Thursday, October 29, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Korbannya Tak Hanya Manusia, Kabut Asap Karhutla Menaysar ke Monyet dan Kucing Sesak hingga Butuh Oksigen

Mistar.idJumat, 30 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB
korbannya_tak_hanya_manusia_kabut_asap_karhutla_menaysar_ke_monyet_dan_kucing_sesak_hingga_butuh_oksigen_

Seekor monyet diberi oksigen setelah mengalami sesak napas akibat asap karhutla. (Foto: detikcom/Dok. Istimewa/ Dianmalia Vet Clinic)

Balikpapan, MISTAR.ID (30/10/2026) — Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga menyasar hewan peliharaan di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Sejumlah hewan dilaporkan mengalami gangguan pernapasan hingga harus dibantu oksigen.

Kondisi ini terlihat di Dianmalia Vet Clinic. Dokter hewan di klinik tersebut, drh. Elisabeth Inike, mengatakan kasus gangguan pernapasan pada hewan meningkat signifikan sejak pertengahan September 2026.

"Keluhan yang dialami pasien beragam, mulai dari batuk, pilek, hingga sesak napas," ujarnya kepada detikKalimantan, Kamis (29/10/2026).

Ia mencatat sekitar 30 persen dari 8 hingga 10 hewan yang diperiksa setiap hari mengalami gangguan pernapasan. Kondisi tersebut telah berlangsung selama sekitar satu bulan terakhir.

"Keluhan ini terjadi selama sekitar satu bulan terakhir atau sejak pertengahan September 2026," katanya.

Lonjakan kasus tersebut turut meningkatkan penggunaan oksigen di klinik. Beberapa pasien bahkan harus menjalani rawat inap untuk mendapatkan penanganan maksimal.

"Inkubator biasanya kami gunakan untuk menangani kasus infeksi tertentu. Namun, oksigen hampir digunakan setiap hari sejak sebulan terakhir karena semakin banyak pasien yang mengalami gangguan pernapasan," kata Elisabeth.

Menurutnya, gangguan pernapasan tidak hanya mengancam hewan yang sering beraktivitas di luar rumah. Hewan yang sepenuhnya berada di dalam rumah pun tetap berisiko terdampak.

"Walaupun berada di dalam rumah, partikel asap tetap bisa masuk dan terhirup. Apalagi hewan yang masih sering berada di luar rumah," ungkapnya.

Elisabeth menyebut kucing menjadi pasien paling banyak mengalami gangguan pernapasan, terutama kucing dengan pola pemeliharaan semi-indoor yang terkadang dibiarkan beraktivitas di luar rumah dan kembali masuk pada malam hari.

"Hewan tersebut terkadang dibiarkan beraktivitas di luar rumah, kemudian kembali masuk pada malam hari. Kondisi itu membuat hewan lebih berisiko terpapar udara luar yang tercemar asap. Meskipun partikel asap masih dapat masuk ke ruangan," jelasnya.

Ia mengingatkan, pemulihan hewan dengan gangguan pernapasan berat tidak berlangsung cepat. Jika paru-paru sudah terdampak paparan asap, proses penyembuhan membutuhkan waktu lebih lama.

"Karena itu, pemilik hewan perlu memperhatikan perubahan kondisi peliharaannya sejak gejala awal muncul. Apalagi hewan tidak dapat menyampaikan keluhan seperti manusia sehingga penting memperhatikan perubahan perilaku mereka," pungkasnya. (hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN