WiFi Bisa Kenali Anda, Ancaman Baru bagi Privasi?

Ilustrasi: Jaringan WiFi yang digunakan sehari-hari berpotensi dimanfaatkan sebagai alat pengawasan tersembunyi. (foto: nano banana/mistar)
Karlsruhe, MISTAR.ID - Jaringan WiFi yang digunakan sehari-hari berpotensi dimanfaatkan sebagai alat pengawasan tersembunyi. Peneliti menemukan informasi yang dipertukarkan perangkat dalam jaringan WiFi biasa dapat digunakan untuk mengenali identitas seseorang dengan tingkat akurasi mendekati 100 persen, tanpa kamera maupun perangkat pengawasan khusus.
Menurut laporan ScienceDaily, Rabu (12/8/2026), penelitian dari Karlsruhe Institute of Technology (KIT), Jerman, menunjukkan gelombang radio WiFi dapat dimanfaatkan untuk membentuk gambaran lingkungan sekaligus orang yang berada di dalamnya.
Profesor Thorsten Strufe dari KASTEL, Institute of Information Security and Dependability KIT, mengatakan metode tersebut bekerja dengan mengamati perambatan gelombang radio di suatu ruang.
“Dengan mengamati perambatan gelombang radio, kami dapat membuat gambaran lingkungan dan orang-orang yang berada di dalamnya,” kata Strufe.
Ia menjelaskan prinsipnya mirip kamera biasa. Bedanya, kamera menggunakan gelombang cahaya, sedangkan teknik tersebut menggunakan gelombang radio untuk melakukan pengenalan.
Teknologi ini juga tidak mengharuskan orang yang diamati membawa ponsel, jam pintar, atau perangkat WiFi lainnya.
“Jadi, tidak masalah apakah Anda membawa perangkat WiFi atau tidak,” ujar Strufe.
Bahkan, mematikan perangkat WiFi milik sendiri belum tentu mencegah identifikasi.
“Cukup jika perangkat WiFi lain di sekitar Anda aktif,” katanya.
Temuan tersebut dinilai membawa risiko serius terhadap privasi karena jaringan WiFi telah tersebar luas di rumah, kantor, restoran hingga ruang publik.
Peneliti Julian Todt bahkan memperingatkan setiap router berpotensi menjadi bagian dari sarana pengawasan.
“Teknologi ini mengubah setiap router menjadi sarana pengawasan potensial,” kata Todt.
Ia mencontohkan seseorang yang rutin melewati sebuah kafe dengan jaringan WiFi dapat diidentifikasi tanpa menyadarinya, kemudian dikenali kembali di lain waktu, misalnya oleh otoritas maupun perusahaan.
Felix Morsbach, peneliti lain dalam studi tersebut, menilai risikonya semakin besar karena jaringan WiFi tidak menimbulkan kecurigaan seperti kamera pengawas.
“Namun, jaringan nirkabel yang ada di mana-mana dapat menjadi infrastruktur pengawasan yang hampir menyeluruh dengan satu karakteristik mengkhawatirkan: jaringan itu tidak terlihat dan tidak menimbulkan kecurigaan,” katanya.
Teknik tersebut memanfaatkan beamforming feedback information (BFI), yakni informasi yang secara rutin dikirim perangkat yang terhubung kepada router untuk membantu mengoptimalkan komunikasi nirkabel.
Menurut peneliti, BFI dikirim tanpa enkripsi sehingga pihak lain yang berada dalam jangkauan berpotensi membacanya. Dengan menganalisis informasi itu, sistem dapat menghasilkan gambaran seseorang dari berbagai sudut yang kemudian digunakan untuk menentukan identitasnya.
Dalam pengujian terhadap 197 peserta, sistem mampu mengidentifikasi individu dengan akurasi hampir 100 persen, terlepas dari sudut pengamatan maupun cara mereka berjalan. Setelah model machine learning dilatih mengenali individu, proses identifikasi hanya membutuhkan beberapa detik.
Strufe menilai kemampuan tersebut sangat kuat, tetapi konsekuensinya terhadap privasi tidak bisa diabaikan.
“Teknologi ini sangat kuat, tetapi pada saat yang sama membawa risiko terhadap hak-hak dasar kita, terutama privasi,” ujarnya.
Para peneliti terutama mengkhawatirkan penggunaan teknologi tersebut di negara-negara otoriter. Menurut mereka, identifikasi berbasis WiFi berpotensi digunakan untuk memantau demonstran atau kelompok tertentu tanpa infrastruktur pengawasan yang terlihat seperti kamera CCTV.
Karena itu, para peneliti mendorong agar langkah perlindungan dan pengamanan privasi dimasukkan dalam pengembangan standar WiFi IEEE 802.11bf mendatang.
Penelitian tersebut dilakukan Julian Todt, Felix Morsbach, dan Thorsten Strufe. Hasilnya dipresentasikan pada ACM Conference on Computer and Communications Security (CCS) di Taipei dengan judul BFId: Identity Inference Attacks Utilizing Beamforming Feedback Information. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Agen AI Makin Canggih, Risiko Keamanan Siber Ikut Meningkat





















