Wednesday, October 28, 2026
home_banner_first
HIBURAN

The Eyes of Ghana: Kisah Kamerawan 93 Tahun Selamatkan Ribuan Arsip Sejarah Afrika, IShowSpeed dan Obama Terlibat

Mistar.idRabu, 28 Oktober 2026 pukul 21.14 WIB
the_eyes_of_ghana_kisah_kamerawan_93_tahun_selamatkan_ribuan_arsip_sejarah_afrika_ishowspeed_dan_obama_terlibat

The Eyes of Ghana: Kisah Kamerawan 93 Tahun Selamatkan Ribuan Arsip Sejarah Afrika, IShowSpeed dan Obama Terlibat. (foto ilustrasi:uscannenbergmedia/coastfilmfestival/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (28/10/2026) — Film dokumenter The Eyes of Ghana mengangkat perjuangan Chris Hesse menyelamatkan lebih dari 1.300 gulungan film bersejarah Ghana. Karya Ben Proudfoot ini turut melibatkan IShowSpeed serta Barack dan Michelle Obama sebagai produser.

Film dokumenter The Eyes of Ghana menyoroti perjuangan seorang kamerawan berusia 93 tahun menyelamatkan rekaman sejarah yang nyaris terlupakan. Film garapan sutradara pemenang Oscar, Ben Proudfoot, ini mengikuti Chris Tsui Hesse dalam upayanya memulihkan lebih dari 1.300 gulungan film yang merekam perjalanan Ghana dan perjuangan kemerdekaan Afrika.

Film ini dijadwalkan tayang khusus di bioskop Amerika Serikat dan Kanada pada 28 Oktober 2026. Perhatian terhadap dokumenter tersebut turut didorong keterlibatan kreator konten IShowSpeed sebagai produser serta Barack dan Michelle Obama sebagai produser eksekutif melalui Higher Ground Productions.

Lebih dari sekadar biografi, The Eyes of Ghana mengangkat persoalan pelestarian arsip, identitas nasional, dan pentingnya menjaga sejarah agar tidak hilang ditelan waktu.

Sinopsis The Eyes of Ghana: Misi Menyelamatkan Sejarah Afrika

The Eyes of Ghana mengikuti perjalanan Chris Hesse, sinematografer veteran yang pernah menjadi juru kamera pribadi Kwame Nkrumah, presiden pertama Ghana.

Melalui kameranya, Hesse merekam berbagai peristiwa penting pada era 1950-an dan 1960-an, ketika Ghana dan negara-negara Afrika lainnya berjuang melepaskan diri dari kolonialisme.

Setelah Nkrumah digulingkan melalui kudeta militer pada 1966, banyak rekaman sejarah tersebut dianggap telah hilang. Namun, sebagian negatif film ternyata masih tersimpan di London dan berpeluang dipulihkan.

Dalam usia 93 tahun, Hesse berusaha menyelamatkan arsip tersebut ketika penglihatannya semakin memburuk. Ia dibantu sineas muda Anita Afonu untuk mengembalikan rekaman bersejarah itu kepada masyarakat dan generasi pembuat film berikutnya.

Dokumenter ini juga menyoroti Rex Cinema, bioskop bersejarah di Accra yang menghadapi ancaman kerusakan dan pembangunan. Kisah tersebut memperluas pesan film tentang pentingnya menjaga warisan budaya, bukan hanya berupa rekaman, tetapi juga ruang yang menjadi bagian dari sejarah sinema.

Siapa Sutradara dan Tokoh dalam The Eyes of Ghana?

Ben Proudfoot menyutradarai The Eyes of Ghana. Pembuat film dokumenter yang telah dua kali memenangkan Academy Award ini mengangkat kisah Hesse sebagai penghubung antara sejarah masa lalu dan generasi sineas masa kini.

Tokoh utamanya adalah Chris Tsui Hesse, yang tampil sebagai dirinya sendiri. Anita Afonu turut hadir sebagai sineas yang membantu penyelamatan arsip, sedangkan Edmund Addo berkaitan dengan kisah pelestarian Rex Cinema.

IShowSpeed, yang bernama asli Darren Watkins Jr., terlibat sebagai produser. Sementara itu, Barack dan Michelle Obama menjadi produser eksekutif melalui perusahaan produksi Higher Ground Productions.

Karena merupakan film dokumenter, nama-nama tersebut tidak seluruhnya berstatus pemeran seperti dalam film fiksi. Sebagian merupakan tokoh nyata yang tampil di layar, sedangkan lainnya berperan di balik produksi.

Respons Kritikus: Kuat dalam Sejarah, tetapi Tak Lepas dari Kritik

Respons kritikus terhadap The Eyes of Ghana cenderung positif, terutama terhadap nilai sejarah dan sosok Chris Hesse.

Di Rotten Tomatoes, film ini tercatat memperoleh skor Tomatometer 94 persen dari 17 ulasan kritikus saat riset dilakukan pada 28 Oktober 2026. Skor tersebut menunjukkan mayoritas ulasan yang masuk dikategorikan positif, tetapi bukan nilai rata-rata penonton.

Christian Zilko dari IndieWire memberikan nilai B dan menyoroti daya tarik Hesse serta kekuatan rekaman arsip yang dipulihkan. Wendy Ide dari Screen International juga mengapresiasi hubungan antargenerasi yang ditampilkan melalui kolaborasi Hesse dengan sineas muda.

Meski demikian, sejumlah ulasan memberikan catatan terhadap pendekatan penceritaan yang dinilai konvensional atau belum sepenuhnya efektif. Kritik tersebut menunjukkan bahwa kekuatan materi sejarah tidak selalu diikuti eksekusi dokumenter yang sempurna.

Film ini juga meraih penghargaan pilihan penonton untuk dokumenter di Hamptons International Film Festival 2025 dan Annapolis Film Festival 2026. Penghargaan tersebut menjadi indikasi penerimaan positif di lingkungan festival, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa film ini telah menjadi fenomena di kalangan penonton umum.

Fakta Menarik The Eyes of Ghana

Salah satu daya tarik utama film ini adalah keberadaan lebih dari 1.300 gulungan film yang menyimpan rekaman sejarah Ghana. Sebagian materi yang dipulihkan menampilkan peristiwa penting, termasuk pidato Kwame Nkrumah di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menurut Screen International, sekitar 15 menit rekaman arsip yang dipulihkan ditampilkan dalam dokumenter. Proses restorasi sendiri masih menjadi bagian dari upaya pelestarian yang lebih luas.

Keterlibatan IShowSpeed juga menghadirkan dimensi berbeda. Kehadiran kreator digital populer berpotensi memperkenalkan sejarah Afrika kepada audiens muda yang sebelumnya tidak banyak mengikuti film dokumenter sejarah.

Sementara itu, dukungan Barack dan Michelle Obama memperluas perhatian terhadap proyek ini. Namun, daya tarik para produser bukan satu-satunya ukuran kualitas film; nilai utamanya tetap terletak pada kisah Hesse dan pentingnya arsip yang ia perjuangkan.

Mengapa The Eyes of Ghana Penting?

The Eyes of Ghana memperlihatkan bahwa arsip film bukan sekadar benda lama yang disimpan di ruang penyimpanan. Rekaman audiovisual dapat menjadi sumber sejarah yang membantu masyarakat memahami perubahan politik, kehidupan sosial, dan perjuangan kemerdekaan.

Film ini juga mengangkat pertanyaan tentang siapa yang menyimpan, mengelola, dan memperoleh akses terhadap rekaman sejarah suatu bangsa. Dalam konteks tersebut, restorasi dan digitalisasi bukan hanya pekerjaan teknis, melainkan bagian dari pelestarian identitas budaya.

Pada akhirnya, kisah Chris Hesse menjadi pengingat bahwa sejarah dapat hilang ketika bukti-buktinya tidak dirawat. Melalui The Eyes of Ghana, perjuangan seorang kamerawan untuk menyelamatkan rekaman masa lalu menjadi cerita tentang bagaimana sebuah bangsa mempertahankan ingatan kolektifnya.

Film ini dijadwalkan tayang khusus di bioskop Amerika Serikat dan Kanada pada 28 Oktober 2026. Jadwal penayangan di Indonesia dan ketersediaan di layanan streaming belum terkonfirmasi dalam sumber yang diperiksa.

(theeyesofghana/rottentomatoes/screeninternational/broadwayworld/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN