Di Balik Megahnya Bendungan Lau Simeme, Ada Desa yang Tenggelam dan Harapan Baru dari Wisata Lokal

Bendungan Lau Simeme. (Foto: Matius/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Jika dilihat dari kejauhan, hamparan air di Bendungan Lau Simeme yang terletak di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utaratampak begitu memesona. Airnya membentang luas, dikelilingi perbukitan hijau yang seolah memeluk permukaannya.
Pemandangan itu membuat siapa pun yang datang ingin berhenti sejenak, menikmati ketenangan, sekaligus mengabadikannya dalam bidikan kamera. Tak heran, sejak pengisian awal bendungan pada 17 September 2026 lalu, kawasan bendungan mulai ramai dikunjungi masyarakat. Terlebih pada akhir pekan, kendaraan pengunjung memadati kawasan tersebut.
Sejumlah warung sederhana bermunculan di tepi jalan, menawarkan makanan ringan dan minuman bagi mereka yang ingin menikmati pemandangan di sana. Namun, di balik panorama itu, tersimpan cerita tentang sebuah desa yang perlahan hilang dari permukaan bumi.
Konon, di dasar hamparan air itu pernah berdiri rumah-rumah warga, kantor desa, serta ladang-ladang tempat masyarakat menggantungkan hidup. Di tempat itulah berbagai aktivitas masyarakat berlangsung, yang hingga kini masih teringat jelas dalam ingatan para penghuninya.
Kini, semuanya berada di dasar bendungan, tenggelam bersama kenangan tentang kehidupan yang dahulu berlangsung di sana. Desa itu bernama Kuala Dekah, yang diartikan sebagai desa tua atau desa lama.
Bagi sebagian pengunjung, terutama mereka yang datang dari luar Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan, Bendungan Lau Simeme mungkin hanya menawarkan pemandangan indah dan udara yang menyejukkan. Namun, bagi warga Kuala Dekah, hamparan air tersebut menyimpan cerita tentang perpindahan, ganti rugi, kehilangan ruang hidup, sekaligus harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.
Kepala Desa Kuala Dekah, Komando Ginting, masih mengingat jelas bagaimana wilayah yang dahulu menjadi tempat tinggal masyarakatnya berubah menjadi kawasan genangan air seperti yang terlihat saat ini.
Pembangunan bendungan yang telah direncanakan sejak dekade 1990-an itu mulai memasuki tahap konstruksi fisik pada 2017. Proyek strategis nasional tersebut kemudian diresmikan pada Oktober 2024.
Seiring dengan berlangsungnya pembangunan, warga yang bermukim di kawasan terdampak harus meninggalkan rumah dan lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Perpindahan itu mulai terasa setelah mereka menerima ganti rugi dari pemerintah.
Akibatnya, masyarakat yang dahulu tinggal di kawasan tersebut berpindah ke sejumlah dusun yang tidak terdampak genangan, di antaranya Dusun I, Dusun II, dan Dusun IV.
“Jadi, setelah pemerintah melakukan ganti rugi, masyarakat yang ada di sana menyebar. Ada yang ke Dusun IV, ada yang ke Dusun I, dan ada yang ke Dusun II,” ujar Komando saat ditemui Mistar belum lama ini.
Bagi masyarakat sekitar, perpindahan tersebut bukan sekadar memindahkan bangunan atau mencari tempat tinggal baru. Bagi warga yang telah lama hidup di Kuala Dekah, perubahan itu berarti meninggalkan lingkungan yang menyimpan hubungan sosial, kenangan keluarga, dan sumber penghidupan.
Komando menyebutkan, wilayah yang kini tergenang mencakup permukiman di Desa Kuala Dekah dan kawasan Sari Laba. Di Dusun III Kuala Dekah, dahulu terdapat sekitar 17 rumah warga. Sementara itu, di Dusun I terdapat kantor desa beserta kantor kepala desa dan empat rumah penduduk.
Tidak hanya rumah dan bangunan pemerintahan yang hilang dari pandangan. Lahan pertanian yang dahulu menjadi tempat masyarakat menanam jagung dan mengusahakan berbagai komoditas juga ikut terendam. Kini, di bawah permukaan air yang terlihat tenang itu, terdapat jejak kehidupan masyarakat yang pernah tumbuh dan berkembang. Bahkan, kantor Desa Kuala Dekah yang lama turut menjadi bagian dari sejarah yang kini tersimpan di dasar bendungan.
Komando mengenang, sebelum kantor tersebut benar-benar tenggelam, pemerintah desa bersama perangkat dan unsur terkait sempat mengadakan acara perpisahan. Bagi orang lain, kantor desa mungkin hanya sebuah bangunan administratif. Namun, bagi masyarakat setempat, tempat itu pernah menjadi pusat pelayanan sekaligus saksi perjalanan kehidupan desa, terangnya.
Sementara itu, kantor desa yang baru kini dibangun di kawasan yang lebih tinggi, tepatnya di samping Koperasi Desa Merah Putih. Menurut Komando Ginting, progres pembangunannya telah mencapai sekitar 80 persen.
Ganti Rugi dan Persoalan yang Belum Selesai di Masyarakat
Pembangunan Bendungan Lau Simeme diharapkan membawa manfaat bagi masyarakat luas. Bangunan yang menelan anggaran cukup besar ini difungsikan untuk pengendalian banjir, penyediaan air baku, dan pemanfaatan sumber daya air bagi masyarakat.
Namun, di balik manfaat tersebut, proses pembebasan lahan di tingkat warga yang terdampak langsung juga menyisakan persoalan. Kepala Desa Kuala Dekah, Komando Ginting, membenarkan hal itu. Ia mengatakan sebagian besar warga telah menerima uang ganti rugi. Sebagian di antaranya menggunakan uang tersebut untuk membeli rumah, kebun sawit, atau lahan pertanian di tempat lain.
Akan tetapi, sebagian warga tetap tinggal di sekitar Kuala Dekah, sementara sebagian lainnya membeli lahan hingga ke Biru-Biru dan Provinsi Riau untuk mengembangkan perkebunan. Meski demikian, tidak semua warga memiliki pandangan yang sama mengenai besaran ganti rugi yang diterima.
“Ada yang merasa jumlah ganti ruginya terlalu sedikit. Ada yang merasa jumlahnya sudah lebih dari cukup, ada juga yang merasa masih jauh dari cukup. Setiap orang punya pandangan berbeda,” kata Komando.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER













































