Friday, September 25, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Waspada Influenza A Bisa Picu Pneumonia

Mistar.idSabtu, 26 September 2026 pukul 05.30 WIB
waspada_influenza_a_bisa_picu_pneumonia

Ilustrasi. (Foto: Getty Images)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Masyarakat diminta mewaspadai infeksi influenza A karena penyakit tersebut dapat memperlemah sistem kekebalan tubuh dan memicu komplikasi serius, termasuk pneumonia, terutama pada kelompok rentan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, Joyce Bratanata, mengatakan virus influenza dapat mengganggu pertahanan tubuh sehingga bakteri yang berada di saluran pernapasan atas berpotensi masuk ke paru-paru.

"Virus influenza itu memperlemah sistem imun tubuh dan membuka celah. Jika barier pertahanan tubuh terganggu, bakteri yang berkolonisasi di saluran napas atas bisa masuk ke paru-paru dan berkembang menjadi pneumonia," kata Joyce di Jakarta, Kamis (25/9/2026), dilansir Antara.

Gejala influenza A umumnya menyerupai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), seperti nyeri tenggorokan, batuk kering, hingga demam tinggi. Gejala batuk dan pilek yang kerap dianggap ringan tetap perlu diperhatikan apabila berlangsung selama beberapa hari.

"Jangan menunggu sampai gejalanya berat atau sesak napas. Jika batuk dan pilek sudah berlangsung tiga hari disertai demam, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter," ujarnya.

Pemeriksaan sejak dini dapat membantu memastikan penyebab penyakit melalui swab test atau uji usap antigen influenza hingga pemeriksaan panel PCR. Diagnosis yang tepat diperlukan agar pasien mendapatkan terapi sesuai kondisi dan tidak sembarangan mengonsumsi obat.

Namun, Joyce mengatakan tidak semua penderita influenza membutuhkan obat antivirus. Terapi tersebut umumnya diprioritaskan bagi pasien dengan indikasi klinis yang jelas atau mereka yang masuk kelompok rentan dengan risiko tinggi.

Kelompok yang rentan mengalami perburukan akibat influenza A antara lain anak balita, anak usia 6-7 tahun, lansia, serta individu dengan penyakit komorbid.

Penyakit penyerta tersebut meliputi penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, asma, hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Orang dengan daya tahan tubuh yang menurun, seperti penderita autoimun, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, dan orang dengan HIV, juga termasuk kelompok rentan.

Untuk mencegah penyebaran influenza A, Joyce mengimbau masyarakat memperketat kembali protokol kesehatan dasar di rumah maupun kantor. Influenza diketahui mudah menyebar melalui udara (airborne).

Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan masker secara benar, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum menyentuh anggota keluarga, serta tidak merokok di ruangan tertutup. Masyarakat juga dianjurkan melengkapi vaksinasi influenza tahunan jika memungkinkan.

"Vaksin influenza yang beredar saat ini umumnya memberikan perlindungan terhadap galur influenza A dan B. Vaksinasi tahunan menjadi langkah proteksi penting untuk menekan risiko penularan dan keparahan penyakit," ucap Joyce.

184 Kasus H3N2 Subclade K

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 184 kasus influenza A(H3N2) Subclade K sejak 2025 hingga minggu ke-36 2026. Kasus tersebut tersebar di 20 provinsi.

Kasus paling banyak ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.

Khusus pada 2026 hingga minggu ke-36, tercatat 22 kasus influenza A H3N2 Subclade K di enam provinsi. Kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Papua Selatan.

Influenza tipe tersebut dikenal pula dengan istilah super flu. Subclade K merupakan bagian dari influenza A(H3N2) yang telah mengalami mutasi.

Berdasarkan kelompok usia, kasus super flu paling banyak ditemukan pada anak usia 0-4 tahun dengan persentase 38 persen. Berikutnya kelompok usia 5-9 tahun sebesar 23,4 persen, usia 10-17 tahun 21,2 persen, usia 18-59 tahun 15,8 persen, dan usia di atas 60 tahun sebesar 1,6 persen. (hm25/antara)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN