Gen Alfa Dijuluki 'Anak AC', Ahli Ungkap Pengaruh Pola Asuh dan Gaya Hidup

Gen Alfa. (Foto: Dok. Angel Fish)
Bandung, MISTAR.ID – Generasi Alfa belakangan mendapat julukan "anak AC" karena dianggap kurang tahan berada di bawah terik matahari, termasuk saat mengikuti upacara bendera. Namun, kondisi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan pendingin ruangan.
Ahli pengasuhan dan perkembangan anak di Universitas IPB, Prof Dwi Hastuti, menilai lingkungan serta pola asuh turut membentuk kebiasaan tersebut.
Gen Alfa yang lahir pada 2010-2025 tumbuh ketika teknologi digital dan berbagai fasilitas penunjang kehidupan berkembang pesat. Pendingin ruangan menjadi salah satu fasilitas yang sudah akrab bagi sebagian anak sejak usia dini.
"Dari perspektif psikologis, kondisi tersebut membuat anak-anak gen Alfa cenderung terbiasa memperoleh kemudahan sehingga karakter kegigihan, ketahanan mental, dan daya juang mereka berpotensi tidak sekuat generasi sebelumnya," ujar Prof Tuti, demikian dia disapa, dilansir dari detikEdu, Minggu (9/8/2026).
Kemudahan itu secara tidak langsung dapat membentuk kebiasaan mencari solusi yang serba praktis. Ketika merasa kepanasan, misalnya, anak bisa langsung memilih menyalakan AC tanpa terlebih dahulu mencoba cara lain, seperti menggunakan kipas tangan atau mencari tempat yang lebih teduh.
Aktivitas Fisik Berkurang
Kebiasaan hidup yang minim aktivitas fisik atau sedentary life juga dinilai berpengaruh. Menurut Tuti, pola tersebut dapat terbentuk dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga budaya yang semakin mengedepankan kenyamanan dan kepraktisan.
Perubahan sederhana dalam keseharian bisa menjadi gambaran. Jika anak-anak pada masa lalu terbiasa berjalan kaki menuju sekolah, kini banyak yang diantar menggunakan kendaraan pribadi atau memanfaatkan layanan antar-jemput.
Orang Tua Perlu Melatih Ketangguhan Anak
Karena itu, Tuti menilai orang tua memiliki peran penting dalam membangun daya tahan dan kemandirian anak. Orang tua tidak hanya perlu memberikan contoh, tetapi juga menjelaskan alasan di balik setiap keputusan agar anak terbiasa berpikir, menganalisis situasi, dan menentukan pilihan sendiri.
Anak juga perlu sesekali diberi pengalaman yang berbeda dari kehidupan nyaman sehari-hari. Misalnya, berjalan kaki, menghadapi kondisi ketika tidak memiliki uang, atau berada dalam situasi tanpa fasilitas yang biasanya tersedia.
"Ajak anak untuk mengalami juga bagaimana jika ia harus jalan kaki, bagaimana jika tiba-tiba tidak punya uang, tidak punya aneka fasilitas yang membantu mereka. Hal ini agar anak terbiasa dengan manajemen risiko, sehingga ia tidak bermental 'lembek', mudah menyerah serta mudah putus asa," jelas Tuti.
Selain itu, orang tua bisa mengajak anak melihat berbagai kondisi sosial di sekitarnya untuk melatih empati, berdiskusi, dan belajar menghadapi berbagai kondisi dalam kehidupan.
Tuti mengingatkan, anak yang terlalu bergantung pada fasilitas dan selalu dilayani bisa mengalami kesulitan saat menghadapi tantangan. Oleh karena itu, anak perlu dibiasakan melakukan berbagai hal secara mandiri.
"Hal ini karena salah satu kunci keberhasilan anak di masa depan adalah individu yang agile, mudah beradaptasi, dan menyelesaikan masalah serta kreatif," jelasnya. (Detik)




















