Friday, October 30, 2026
home_banner_first
MEDAN

Di Balik Megahnya Bendungan Lau Simeme, Ada Desa yang Tenggelam dan Harapan Baru dari Wisata Lokal

Mistar.idKamis, 29 Oktober 2026 pukul 09.38 WIB
di_balik_megahnya_bendungan_lau_simeme_ada_desa_yang_tenggelam_dan_harapan_baru_dari_wisata_lokal

Bendungan Lau Simeme. (Foto: Matius/Mistar)

Di tengah peluang yang mulai terbuka, Komando menyimpan satu harapan besar: masyarakat Kuala Dekah harus menjadi bagian utama dari perkembangan kawasan wisata tersebut. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dapat membantu memfasilitasi penataan kawasan agar lebih terarah. Dengan begitu, aktivitas usaha warga bisa berkembang tanpa mengabaikan tata kelola kawasan bendungan.

Komando tidak ingin potensi wisata yang mulai terlihat justru membuat masyarakat setempat tersisih ketika investasi yang lebih besar masuk. Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Warga telah lebih dahulu mengambil inisiatif dengan membuka warung dan menyediakan tempat singgah bagi pengunjung. Mereka melihat peluang dari perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka.

Bagi masyarakat, wisata bisa menjadi sumber penghasilan tambahan ketika lahan pertanian semakin terbatas. Akan tetapi, agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas, diperlukan kepastian mengenai penataan ruang, akses, dan kesempatan usaha bagi warga lokal.

Menjaga Kenangan, Menyambut Masa Depan

Bendungan Lau Simeme kini berdiri sebagai infrastruktur yang menyimpan dua cerita sekaligus. Dari satu sisi, bendungan ini diharapkan memberi manfaat bagi wilayah yang lebih luas melalui pengendalian banjir, penyediaan air baku, dan pemanfaatan sumber daya air. Namun, di sisi lain, pembangunannya telah mengubah wajah Kuala Dekah dan kehidupan masyarakat yang dahulu bermukim di kawasan genangan, yang kini mulai beralih menjadi kawasan wisata air.

Pasalnya, kantor desa, rumah-rumah warga yang dahulu menjadi tempat berlangsungnya kehidupan, serta ladang yang menghasilkan panen kini tak lagi terlihat. Semuanya tersimpan di bawah hamparan air yang dari kejauhan tampak tenang.

Namun, masyarakat berharap kehidupan mereka tidak ikut tenggelam bersama bangunan-bangunan tersebut. Mereka ingin berpindah, membangun kembali tempat tinggal, melanjutkan pertanian di lahan yang tersisa, dan mulai mencari peluang baru melalui aktivitas wisata.

Buktinya, di tepi Bendungan Lau Simeme, mulai terlihat warung-warung sederhana yang menjadi penanda bahwa masyarakat sedang berusaha beradaptasi. Setiap pengunjung yang datang membawa kemungkinan baru bagi perputaran ekonomi lokal, meski manfaatnya masih perlu dikembangkan melalui pengelolaan terencana yang mungkin bisa dibantu oleh pemerintah daerah.

Bagi masyarakat Kuala Dekah, masa depan kawasan ini bukan semata-mata tentang seberapa ramai wisatawan yang datang atau seberapa indah pemandangan yang ditawarkan. Lebih dari itu, mereka berharap pembangunan yang telah mengubah kampung halaman mereka dapat membuka kesempatan hidup yang lebih baik bagi warga yang terdampak.

Ruben Sembiring merupakan satu dari sejumlah pedagang jajanan dan minuman yang kini mulai mencari rezeki di kawasan Bendungan Lau Simeme, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Berbekal keyakinan, ia berharap bendungan ini kelak menjadi destinasi wisata.

Dari penuturannya, pria paruh baya itu sudah lebih dahulu menyiapkan lahan dan membangun warung. Kini, bersama sang istri, ia menggantungkan harapan pada ramainya wisatawan sekaligus menanti kepastian izin berjualan dari pemerintah.

Menurut Ruben, suasana keramaian di kawasan Bendungan Lau Simeme perlahan berubah ketika siang beranjak sore. Banyak pengunjung mulai berdatangan. Sebagian menikmati pemandangan bendungan, sementara yang lain mencari tempat untuk beristirahat sambil menyantap makanan dan menyeruput minuman yang mereka beli dari luar maupun di sekitar lokasi.

Pantauan Mistar, di antara deretan tenda yang berdiri memanjang dari pintu masuk hingga ke ujung kawasan, pria berusia 38 tahun itu terlihat sibuk melayani pembeli. Bersama istrinya, ia mengelola sebuah warung sederhana yang menjajakan mi goreng, teh manis, dan teh manis dingin.

Warung itu menjadi tumpuan rezeki baru bagi Ruben. Sejak kawasan bendungan mulai ramai dikunjungi wisatawan, ia melihat peluang untuk menghidupi keluarga sekaligus mengembangkan usaha kecil di kampung halamannya.

Menurut dia, Sabtu dan Minggu menjadi hari yang paling dinantikan, terutama ketika hari libur karena jumlah pengunjung meningkat dibandingkan hari biasa. Dari aktivitas berjualan, omzet yang diperolehnya pada hari Minggu bisa mencapai Rp1,5 juta. Sementara itu, pada hari biasa, pendapatannya berkisar Rp200 ribu.

Bagi Ruben, angka itu bukan sekadar hitungan uang dari semangkuk mi goreng atau segelas teh manis. Ada harapan yang tumbuh bersama setiap pengunjung yang datang.

Dari pengakuannya, Ruben sudah membayangkan kawasan Bendungan Lau Simeme akan berkembang menjadi tempat wisata. Keyakinan tersebut membuatnya mulai menyiapkan lahan sejak 2020. Ia turut menggali dan meratakan tanah agar kawasan itu dapat dimanfaatkan ketika peluang usaha terbuka.

“Sampai ke sini pemikiran kita. Karena pasti jadi wisata,” ujarnya, mengenang keyakinannya saat itu sambil menyiapkan pesanan pelanggan.

Ruben dan istrinya bukan orang baru di kawasan bendungan. Sebelumnya, ia juga bekerja di sana dengan membantu aktivitas para pekerja proyek. Sebagai putra daerah, ia merasa memiliki kedekatan dengan kawasan tersebut dan ingin turut mengambil bagian dalam perkembangannya.

Ketika peluang berjualan mulai terlihat, ia pun bergerak. Sekitar sebulan sebelum ditemui, Ruben mulai mendirikan warung di kawasan itu. Namun, membangun warung bukan perkara murah. Bersama istrinya, ia harus menyiapkan modal sekitar Rp10 juta untuk membeli bambu, kayu, atap, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Pengerjaan meja saja, katanya, memakan waktu hingga tiga minggu. Satu demi satu perlengkapan disiapkan agar warung bisa digunakan untuk melayani pengunjung. Warung Ruben tampak lebih lebar dibandingkan sejumlah warung lain di sekitarnya. Ia menjelaskan bahwa ukuran tersebut berkaitan dengan lahan yang telah lebih dahulu digarap dan diratakannya.

Meski sudah mengeluarkan modal cukup besar, ia belum berani membangun warungnya secara lebih permanen atau mempercantik seluruh bagiannya. Ada satu hal yang masih menggantung, yakni kepastian aturan mengenai pemanfaatan kawasan tersebut untuk berjualan.

Sama seperti warga lainnya, di tengah harapan akan semakin ramainya wisatawan, Ruben menginginkan satu hal sederhana: masyarakat setempat diberi kesempatan untuk berusaha di kawasan Bendungan Lau Simeme.

Untuk itu, Ruben Sembiring berharap pemerintah daerah dapat memberikan izin kepada warga lokal untuk berjualan sehingga manfaat ekonomi dari perkembangan destinasi wisata itu juga dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Harapan kita, mudah-mudahan nanti pemerintah mengizinkan kita di sini untuk berusaha. Jangan pula nanti tidak dikasih, malah orang lain yang mengelola,” tuturnya.

Keinginan itu bukan berarti menolak aturan. Ia justru menyatakan kesediaannya mengikuti ketentuan yang ditetapkan pemerintah, selama masyarakat lokal tetap memiliki kesempatan untuk mencari nafkah.

Sebagai putra daerah, Ruben berharap keberadaan destinasi wisata ini tidak hanya menghadirkan pemandangan indah dan menarik banyak pengunjung, tetapi juga membuka ruang bagi usaha kecil masyarakat.

Kini, di bawah tenda sederhana yang dibangun dengan modal jutaan rupiah, Ruben dan istrinya terus melayani pembeli. Setiap mi goreng yang tersaji dan setiap gelas teh manis yang terjual menjadi bagian dari perjuangan mereka mempertahankan usaha.

Alasan Ketertarikan Pengunjung

Hardi merupakan salah satu pengunjung Bendungan Lau Simeme. Pria yang tinggal di kawasan Asrama Armed itu juga mengungkapkan ketertarikannya terhadap kawasan tersebut.

Ia memang baru pertama kali datang ke lokasi itu. Namun, begitu tiba, pria berusia 30 tahun itu tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya. Menurutnya, kawasan bendungan sangat cocok untuk menghilangkan penat dari hiruk-pikuk Kota Medan.

”Awalnya penasaran, kayak apa sih Danau Si Meme itu kan yang viral di Facebook. Jadi ya coba-coba lah ke sini. Memang dari awal mula pengin juga sih ke sini. Rupanya ya kayak ginilah ya, memang indah juga ya kan,” terangnya sambil tersenyum.

Menurut Hardi, keindahan Bendungan Lau Simeme hampir menyerupai Danau Toba, meski tidak seindah Danau Toba. Menurut dia, Danau Toba memang sudah memiliki legenda.

Tak hanya itu, Bendungan Lau Simeme merupakan danau buatan sehingga tidak bisa disamakan dengan Danau Toba, meski memiliki pemandangan yang menyerupai. Ia juga berharap ke depannya ada tambahan fasilitas di lokasi tersebut yang bisa dimanfaatkan pengunjung.

“Kalau dari masyarakat sendiri tadi saya tanya, ini memang masih proses pembangunan. Bakalnya pun nanti mau dibuat tempat pariwisata. Itu saya tanya juga tadi dan di sini kan posisinya belum sampai apalah, masih proses mungkin kan. Tapi memang ya kenyataan memang yang sudah saya ke sini, indah memang,” ujarnya mengakhiri. (hm25)


Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN