Monday, September 28, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Kandungan Protein Jamur Bisa Kalahkan Beras dan Gandum, BRIN Ungkap Potensinya

Mistar.idSenin, 28 September 2026 pukul 09.06 WIB
kandungan_protein_jamur_bisa_kalahkan_beras_dan_gandum_brin_ungkap_potensinya

Ilustrasi berbagai jenis jamur (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Jamur selama ini lebih dikenal sebagai bahan makanan yang mudah diolah. Namun, komoditas pangan tersebut ternyata memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dan berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional hingga bahan baku obat.

Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Saskiawa, mengungkapkan potensi tersebut dalam siniar Kelas Periset BRIN yang berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno, Cibinong.

Menurut Iwan, dunia memiliki sekitar 10.000 jenis jamur. Meski demikian, hanya sebagian kecil yang diketahui aman dan dapat dikonsumsi manusia.

Ia menjelaskan, jamur pangan makroskopis tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat menghasilkan makanan melalui fotosintesis seperti tumbuhan. Jamur memanfaatkan enzim untuk memecah material kompleks di lingkungan menjadi zat yang lebih sederhana sehingga dapat digunakan untuk pertumbuhan.

Protein Jamur Lebih Tinggi dari Beras

Salah satu keunggulan jamur yang menarik perhatian adalah kandungan proteinnya. Berdasarkan data yang dipaparkan Iwan, kadar protein rata-rata jamur pangan berada pada kisaran 19 hingga 35 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kandungan protein beras yang berada di sekitar 7,38 persen dan gandum sekitar 13,2 persen.

Selain protein, jamur juga memiliki sembilan jenis asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Kandungan lemaknya pun didominasi lemak tidak jenuh, dengan proporsi sekitar 72 persen dari total lemak.

Jamur juga mengandung berbagai vitamin dan mineral. Beberapa di antaranya adalah vitamin B1, B2, niasin, biotin, serta mineral seperti kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, dan tembaga.

Kandungan seratnya juga cukup tinggi, yakni sekitar 7,4 hingga 24,6 persen. Dengan kandungan kalori yang relatif rendah, jamur dapat menjadi salah satu pilihan bahan pangan yang kaya serat.

Jamur Tiram Punya Senyawa Pleuran

Salah satu jenis jamur yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jamur tiram atau Pleurotus sp..

Jamur tersebut memiliki kandungan protein sekitar 19 hingga 30 persen serta karbohidrat sekitar 50 hingga 60 persen. Jamur tiram juga mengandung sejumlah vitamin B dan C serta berbagai mineral yang dibutuhkan tubuh.

Yang tidak kalah menarik adalah keberadaan pleuran, yaitu senyawa polisakarida yang terdapat pada jamur tiram dan diketahui memiliki aktivitas antioksidan.

Kandungan tersebut menjadi salah satu alasan jamur tiram berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional, yakni makanan yang tidak hanya memberikan zat gizi tetapi juga memiliki komponen bioaktif.

Indonesia Punya Banyak Potensi Jamur Lokal

Potensi jamur di Indonesia tidak terbatas pada jenis yang telah dibudidayakan secara komersial seperti jamur tiram dan jamur kuping.

Sejumlah jamur liar juga telah dikenal masyarakat di berbagai daerah. Di antaranya jamur bulan dari kelompok Termitomyces, jamur grigit atau Schizophyllum commune, serta jamur pelawan dari kelompok Heimioporus.

Keanekaragaman tersebut membuka peluang penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kandungan nutrisi maupun senyawa aktif yang dimiliki berbagai jenis jamur lokal.

Potensi jamur sebagai sumber pangan bernutrisi juga telah diterapkan dalam berbagai kegiatan di masyarakat. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan jamur tiram menjadi berbagai olahan makanan bergizi untuk membantu penanganan persoalan gizi pada balita.

BRIN Dorong Pengembangan Mushroom Science

Iwan menilai pemanfaatan jamur di Indonesia seharusnya tidak berhenti sebagai komoditas pangan. Keanekaragaman hayati Indonesia memberikan peluang untuk mengembangkan jamur menjadi sumber bahan baku berbagai produk bernilai tambah.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah bioprospeksi, yaitu eksplorasi sumber daya hayati untuk menemukan potensi baru yang dapat dikembangkan menjadi produk, teknologi, maupun manfaat ekonomi.

Karena itu, penguatan mushroom science atau ilmu pengetahuan mengenai jamur dinilai penting. Penelitian yang lebih mendalam diperlukan untuk menggali potensi jamur pangan, baik untuk kebutuhan pangan fungsional maupun pengembangan bahan baku obat.

Kolaborasi antara lembaga penelitian, pelaku budidaya jamur, industri pangan, dan sektor farmasi juga dapat menjadi bagian penting dalam mendorong hasil riset jamur hingga tahap hilirisasi.

Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan jamur bukan hanya sebagai makanan sehari-hari, tetapi juga sebagai sumber bahan pangan dan senyawa bioaktif bernilai tinggi.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN