Wednesday, August 19, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Kebun Teh Beralih Jadi Sawit, Warga Sidamanik Keluhkan Air Bersih dan Cemas Banjir

Mistar.idRabu, 19 Agustus 2026 pukul 16.35 WIB
kebun_teh_beralih_jadi_sawit_warga_sidamanik_keluhkan_air_bersih_dan_cemas_banjir

Tanaman sawit di lahan PTPN IV Bah Butong, Kecamatan Sidamanik, yang sebelumnya ditanami teh. (Foto: Indra/Mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID - Kekhawatiran warga Sidamanik terhadap perubahan tanaman teh menjadi kelapa sawit di areal perkebunan PTPN IV kini mulai dibarengi persoalan lain. Di tengah tanaman sawit yang mulai berbuah di sekitar Bah Butong, Kecamatan Sidamanik, warga justru mengeluhkan akses air bersih yang semakin terbatas.

Pergantian tanaman teh ke sawit di kawasan tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun. Sejak awal, rencana itu mendapat penolakan dari sejumlah warga dan organisasi masyarakat yang mempertanyakan dampaknya terhadap lingkungan dalam jangka panjang.

Namun, penolakan tersebut tidak menghentikan proses pergantian tanaman. Kini, sebagian tanaman sawit yang ditanam di sekitar Bah Butong sudah memasuki masa berbuah.

Bersamaan dengan itu, warga di sejumlah wilayah Sidamanik mengaku mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini menjadi perhatian karena kawasan tersebut dikenal memiliki banyak sumber mata air, bahkan beberapa di antaranya menjadi lokasi pemandian alami yang ramai dikunjungi.

Puspita, warga Sidamanik, mengatakan aliran air ke rumahnya kini hanya tersedia sekali dalam dua hari, itu pun debit air yang keluar sangat kecil. Pergantian teh ke sawit menurutnya menjadi salah satu penyebab hal itu.

“Sekarang katanya gantian. Air hidup cuma satu kali dalam dua hari, itu pun kecil juga alirannya. Sebelum berganti sawit, tidak terlalu seperti ini,” kata Puspita, Rabu (19/8/2026).

Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit. Puspita yang sehari-hari bekerja sebagai guru mengatakan, kebutuhan air dalam jumlah besar tidak lagi mudah dipenuhi.

Ia mencontohkan ketika ada kegiatan ibadah di rumah atau keluarga datang berkunjung. Untuk mencukupi kebutuhan air, ia terpaksa mengeluarkan biaya tambahan.

“Kalau seumpama ada wirid di rumah, susah dan harus mengeluarkan biaya tambahan. Sama juga kalau datang keluarga, repotlah,” ujarnya.

Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan juga disampaikan warga lainnya, Sari. Ia mengaku khawatir perubahan tanaman teh menjadi sawit akan berpengaruh terhadap kemampuan lingkungan menyerap air, terutama saat hujan berlangsung dalam waktu lama.

Sari kemudian mengaitkan kekhawatiran itu dengan kondisi di wilayah Marjandi yang lebih dulu mengalami perubahan tanaman dari teh menjadi sawit. Menurutnya, setelah perubahan tanaman, banjir kerap terjadi di Panei Tongah saat hujan turun berjam-jam.

“Di Marjandi sudah duluan diganti dari teh ke sawit. Imbasnya Panei Tongah selalu banjir kalau datang hujan berjam-jam. Itu yang kita khawatir,” katanya.

Bagi warga Sidamanik, persoalan air kini bukan lagi sekadar kekhawatiran mengenai dampak perubahan komoditas perkebunan. Mereka mulai merasakan sendiri sulitnya memperoleh air untuk kebutuhan rumah tangga, sementara di kawasan yang sama sumber mata air masih banyak ditemukan.

Kondisi itu membuat warga berharap dampak lingkungan dari perubahan tanaman di kawasan perkebunan turut mendapat perhatian, terutama menyangkut keberlangsungan sumber air dan risiko banjir di wilayah sekitar. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN