Kemenkes Catat 113.336 Kasus ISPA Akibat Karhutla, IDAI: Darurat Kesehatan Anak

Ketua PP IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), saat ditemui Mistar di Medan. (foto: Berry/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 113.336 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 9 September 2026.
Kasus tersebut tercatat di tujuh provinsi terdampak karhutla, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 26.545 kasus ISPA tercatat pada kelompok balita usia 0–5 tahun. Kondisi ini mendapat perhatian dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengingat anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan asap karhutla.
"Saya turut prihatin terhadap dampak kesehatan yang dirasakan anak-anak di Indonesia akibat karhutla ini," ujar Ketua Pengurus Pusat (PP) IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), saat ditemui Mistar di Medan, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Piprim, karhutla bukan sekadar persoalan bencana lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan anak dan kelompok rentan.
Dokter Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) itu menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5 yang berbahaya bagi saluran pernapasan.
"Anak merupakan kelompok paling rentan, lantaran mereka dapat menghirup lebih banyak udara dan sistem pernapasan maupun imunitas pada tubuhnya masih berkembang," ucapnya.
Terpisah, Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi(K), mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh dampak karhutla terhadap kesehatan pernapasan anak.
"Asap karhutla dapat menghasilkan PM2.5 yang jauh 10 kali lebih berbahaya untuk kesehatan pernapasan anak, dibandingkan PM2.5 yang dihasilkan dari sumber polusi perkotaan dan lainnya," ucap Wahyuni.
Ia menyebutkan, PM2.5 dari asap karhutla memiliki komposisi kimia yang berpotensi menyebabkan oksidasi dan bersifat pro-inflamasi atau memicu proses peradangan di dalam tubuh.
Berdasarkan data yang dihimpun Mistar melalui IDAI, Provinsi Riau mencatat 10.783 kasus ISPA pada Agustus hingga September. Kasus tersebut didominasi anak berusia 0–9 tahun.
Sementara itu, Rumah Sakit Bhayangkara Pontianak mencatat peningkatan kasus ISPA dan pneumonia sekitar 10 hingga 20 persen sejak karhutla terjadi di Kalimantan Barat.
Di Kalimantan Selatan, tercatat 524 laporan kasus pneumonia.
Data tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang lebih rentan terhadap paparan asap dan polusi udara. (*)









































