Harga CPO Berpeluang Tembus 5.000 Ringgit per Ton, Ini Faktor Pendorongnya

Harga CPO ditransaksikan pada kisaran 4.754 ringgit per ton, berpeluang tembus 5.000 ringgit per ton. (foto: magnific/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di pasar global diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026. Faktor yang mendasar seperti anomali cuaca hingga kebijakan energi nasional, menjadi katalis utama penguatan harga komoditas CPO.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan harga CPO dunia berada pada tren positif, mengikuti jejak penguatan harga minyak mentah global. Saat ini, harga CPO ditransaksikan pada kisaran 4.754 ringgit per ton.
"Saya melihat harga CPO berpeluang menembus 5.000 ringgit per ton tahun ini. Tren bullish (penguatan) harga CPO berpeluang berlanjut hingga akhir 2026," ujarnya, Jumat (21/8/2026).
Gunawan menyampaikan, terdapat empat faktor penting yang dapat mendongkrak harga CPO dalam waktu dekat. Selain harga minyak mentah dunia, kenaikan permintaan musiman dan ancaman penyusutan produksi menjadi penggerak utamanya.
"Musim kemarau diprediksi akan lebih panjang dari tahun sebelumnya, berisiko menekan angka produksi sawit nasional. Kebutuhan produk turunan sawit akan naik tajam jelang Deepavali pada November, dan dapat mendongkrak permintaan minyak sawit domestik hingga 8 peraen di atas konsumsi normal," ucapnya.
Faktor penting lainnya yaitu kebijakan penggunaan B50 sebagai bahan baku solar di Indonesia akan menyedot pasokan CPO domestik cukup besar. Kemudian, naiknya harga minyak mentah dunia, otomatis mengerek harga komoditas energi alternatif dan minyak nabati lainnya.
Satu-satunya sentimen yang berpotensi menahan kenaikan harga CPO adalah peningkatan stok minyak sawit di Malaysia dalam waktu dekat. Meski demikian, Gunawan menilai tambahan suplai dari negara tersebut tidak mampu menekan harga dalam jangka waktu lama karena kuatnya dorongan permintaan.
Jika dihitung, kenaikan harga CPO dunia menjadi angin segar yang memberikan keuntungan bagi petani kelapa sawit di Indonesia. Sayangnya, potensi keuntungan itu dibayangi oleh melonjaknya biaya operasional di tingkat akar rumput.
Menurut Gunawan, petani sawit saat ini dihadapkan pada tantangan berat seperti kenaikan biaya input produksi. Kondisi ini beresiko pada kenaikan harga jual sawit menjadi tidak optimal dalam memperbaiki kesejahteraan maupun daya beli petani perkebunan.
"Nilai Tukar Petani (NTP) untuk sub-sektor perkebunan akan mendapatkan beban dari indeks pengeluaran petani. Pengeluaran ini diperuntukkan bagi melonjaknya biaya produksi dan penambahan barang modal," ujarnya.
PREVIOUS ARTICLE
Rupiah Menguat 133 Poin Sepekan, Ditutup Rp17.694 per Dolar AS























