UNS Kembangkan APD dan Penyaring Udara Portabel untuk Hadapi Dampak Karhutla

UNS buat inovasi APD dan filtrasi udara portabel untuk masyarakat terdampak karhutla. (Foto: UNS/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengembangkan dua perangkat untuk membantu melindungi petugas lapangan dan masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Inovasi tersebut meliputi alat pelindung diri (APD) khusus, serta perangkat penyaring udara portabel (portable air filter).
Kedua perangkat dirancang dengan menggabungkan teknologi perlindungan pernapasan, penyaringan partikel, dan sistem sirkulasi udara. Pengembangannya mengutamakan teknologi tepat guna dengan memanfaatkan bahan yang relatif mudah diperoleh, terjangkau, dan ramah lingkungan.
Inovasi ini dikembangkan tim riset lintas disiplin yang dipimpin Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Fakultas Kedokteran UNS, Dr. Darmawan Ismail, dr., Sp.BTKV. Rancangan perangkat tersebut terinspirasi dari mekanisme perlindungan alami sistem pernapasan manusia dan hewan dalam menghadapi partikel berbahaya.
Perangkat APD yang dirancang tim UNS berfokus pada perlindungan mata dan saluran pernapasan, dua bagian tubuh yang berisiko terpapar langsung kabut asap akibat karhutla.
Darmawan menjelaskan, perlindungan mata menggunakan face shield, sedangkan sistem pernapasan didukung mekanisme penyaringan berlapis untuk menangkap partikel kecil di udara.
Penjelasan itu disampaikan Darmawan di sela pelepasan tim relawan di kawasan Gedung dr. Prakosa, Kantor Pusat UNS, sebagaimana dikutip dari laman resmi UNS, Rabu (28/10/2026).
Untuk meningkatkan kemampuan penyaringan, tim memanfaatkan spons dengan struktur anyaman khusus. Desain tersebut membuat aliran udara melewati jalur yang berkelok, sehingga peluang partikel tertahan di dalam media penyaring dapat meningkat.
Selain itu, tim menggunakan gel berbahan dasar deterjen yang memanfaatkan prinsip adhesi dan kohesi untuk membantu mengikat partikel debu halus.
Sistem sirkulasi udara pada perangkat ini juga dilengkapi kipas mikro bertenaga baterai. Komponen tersebut berfungsi membantu memasok udara yang telah melewati penyaringan sekaligus mendukung pembuangan udara ekshalasi atau udara yang diembuskan pengguna.
Teknologi ini merupakan pengembangan dari konsep yang sebelumnya dirancang pada masa pandemi COVID-19. Setelah dimodifikasi, perangkat diarahkan untuk mendukung kebutuhan petugas pemadam kebakaran, relawan, dan aparat kepolisian yang bertugas menangani karhutla.
Selain APD, UNS mengembangkan alat filtrasi udara portabel yang dirakit menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan, seperti botol plastik bekas, spons, kasa medis, filter pendingin udara (AC), selang elastis, dan masker.
Perangkat ini memiliki tiga bagian utama, yakni kolektor udara, selang penyalur, dan masker. Udara yang masuk akan melewati media penyaringan terlebih dahulu sebelum dialirkan kepada pengguna.
Untuk mencegah udara yang telah diembuskan masuk kembali ke sistem penyaringan, perangkat dilengkapi katup satu arah (one-way valve). Tabung penyaring juga dapat ditambahkan ruang berisi es untuk membantu menghasilkan aliran udara yang terasa lebih sejuk ketika digunakan di lingkungan panas.
Penggunaan material sederhana menjadi bagian dari konsep teknologi tepat guna yang diusung tim peneliti. Dengan rancangan tersebut, proses perakitan ditargetkan dapat dilakukan masyarakat setempat dalam waktu kurang dari 30 menit.
UNS juga menargetkan perakitan dan penyaluran sekitar 100 unit alat filtrasi udara di setiap wilayah sasaran. Upaya ini akan didukung melalui lokakarya agar warga dan relawan lokal dapat mempelajari proses perakitan serta mereplikasi perangkat secara mandiri.
Melalui kedua inovasi tersebut, UNS berupaya menghadirkan alternatif perlindungan bagi masyarakat dan petugas yang menghadapi paparan asap karhutla. Pengembangan dan pemanfaatan perangkat tetap perlu disertai pengujian kinerja penyaringan serta evaluasi keselamatan agar perlindungan yang diberikan sesuai dengan kondisi penggunaan di lapangan.













































