Robot Humanoid Tiongkok Unitree Trending, Sahamnya Melonjak 629 Persen

Ilustrasi, Robot Humanoid Tiongkok Unitree Trending yang Sahamnya Melonjak 629 Persen. (foto:unitree/mistar)
Daya tarik terbesar humanoid sebenarnya bukan sekadar bentuknya yang menyerupai manusia.
Teknologi tersebut merupakan bagian dari perkembangan physical AI, yaitu AI yang tidak hanya memahami teks, gambar atau suara, tetapi juga mampu memahami lingkungan fisik dan melakukan tindakan melalui tubuh robot.
Robot harus dapat melihat objek, menentukan posisi, menjaga keseimbangan, menggerakkan banyak persendian dan menyesuaikan tindakannya secara real time.
Karena itu, membuat robot melakukan gerakan akrobatik belum otomatis berarti robot siap menggantikan manusia di tempat kerja.
Tantangan sebenarnya adalah membuat robot mampu melakukan pekerjaan yang kompleks, berulang dan tidak sepenuhnya terprediksi secara aman serta ekonomis.
Bisakah Robot Humanoid Menggantikan Manusia?
Untuk saat ini, jawabannya belum secara luas.
Sebagian penggunaan humanoid masih berada pada tahap penelitian, pendidikan, demonstrasi, hiburan dan pengembangan teknologi. Bahkan perusahaan robotika sendiri masih berlomba meningkatkan kemampuan persepsi, manipulasi objek, daya tahan baterai, mobilitas dan kecerdasan robot.
Contohnya, robot mungkin mampu berjalan atau melakukan backflip, tetapi pekerjaan sederhana seperti merapikan ruangan membutuhkan tingkat pemahaman yang jauh lebih kompleks.
Robot harus mengetahui benda apa yang harus dipindahkan, ke mana benda tersebut diletakkan, bagaimana cara memegangnya dan bagaimana menghadapi situasi yang belum pernah ditemui sebelumnya.
Dengan kata lain, gerakan spektakuler belum tentu menunjukkan kecerdasan umum.
Mengapa Investor Begitu Antusias?
Investor melihat humanoid sebagai salah satu kandidat teknologi besar berikutnya setelah AI generatif.
Unitree memiliki daya tarik tambahan karena tidak hanya memiliki teknologi robot, tetapi juga pengalaman manufaktur dan produk yang sudah dijual secara komersial.
Pendapatan Unitree meningkat dari sekitar 159 juta yuan pada 2023 menjadi 393 juta yuan pada 2024 dan sekitar 1,7 miliar yuan pada 2025. Perusahaan juga mengirim lebih dari 5.500 robot humanoid pada 2025, menurut laporan media yang mengutip data perusahaan.
Inilah yang membuat Unitree berbeda dari sekadar perusahaan rintisan yang masih mengandalkan prototipe.
Namun, lonjakan saham juga menunjukkan bahwa investor sedang membeli ekspektasi masa depan, bukan hanya kinerja bisnis saat ini.
Tantangan Besar Unitree
Di balik optimisme tersebut terdapat sejumlah tantangan.
Pertama, penggunaan robot humanoid secara massal masih terbatas. Robot harus menjadi cukup andal untuk bekerja dalam waktu lama dan cukup murah agar perusahaan memperoleh keuntungan dari otomatisasi.
Kedua, persaingan global semakin ketat. Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang dan sejumlah negara lain berlomba mengembangkan robot humanoid dan teknologi AI terkait.
Ketiga, terdapat risiko geopolitik.
Lebih dari 40 persen pendapatan Unitree pada 2025 berasal dari pasar luar negeri, menurut laporan AP. Pada saat yang sama, Amerika Serikat memperketat akses terhadap sejumlah robot humanoid dan robot berkaki empat buatan luar negeri dengan alasan keamanan nasional.
Bukan Sekadar Tren Robot
Fenomena Unitree menunjukkan bahwa perlombaan robot humanoid kini telah berkembang menjadi persaingan teknologi strategis.
Tiongkok memiliki keuntungan berupa rantai pasok manufaktur yang besar, sementara perkembangan AI memberikan "otak" yang semakin canggih bagi robot.
Jika biaya hardware terus turun dan kemampuan AI meningkat, humanoid berpotensi masuk ke pabrik, gudang, logistik, layanan, hingga rumah tangga.
Namun, ukuran keberhasilan industri ini nantinya bukan lagi seberapa tinggi robot dapat melompat atau seberapa menarik robot menari di panggung.
Pertanyaan terpenting adalah apakah robot tersebut mampu bekerja secara aman, mandiri, konsisten dan lebih murah dibandingkan tenaga manusia.
Lonjakan saham Unitree hingga 629 persen mungkin merupakan tanda besarnya ekspektasi terhadap masa depan tersebut. Tetapi apakah humanoid benar-benar akan menjadi "tenaga kerja baru" dunia masih harus dibuktikan oleh kemampuan teknologi dan keekonomian dalam beberapa tahun ke depan.
(berbagaisumber/*/mistar)
PREVIOUS ARTICLE
Memori Digital Berbasis DNA Diklaim Hemat Energi hingga 100 Kali




















