2026 mengalami kenaikan menjadi 160,68, atau naik sebesar 0,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Misfaruddin memaparkan, kenaikan NTP Sumut pada Juli ini ditopang kinerja positif dari dua subsektor utama, sementara tiga subsektor lainnya justru mengalami penyusutan.

Pergerakan NTP berdasarkan subsektor pertanian di Sumut pada Juli 2026, yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan 1,02 persen dan tanaman pangan naik 0,81 persen. Sementara itu, subsektor yang mengalami penurunan adalah perikanan sekitar 0,43 persen, peternakan 1,06 persen, dan hortikultura 3,73 persen.

"Pergerakan indeks NTP tersebut dipengaruhi fluktuasi harga komoditas hasil produksi pertanian di pasar. Terdapat beberapa komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap naik-turunnya NTP di Sumut, yaitu subsektor tanaman pangan seperti kenaikan gabah, ketela pohon, dan kacang hijau," katanya, Senin (10/8/2026).

Selanjutnya, subsektor perkebunan rakyat disumbang oleh harga kelapa sawit, karet, dan biji kakao/cokelat yang mengalami kenaikan.

"Subsektor hortikultura yang mengalami penurunan merupakan dampak dari harga jeruk, cabai merah, dan kol/kubis yang mengalami penurunan. Di perikanan, penurunan harga kepiting payau, ikan kembung, dan ikan nila tawar menjadi faktor utama penurunan NTP di subsektor tersebut," ucap Misfaruddin.

Terakhir, subsektor peternakan yang mengalami penurunan karena tidak ada komoditas yang dominan memberikan andil besar pada kenaikan harga di sektor tersebut.

Dari sisi pengeluaran, kesejahteraan petani terbantu oleh turunnya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT). Penurunan biaya belanja kebutuhan rumah tangga petani didorong oleh murahnya harga bahan pokok di perdesaan, seperti bawang merah, cabai merah, ikan asin teri, dan turunnya harga emas perhiasan. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN