Kemenkes Catat 283.270 Kasus ISPA akibat Karhutla hingga Oktober 2026

Kondisi kabut karena karhutla (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama Agustus hingga 13 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63.711 kasus terjadi pada anak berusia 0–5 tahun.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, Then Suyanti, menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers perkembangan penanganan karhutla yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Rabu (14/10/2026).
Menurut Then, kasus ISPA tersebut tersebar di tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten/kota terdampak karhutla. Hingga 13 Oktober 2026, tercatat 3.897 kasus harian.
Sementara itu, sebanyak 219.559 kasus ditemukan pada kelompok usia di atas lima tahun.
Kalimantan Selatan Catat Kasus Terbanyak
Berdasarkan data Kemenkes, Kalimantan Selatan mencatat 74.636 kasus ISPA, disusul Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.
Tingginya kasus ISPA di wilayah terdampak menjadi perhatian karena asap karhutla mengandung berbagai polutan yang berisiko mengganggu kesehatan masyarakat.
Then menjelaskan, asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun.
Paparan polutan tersebut dapat memicu gangguan pernapasan dengan gejala berupa batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan. Asap juga dapat memperburuk asma, memperparah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.
Anak-anak hingga Lansia Rentan Terdampak
Dampak asap karhutla tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan. Paparan polusi udara juga dapat memengaruhi kesehatan kardiovaskular, termasuk meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi.
Kemenkes mengingatkan pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus. Jika muncul sesak napas atau gejala yang memburuk, segera cari pertolongan medis.
Upaya mengurangi paparan asap dan melindungi kelompok rentan menjadi langkah penting untuk menekan risiko gangguan kesehatan selama karhutla berlangsung.























































