Thursday, August 6, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Ibu Jaka Malau Ragukan Rekonstruksi Kasus Pengeroyokan, Minta Polisi Gelar Rekonstruksi Ulang

Mistar.idKamis, 6 Agustus 2026 pukul 17.59 WIB
ibu_jaka_malau_ragukan_rekonstruksi_kasus_pengeroyokan_minta_polisi_gelar_rekonstruksi_ulang

Dahlia Siallagan tak bisa menahan air mata dan amarah seusai melihat langsung rekonstruksi kasus pengeroyokan yang menewaskan anaknya, Jaka Jannes Malau. (foto:abdi/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (6/8/2026) — Dahlia Siallagan tak kuasa menahan air mata usai menyaksikan langsung rekonstruksi kasus pengeroyokan yang menewaskan anaknya, Jaka Jannes Malau. Rekonstruksi yang digelar Polres Pematangsiantar pada Kamis (6/8/2026) itu, menurutnya, belum menjawab rasa keadilan yang diharapkan keluarga.

Dahlia secara tegas menyatakan keberatan terhadap sejumlah adegan yang diperagakan para tersangka, terutama terkait pengakuan Ronaldo Willy Marco Siburian yang mengaku sempat ditusuk korban di Lapangan Merdeka. Menurut Dahlia, rekaman video yang dimilikinya menunjukkan kondisi yang berbeda.

"Saya sudah cek langsung ke Taman Bunga, anak saya sama sekali nggak kenal orang itu. Katanya si Ronaldo ditusuk, tapi di video saya, lehernya bersih, nggak ada darah. Setelah kejadian pun dia masih sanggup menendang. Kalau benar ditusuk, pasti berdarah, jadi saya nggak percaya sama alasan-alasan seperti itu," ucap Dahlia.

Dahlia mengaku semakin ragu karena menurutnya sejumlah adegan dalam rekonstruksi tidak sesuai dengan bukti video yang dimilikinya. Ia meminta kepolisian menggelar rekonstruksi ulang secara transparan agar seluruh fakta dapat terungkap.

Harapan memperoleh keadilan juga disampaikannya kepada seluruh aparat penegak hukum hingga Presiden.

"Saya minta ke jaksa, hakim, polisi, sampai Pak Presiden Prabowo tolong usut tuntas kasus ini. Pelakunya harus dihukum berat, hukuman seumur hidup," katanya.

Dahlia juga meluruskan informasi yang beredar mengenai penerimaan uang sebesar Rp40 juta oleh keluarganya. Menurutnya, dana tersebut merupakan bantuan duka yang diberikan keluarga besar Marga Aruan melalui organisasi Ikatan Pemuda Karya (IPK), jauh sebelum kasus ini menjadi perhatian publik.

Dana tersebut, lanjutnya, digunakan untuk biaya pemakaman dan perbaikan makam Jaka Jannes Malau, bukan sebagai uang damai ataupun untuk menghentikan proses hukum.

"Awalnya saya nggak mau terima, tapi waktu datang kedua kalinya, mereka bilang ini bantuan kemanusiaan buat keluarga, bukan dari pelaku langsung. Mereka datang sebagai keluarga besar. Siapa sih yang nggak terima sumbangan buat biaya kuburan anak? Tapi itu bukan uang damai. Nggak akan ada kata damai di hati saya dan keluarga," kata Dahlia.

Dahlia juga menyebut video kejadian yang beredar memperlihatkan jumlah pelaku yang menurutnya lebih banyak dibandingkan yang diakui sebelumnya. Ia mengatakan seluruh proses penerimaan bantuan tersebut direkam sebagai bentuk dokumentasi agar tidak menimbulkan anggapan bahwa keluarganya menukar keadilan dengan uang.

Kini, keluarga berharap kepolisian dan kejaksaan memproses seluruh pihak yang terlibat sesuai ketentuan hukum sehingga perkara tersebut dapat diselesaikan secara adil. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN