Wednesday, October 28, 2026
home_banner_first
SUMUT

Direktur: Fasilitas RSUD Porsea Tipe C Mampu Saingi Rumah Sakit Tipe B

Mistar.idRabu, 28 Oktober 2026 pukul 13.26 WIB
direktur_fasilitas_rsud_porsea_tipe_c_mampu_saingi_rumah_sakit_tipe_b_

Direktur RSUD Porsea, Dintar Hutabalian. (Foto: Dok.Mistar)

Toba, MISTAR.ID (28/10/2026) — Masyarakat Kabupaten Toba patut berbangga dengan fasilitas pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Porsea. Meski berstatus tipe C, pelayanan rumah sakit tersebut sudah mampu menyamai rumah sakit tipe B sehingga pasien tidak harus dirujuk ke luar daerah.

Direktur RSUD Porsea, Dintar Hutabalian, mengatakan meski masih tipe C, RSUD Porsea memiliki beberapa fasilitas kesehatan yang tidak dimiliki rumah sakit tipe B.

"Intinya, meskipun tipenya lebih rendah, kami masih memiliki keunggulan dibandingkan tipe di atasnya," ujar Dintar, Rabu (28/10/2026).

Ia mencontohkan RSUD Tarutung, Tapanuli Utara, yang bertipe B dan memiliki pelayanan kesehatan lebih banyak. Namun, ada beberapa fasilitas yang tidak dimiliki RSUD Tarutung, tetapi ada di RSUD Porsea, padahal tipenya lebih tinggi.

RSUD Porsea sudah memiliki pelayanan ortopedi untuk pasien kecelakaan dengan patah tulang dan pelayanan gigi. Untuk layanan Catheterization Laboratory atau laboratorium kateterisasi (Cathlab) dan Hemodialysis Catheter (HD Cath) untuk cuci darah, saat ini dalam pembangunan dan direncanakan akan diluncurkan awal Januari 2027.

"Selain itu, kita juga sedang melaksanakan pembangunan gedung rawat inap bagi pasien jiwa dan dua pembangunan renovasi gedung ICU anak dari kementerian. Dengan fasilitas yang akan beroperasi di awal tahun 2027, kita sudah dapat bersaing dengan RSUD Kabupaten Tapanuli Utara," ujarnya.

Menurut Dintar, ketersediaan fasilitas kesehatan di RSUD Porsea merupakan upaya pemenuhan jaminan kesehatan bagi masyarakat agar rumah sakit tersebut menjadi tujuan pertama masyarakat Toba dalam memperoleh pelayanan kesehatan.

Ia menambahkan, tugas berat yang masih perlu dibenahi adalah ketersediaan dokter spesialis dan sikap perawat yang harus lebih empati terhadap pasien.

"Tinggal tugas yang cukup berat dalam pembenahan dokter spesialis, lalu perawat harus lebih empati terhadap pasien sehingga dapat merasakan apa yang dirasakan pasien. Untuk itu, yang bisa sensitif terhadap pasien hanya pasien dan keluarga, sebab mereka datang berobat membawa beban," tuturnya.

"Artinya, ketika pasien dan keluarga dalam kekalutan, sebagian perawat harus mampu meredam amarah dan kekalutan mereka, bukan malah terbawa emosi. Intinya, maklumi keadaan mereka dan jangan diambil hati," ujarnya. (hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN