Anggaran Obat Rp11,5 Miliar, Stok Anestesi RSUD Batu Bara Kosong

Ruang tunggu RSUD H OK Arya Zulkarnain, Kabupaten Batu Bara. (Foto: IWO Batu Bara/MISTAR)
Batu Bara, MISTAR.ID – Anggota DPRD Batu Bara, Rusli, menyoroti kekosongan obat anestesi di RSUD H OK Arya Zulkarnain, Kabupaten Batu Bara. Kondisi tersebut menjadi sorotan setelah seorang pasien gagal menjalani operasi meski telah berpuasa dan mengenakan pakaian operasi.
Politisi PDI Perjuangan itu juga mengungkapkan adanya anggaran pengadaan obat-obatan sebesar Rp11,5 miliar untuk RSUD H OK Arya Zulkarnain.
“Anggaran pengadaan obat-obatan mencapai Rp11,5 miliar, kenapa sampai obat anestesi habis? Bagaimana bila saat itu ada pasien kritis yang harus menjalani operasi? Apa tidak fatal akibatnya?” kata Rusli, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, kekosongan obat-obatan di rumah sakit bukan persoalan sepele, terlebih RSUD tersebut telah ditetapkan sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) oleh Bupati Batu Bara saat itu, Zahir, pada 19 Desember 2022, dengan penerapan mulai 2023.
“Kondisi stok obat kosong sangat berbahaya, terlebih saat ada pasien kritis,” ujar Rusli yang akrab disapa Acep.
Sorotan serupa disampaikan Wakil Ketua DPRD Batu Bara, Tengku Rodial. Ia menyayangkan kondisi manajemen rumah sakit yang dinilainya bermasalah.
“Masa obat anestesi bisa tidak ada?” ujarnya.
Ketua Pengurus Daerah Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Batu Bara, Darmansyah, juga menilai kekosongan obat anestesi tersebut tidak boleh dianggap sepele.
Ia mengatakan, organisasinya akan mengirimkan surat permohonan Rapat Dengar Pendapat (RDP) kepada DPRD Batu Bara untuk meminta penjelasan mengenai mekanisme pengadaan obat-obatan di rumah sakit tersebut.
“Organisasi kita akan mengirimkan surat permintaan Rapat Dengar Pendapat ke DPRD Batu Bara. Kita akan pertanyakan bagaimana mekanisme pengadaan obat-obatan di RSUD,” kata Darmansyah.
Sebelumnya, seorang pasien bernama Suhartono gagal menjalani operasi kelenjar karena obat anestesi disebut tidak tersedia. Padahal, ia telah diminta berpuasa dan sudah mengenakan pakaian operasi sebelum akhirnya mengetahui bahwa tindakan medis tersebut tidak dapat dilaksanakan.
Suhartono mengaku kecewa dan mengalami trauma setelah mengetahui operasi yang dijadwalkan tidak dapat dilakukan akibat ketiadaan obat anestesi.
Kekosongan obat tersebut kini menjadi sorotan sejumlah pihak. Mereka meminta pihak rumah sakit memberikan penjelasan terkait ketersediaan obat-obatan dan mekanisme pengadaannya, terutama untuk menunjang pelayanan medis bagi pasien yang membutuhkan tindakan operasi.













































