Wednesday, October 28, 2026
home_banner_first
SUMUT

Video Polemik Kafe di Sihaporas Nauli Viral, Pedagang Mengaku Penjualan Menurun

Mistar.idRabu, 28 Oktober 2026 pukul 17.49 WIB
video_polemik_kafe_di_sihaporas_nauli_viral_pedagang_mengaku_penjualan_menurun

Warga Sihaporas Nauli menyampaikan keluhan di salah satu warung yang menjadi sorotan di media sosial. (Foto: Syaiful/MISTAR)

Tapteng, MISTAR.ID – Sejumlah warga Kelurahan Sihaporas Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), menyampaikan keberatan atas beredarnya video perselisihan terkait keberadaan sejumlah kafe di lingkungan mereka.

Warga menilai, polemik yang mencuat di media sosial tersebut berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan dari ramainya pengunjung di kawasan itu.

Megawati Purba (38), warga setempat, mengungkapkan bahwa aktivitas berjualan yang sebelumnya cukup ramai kini mulai sepi setelah video tersebut beredar. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak langsung terhadap pendapatan warga yang sehari-hari berjualan makanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Sejak video itu beredar, kami yang berjualan di sini merasakan dampaknya. Dagangan makanan kami ikut terkena imbas karena suasana menjadi lebih sepi. Padahal, kami hanya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar Megawati saat dikonfirmasi MISTAR, Selasa (27/10/2026) malam.

Menurut Megawati, keberadaan kafe-kafe di kawasan tersebut selama ini turut menggerakkan perekonomian warga setempat. Ramainya pengunjung menjadi peluang bagi masyarakat sekitar untuk membuka usaha kuliner, mulai dari menjual sate, ayam penyet, hingga berbagai jenis makanan lainnya.

Ia juga mempertanyakan alasan keberatan terhadap keberadaan kafe yang baru mencuat setelah kawasan tersebut berkembang menjadi tempat usaha dan aktivitas masyarakat.

“Kalau memang sejak awal keberadaan kafe dianggap bermasalah, seharusnya hal itu dibicarakan baik-baik. Mengapa baru sekarang dipersoalkan, sementara masyarakat di sini sudah lama beraktivitas dan mencari nafkah?” katanya.

Megawati menegaskan bahwa warga tidak serta-merta membiarkan seluruh aktivitas kafe berjalan tanpa pengawasan. Menurutnya, masyarakat tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan akan menyampaikan teguran apabila ditemukan aktivitas yang dinilai tidak sesuai dengan norma atau mengganggu ketertiban.

Hal senada disampaikan Irma (38), warga lainnya. Ia mengaku tidak keberatan dengan keberadaan kafe-kafe tersebut selama aktivitasnya berlangsung tertib dan tidak mengganggu masyarakat sekitar.

“Kami sebenarnya tidak keberatan dengan keberadaan kafe-kafe itu. Kami tidak merasa terganggu. Justru banyak warga yang mendapat keuntungan karena dagangan mereka menjadi lebih laris,” ujar Irma.

Ia menyebutkan, keberadaan tempat usaha tersebut telah membuka peluang ekonomi bagi masyarakat kecil. Bagi para pedagang, keramaian bukan sekadar suasana yang menyenangkan, melainkan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Di sini ada yang berjualan sate, ayam penyet, dan berbagai makanan lainnya. Bahkan, ada juga pedagang yang datang dari Sibolga untuk berjualan di sini. Artinya, kawasan ini memberikan peluang bagi siapa saja yang ingin mencari rezeki secara halal,” ujarnya.

Bagi masyarakat Sihaporas Nauli, persoalan keberadaan kafe bukan hanya menyangkut perbedaan pendapat, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan ekonomi warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan di sekitarnya.

Karena itu, warga berharap polemik yang berkembang tidak serta-merta menimbulkan penilaian negatif terhadap seluruh kafe maupun masyarakat di lingkungan tersebut. Mereka berharap persoalan ini dapat dibicarakan dan diselesaikan secara baik-baik dengan tetap memperhatikan ketertiban lingkungan serta mata pencaharian warga.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN