Khawatir Keracunan, 30 Persen Siswa SMA BTB Balige Tak Konsumsi MBG

Penyaluran menu MBG ke salah satu sekolah di Kabupaten Toba. (foto: Nimrot/Mistar)
Toba, MISTAR.ID - Rentetan kasus keracunan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah memicu kekhawatiran sebagian orang tua murid di Kabupaten Toba.
Kekhawatiran makin menguat menyusul kasus serupa terjadi di Kabupaten Karo dan Asahan, serta sebelumnya pernah dilaporkan di salah satu SMP Negeri di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba.
Seorang warga Kecamatan Porsea, YR Silaban, mengaku khawatir anaknya mengalami keracunan jika mengonsumsi menu MBG.
“Agar tidak terdampak keracunan makanan yang katanya bergizi, saya selalu memberikan bekal dari rumah. Kendati demikian, tetap ada rasa khawatir siapa tahu anak saya masih mengonsumsi MBG,” ujarnya.
Kepala SMA Bintang Timur Balige (BTB), Frather Nisen, mengatakan kekhawatiran juga muncul di lingkungan sekolah. Terlebih, sekolah tersebut sebelumnya sempat mengalami kejadian menu MBG yang diduga terdapat belatung.
Menurut Nisen, setelah kejadian tersebut, dapur penyedia menghentikan penyaluran MBG ke sekolah selama sekitar satu pekan.
“Setelah kejadian itu dan penyaluran dihentikan selama sepekan, sejauh ini kondisinya semakin membaik dan mendapat pemantauan ekstra ketat dari pihak sekolah,” katanya, Kamis (17/9/2026).
Ia mengatakan pihak sekolah selalu mengingatkan siswa untuk memeriksa kondisi makanan sebelum dikonsumsi, termasuk dengan memperhatikan bentuk dan aroma menu yang diberikan.
“Apabila ada hal yang dirasa kurang memenuhi syarat terhadap menu tersebut, segera laporkan kepada guru atau langsung kepada saya sebagai kepala sekolah agar diteruskan kepada penyedia untuk dilakukan perbaikan,” ujarnya.
Nisen mengakui rentetan kasus yang terjadi di sejumlah daerah menimbulkan kekhawatiran, baik di kalangan tenaga pengajar maupun orang tua murid.
“Untuk menghindarinya, sebisa mungkin kita arahkan anak didik selalu waspada sebelum mencicipi. Cium aromanya, lihat kondisi menunya, dan jika merasa ragu jangan dimakan,” katanya.
Menurut dia, sebagian orang tua menyikapi kekhawatiran tersebut dengan membekali anak mereka makanan dari rumah.
“Sampai saat ini, ada sekitar 30 persen murid tidak menerima (bersedia mengonsumsi-red) MBG dan sisanya sekitar 70 persen masih sebagai penerima. Semoga ke depannya tidak terjadi peristiwa keracunan seperti di daerah lain,” tuturnya. (*)








































