Gastroparesis, Penyakit Kelumpuhan Lambung: Kenali Gejala dan Penyebabnya

Gastroparesis, Penyakit Kelumpuhan Lambung: Kenali Gejala dan Penyebabnya
Pada sebagian penderita, muntahan masih mengandung makanan yang belum tercerna karena makanan terlalu lama berada di dalam lambung.
Namun, gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami gastroparesis. Berbagai penyakit saluran pencernaan lain dapat menimbulkan keluhan serupa sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Penyebab gastroparesis tidak selalu dapat diketahui. Salah satu penyebab yang dikenal adalah diabetes jangka panjang, terutama bila kadar gula darah tidak terkontrol dan menyebabkan kerusakan saraf yang mengatur lambung.
Gastroparesis juga dapat muncul setelah jenis operasi tertentu, akibat penggunaan obat tertentu, gangguan neurologis, atau kondisi yang memengaruhi jaringan ikat.
Dalam kasus Leah, dokter menduga kondisi tersebut berhubungan dengan Ehlers-Danlos syndrome, tetapi keterkaitan penyebab pada setiap pasien harus dinilai secara individual oleh dokter.
Diagnosis dan Penanganan
Dokter biasanya terlebih dahulu melakukan pemeriksaan untuk menyingkirkan penyebab lain dari gejala yang dialami pasien.
Pemeriksaan dapat mencakup tes darah, USG, pemeriksaan pencitraan, maupun gastroskopi.
Untuk mengetahui seberapa cepat lambung mengosongkan makanan, pasien juga dapat menjalani gastric emptying study. Pemeriksaan inilah yang akhirnya membantu mengonfirmasi kondisi Leah.
Gastroparesis merupakan kondisi jangka panjang dan penanganannya terutama bertujuan mengurangi gejala sekaligus memastikan pasien tetap memperoleh nutrisi yang cukup.
Pada kasus tertentu, perubahan pola makan dapat membantu. Pasien dapat disarankan mengonsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering serta menggunakan makanan bertekstur lebih lunak atau cair yang lebih mudah melewati lambung.
Dokter juga dapat memberikan obat untuk membantu pergerakan lambung maupun mengendalikan mual dan muntah.
Namun, kondisi Leah jauh lebih berat. Ia sempat mendapatkan nutrisi menggunakan selang melalui hidung menuju lambung, kemudian menggunakan selang yang langsung menuju usus kecil.
Ketika cara tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan tubuhnya, Leah dirujuk ke tim spesialis kegagalan usus.
Pada November 2024, ia mulai mendapatkan Total Parenteral Nutrition (TPN), yakni pemberian seluruh kebutuhan nutrisi langsung ke aliran darah tanpa melalui sistem pencernaan.
Nutrisi tersebut diberikan melalui Hickman line, kateter yang terhubung ke pembuluh darah besar melalui dada. Leah menggunakannya sekitar 12 jam sehari selama lima hari dalam sepekan.
TPN bukan terapi rutin bagi semua penderita gastroparesis. Metode ini biasanya digunakan pada kondisi sangat berat karena penggunaannya juga memiliki risiko, termasuk infeksi pada jalur kateter.
Leah mengatakan makanan biasa kini hampir tidak dapat ditoleransinya. Ia hanya mampu mengonsumsi teh, kopi dengan susu bebas laktosa, serta sesekali sedikit krim dari bagian tengah biskuit custard cream.
Kondisinya juga membuat Leah harus pensiun secara medis dari pekerjaannya sebagai resepsionis instalasi gawat darurat NHS.
Meski demikian, ia tetap memasak dan masih menghadiri acara makan bersama keluarga. Baginya, tidak dapat makan bukan berarti harus kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Virus Influenza A Bisa Bertahan di Permukaan, Ini Pesan Dokter








































